Latest News
Tuesday, May 28, 2019

Sania Nabila Afifah: Peningkatan Ketaqwaan Tak Lepas dari Peran Politik

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Tahun ini, pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan berbarengan dengan tahun Pemilu. Ramadhan di Indonesia berbeda dengan tahun sebelumnya. Situasi politik yang memanas membuat Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo meminta tidak ada politisasi masjid melalui ceramah keagamaan di bulan Ramadhan ini.

"Sampai dengan 22 Mei nanti, KPU masih melakukan rekapitulasi di masing-masing tingkatan. Jadi saya menghimbau kepada semua takmir masjid, tokoh agama, ulama supaya tidak mempolitisasi masjid melalui ceramah agama berisi ujaran kebencian. Ceramahnya saya harap berisi tentang Ramadhan saja," ujar Kusworo, Selasa (7/5/2019).

Imbauan itu sudah dia sampaikan kepada sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat melalui Rakor dengan sejumlah elemen di Mapolres Jember.

"Sebaiknya ceramahnya berisi ajaran untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, tanpa ada embel-embel politik," tegasnya.

Salah kaprah dalam memaknai politik.

Saat mayoritas umat Islam buta terhadap politik. Tak akan mampu membezakan, padahal sejatinya Allah memerintah-kan berpolitik, dari masa umat Islam sejak zaman Nabi dan Rasul hingga saat ini yang namanya syariat itu tetap berlaku. Bagaimana Islam memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Yang mana telah Allah firmankan di dalam surat ali Imran ayat 110.

Kesalahan dalam memaknai politik itu disebabkan umat saat ini sedang dalam pengaruh sistem demokrasi sekuler yang diterapkan dalam kehidupan. Yang memisahkan peran agama dalam kehidupan. Sehingga nilai-nilai agama disingkirkan dari aktivitas kehidupan. Politik hanya dipahami hanya sekedar pada aktivitas pemilu.

Sekularisasi Ramadhan

Selain itu, Kusworo juga menegaskan kembali tentang imbauan Pemkab Jember yang meminta tempat hiburan malam di Jember untuk ditutup.

Menurut Kusworo, restoran dan tempat makan tetap boleh beroperasi, namun dengan memasang tirai penutup di depan restoran dan warung makan tersebut.

Hal-hal yang ini lumrah terjadi dan menimpa kaum muslim. Yang mana hanya menjadikan agama hanya sebatas ibadah ritual dan agama hanya bisa mengatur kehidupan pada saat tertentu saja. Dikala ramadhan fenomena seperti di atas sudah biasa. Disebabkan jauhnya pemahaman Islam di tengah-tengah umat Islam. 


Memaknai Politik Islam 

Adapun terkait makna politik (siyasah) disebutkan dalam kamus Al-Muhit bahwa As-Siyasatan (politik) berasal dari: Sasa-Yasusu-Siyasatan bi ma’na ra’iyatan (pengurusan). Al-Jauhari berkata: melarang kepadanya atas sesuatu dengan sejumlah perintah dan melarang kepadanya atas segala sesuatu dengan jumlah perintah dan larangan. Wa as-siyasah maksudnya: al-qiyamu ‘ala syaiin bima yashluhuhu siyasah/politik adalah sesuatu yang memberikan mashlahat kepadanya (lisanul arab, ibn Mandzur), dengan demikian, politik/siyasah bermakna mengurusi urusan berdasarkan suatu aturan tertentu yang tentu berupa perintah dan larangan.

Rasulullah saw menggunakan kata siyasah (politik) dalam sabdanya; “Adalah Bani Israil, urusan mereka diatur (tasusuhum) oleh para Nabi. Setiap seorang Nabi wafat, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku, dan akan ada para khalifah yang banyak (HR.Bukhari).


Peran politik dalam kehidupan

Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki metode kehidupan yang unik berbeda dengan agama yang lain. Dari segi wilayah ajarannya, Islam bukan hanya agama yang mengurusi atau mengatur ruhiyah saja (spiritual), namun juga masalah politik (siyasah). Dengan kata lain, Islam adalah ibadah ruhiyah dan politik. Islam mengatur masalah yang berhubungan dengan akhirat seperti surga-neraka, pahala-siksa, ibadah (sholat, puasa, haji, zakat dll); sekaligus mengatur masalah urusan duniawi seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan, hukuman, dan sebagainya. Keyakinan seorang muslim haruslah meliputi kedua aspek tersebut secara keseluruhan (kaffah). Karena Islam mencangkup urusan aqidah dan syariah yang harus dijalankan oleh setiap individu yang telah mengikrarkan kalimat syahadat.

Terkait dengan ceramah yang berisi dengan seruan takwa di dalam al-quran sendiri bukan hanya sebatas takwa pada individu saja, tetapi ketaatan yang membutuhkan peran negara dalam menerapkan Islam secara kaffah. Jika makna politik dalam Islam ini diterapkan dalam kehidupan maka insya Allah akan menjadikan masyarakat yang bertakwa. Dan akan menjadikan umat yang mulia hal ini sangat dibutuhkan terutama pada saat ini.

Sebab Islam mewajibkan kita masuk Islam secara kaffah sebagaimana firman Allah; “Wahai orang-orang beriman masuk lah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu (al- Baqarah 208).

Agar menjadi manusia yang totalitas takwa. Perlu dipahami bahwa tak hanya puasa yang bisa menjadikan takwa tetapi Ibadah yakni totalitas menghamba kepada Allah SWT, dengan melaksana kan seluruh syariah Islam, semua itulah yang mengantarkan kita meraih derajad takwa.

“Hai manusia, beribadah lah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” (TQS: al-Baqarah 21).Wallahu a’lam bi as-shawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sania Nabila Afifah: Peningkatan Ketaqwaan Tak Lepas dari Peran Politik Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com