Latest News
Sunday, June 30, 2019

Desi Wulan Sari, S.E, M.Si: Keluarga Berencana, Keluarga Idaman Umat

Desi Wulan Sari, S. E,  M. Si
RADARIINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Mungkin terngiang dalam telinga kita, slogan yang selalu di dengungkan penerintah Indonesia saat pertama program andalan keluarga mulai diperkenalkan,  yaitu Kelurga Berencana (KB). Pada Oktober 1968, LKBN (Lembaga Keluarga Berencana Nasional) resmi didirikan. Mulai awal 1990-an hingga sekarang, program KB terus dikembangkan dan mulai mendapat respon dari masyarakat terkait perencanaan keluarga khususnya pembatasan dalam memilki anak / keturunan. Akan tetapi dalam tulisan ini bukan mengangkat bahasan program keluarga berencana versi konvensional melainkan program keluarga berencana dengan pandangan yang lebih spektakuler dan penuh keridhoan dari sang Illahi.

Dilihat dari definisi keluarga, Sebuah keluarga terdiri dari suami, istri, anak dan anggota keluarga lainnya yang masih terikat hubungan darah atau nasab serta hubungan pernikahan. Layaknya keluarga tentu memiliki fungsi dan peran bagi keluarga. Secara umum fungsi yang dijalankan keluarga adalah:

1. Fungsi Pendidikan. 2. Fungsi Sosialisasi. 3. Fungsi Perlindungan. 4. Fungsi Perasaan. 5. Fungsi Agama. 6. Fungsi Ekonomi. 7. Fungsi Rekreatif. 8. Fungsi Biologis.9. Memberikan kasih sayang pada seluruh anggota keluarga (affection).

Problematika Keluarga Masa Kini

Gambaran umum keluarga harmonis ,lengkap dan peran anggota keluarga yang berjalan dengan baik merupakan impian setiap keluarga. Mereka ingin mewujudkan gambaran tersebut saat mereka mulai membina sebuah rumah tangga dalam pernikahan.

Namun, beberapa Kasus yang kita lihat saat ini, banyak keluarga yang mengajukan perceraian akibat berbagai macam sebab seperti,  tindakan kekerasan (KDRT), penyimpangan perilaku (LGBT), perselingkuhan (Zina),  dan problem keluarga yang bersifat kriminal ataupun psikologis. Akibat dari permasalahan yang ditimbulkan adalah dampak buruk secara fisik, psikologis, mental dan spiritual terhadap istri, suami, bahkan anak, sebagai anggota terkecil dan terlemah dari keluarga.

Semua permasalahan keluarga tersebut bisa terjadi, karena dasar pernikahan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang telah ditetapkan. Pemikiran sekuler yang mempengaruhi umat saat ini sangat mendominasi dan tampak pada wujud perilaku dalam kehidupan berkeluarga.

Hancurnya potret keluarga sekuler saat ini memang dipicu dari berbagai faktor, antara lain:

a.  Faktor ekonomi. Saat ini tren persoalan ekonomi menjadi penyebab tingginya angka perceraian. Sebagian besar istri-istri menggugat suaminya. Karena kurangnya tanggung jawab (suami) dalam menafkahi anak dan istrinya.

b. Faktor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). kekerasan dalam rumah tangga tak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi termasuk psikis, seksual, dan ekonomi. Itu sebabnya banyak dari pihak perempuan/istri yang berani mengajukan gugatan cerai.

c. Faktor penyimpangan perilaku seksual. Perceraian dengan alasan seperti ini tentu saja bisa terjadi. Karena dengan adanya penyimpangan perilaku seks tersebut misal, homoseksual, yang sulit disembuhkan mengakibatkan tidak dapat dilaksanakannya kewajiban suami atau istri yang terjangkit kelainan ini.

d. Faktor perselingkuhan ( Zina). Perceraian karena faktor ini adalah yang paling rentan dalam sebuah keluarga. Karena perselingkuhan kerap mewarnai kehidupan sosial dan kemudian akan menciptakan kondisi keluarga yang tidak baik bagi anak-anak.

Rusaknya sebuah keluarga terjadi karena pondasi yang rapuh dan tidak terencana. Gambaran keluarga sekuler hari ini membuat hati semua orang akan metasa miris, sedih, kecewa bahkan ada yang putus asa untuk tidak melakukan sebuah pernikahan. Karena metasa khawatir akan momok keluarga saat ini, yang jauh dari sebuah kata keluarga idaman/ harmonis.

Dari berbagai permasalahan keluarga tersebut,  sebagian besar  tujuan pernikahn yang mereka lakukan hanyalah  sekadar melegalkan urusan syahwat atau status sosial, bukan dibangun untuk tujuan ibadah, membina keluarga sakinah, apalagi keluarga yang sukses dunia akhirat. Sejatinya kerusakan-kerusakan dalam pembentukan keluarga berlandaskan sistem sekuler tersebut dapat diatasi dengan kembali kepada syariat, yaitu aturan yang telah Allah tetapkan untuk manusia aebagai jalan keselamatan.

Keluarga Berencana (KB) Dalam Pandangan  Islam

Islam adalah agama yang mengatur segala sisi kehidupan dan senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Dalam Islam , keluarga memiliki sebuah arti penting dimana keluarga merupakan bagian dari masyarakat Islam. Dan dalam keluargalah seseorang belajar mengenal Islam sejak kecil. Sehingga penting sekali ketika seseorang memiliki rencana untuk membentuk sebuah keluarga yang dibentuk sesuai dengan syariat, yaitu:

Pertama, memiliki visi dan misi mencari keridhoan Allah bagi keluarga itu sendiri. Kedua, harus mengetahui dan mempelajari ilmu tentang pernikahan, dan pembinaan keluarga terhadap peran dan fungsi nasing-masing anggota keluarga.

Langkah-langkah penting yang harus dipersiapkan dalam sebuah pernikahan, tentunya harus dilakukan dengan matang.  Mulai dari pemilihan pasangan, tata cara pernikahan,  perencanaan memiliki anak, baik jumlah maupun kualitas anak yang akan dilahirkan, pendidikan anak-anak, pendidikan suami, dan pendidikan istri.

Tugas seorang kepala keluarga adalah merancang keluarga sakinah mawadah warahmah yang taat syariat, merupakan fokus utama dalam membentuk sebuah keluarga. Saling nasihat-menasihati dan mengingatkan antara anggota keluarga harus ditegakkan. Karena berbagai pelanggaran syariat dalam keluarga dapat terjadi akibat dorongan  berbagai kebutuhan atau faktor ketidaksabaran dalam membina rumah tangga. Maka dalam merencakan keluarga sakinah mawardah warahmah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sebuah keluarga antara lain:

1. Keluarga bebas dari riba yang marak ditawarkan berbagai pihak jasa keuangan sebagai jalan pintas solusi ekonomi rumah tangga.

2. Keluarga bebas dari tata pergaulan tidak Islami, seperti pacaran, ikhtilat dan khalwat.

3. Keluarga bebas dari budaya liberal yang kebarat-baratan yang penuh dengan kemudharatan,  tentunya tidak sesuai dengan ahlakul karimah keluarga muslim.

Adapun tahapan keluarga berencana dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Keluarga dibangun dengan pondasi pernikahan syar’i.
Keluarga dalam islam merupakan rumah tangga yang dibangun dari suatu pernikahan antara seorang pria dan wanita yang dilaksanakan sesuai syariat agama Islam yang memenuhi syarat pernikahan dan rukun nikah yang ada. Pernikahan juga awal membangun rumah tangga Islam dan keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Adapun hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs.Ar-Ruum : 21)

2. Keharmonisan dalam rumah tangga.
Memiliki keluarga yang harmonis dan sesuai dengan ajaran agama Islam adalah dambaan setiap muslim dan untuk mewujudkannya ada beberapa cara menjaga keharmonisan dalam rumah tangga tersebut. Keluarga sakinah, mawaddah warahmah yang berarti keluarga yang penuh kasih sayang, cinta dan ketentraman dibangun diatas nilai-nilai Islam dan berawal dari pernikahan yang hanya mengharap ridha Allah SWT. Dalam Alqur’an Allah SWt berfirman :
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Dan orang orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Alfurqan : 74)

Adapun peran keluarga dalam Islam antara lain:

1. Menanamkan ajaran Islam. Meskipun tidak semua muslim mendapatkan keislamannya dari keluarga yang melahirkannya, tetap saja keluarga adalah tempat pertama dimana seorang anak belajar tentang agama Islam. Dalam sebuah keluarga, suami istri yang menikah akan menjalankan dan membangun rumah tangga dengan ajaran agama Islam dan hal tersebut juga akan diajarkan pada anak-anaknya. Dari sebuah keluarga, seorang anak akan melihat bagaimana orangtuanya shalat, berpuasa, membaca alqur’an dan lain sebagainya.

2. Memberikan rasa tenang. Keluarga adalah orang terdekat bagi setiap manusia dan tempat mencurahkan segala isi hati maupun masalah. Keluarga juga merupakan tempat berkeluh kesah bagi setiap anggotanya karena hanya keluargalah yang ada dan senantiasa memberikan perhatian kepada setiap orang meskipun keadaan keluarga setiap orang berbeda-beda. Dalam Alqur’an sendiri disebutkan bahwa keluarga yang sakinah adalah keluarga yang dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan hati.

3. Menjaga dari siksa api neraka. QS At Tahrim ayat 6: bahwa seorang muslim harus menjaga dirinya dan keluarganya dari perbuatan dosa dan siksa api neraka. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ) - Hai orang-orang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari (kemungkinan siksaan) api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ( QS Altahrim : 6).

4. Menjaga kemuliaan dan wibawa manusia. Menjaga nama baik keluarga adalah tugas setiap manusia karena saat manusia berbuat kesalahan maka hal tersebut juga tidak hanya ditimpakan pada dirinya melainkan juga kepada keluarganya. Memiliki sebuah keluarga membuat seseorang bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya tetapi juga kepada keluarganya.

5. Melanjutkan keturunan dan memperoleh keberkahan. Salah satu tujuan pernikahan dan membentuk keluarga adalah untuk memiliki keturunan yang baik dan solih. Memiliki anak yang solih dan solihah adalah karunia dan berkah Allah SWT kepada setiap orangtua. Membangun sebuah rumah tangga dan keluarga pada dasarnya adalah jalan menuju keberkahan karena didalam keluarga ada orangtua dan ridha Allah SWT adalah juga merupakan ridha orangtua.

Sebagai catatan,  dalam melanjutkan keturunan dan memperoleh keberkahan, Keluarga Berencana (KB) dalam konsep Islam memiliki  tujuan mulia dalam melangsungkan kehidupan Islam dimasa depan.  Maka memiliki keturunan merupakan salah satu jalan dalam mewarisi Kemuliaan Islam.  Bukan soal jumlah anak, banyak atau sedikit melainkan hasil pembinaan anak-anak itu baik kualitasnya.  Jadi Islam tidak membatasi jumlah anak, tetapi merencanakan melahirkan anak-anak yang solih, menjadi generasi yang berguna bagi umat dan bangsa. Maka tidak akan terelakkan lagi, keluarga idaman sejati dapat diraih sesuai dengan yang Allah janjikan. Asalkan manusia mengikuti tata cara sesuai koridor dalam membentuk keluarga Islami. Dan hasilnya akan muncul sebuah keluarga idaman penerus umat  dari generasi ke generasi dengan akhlak mulia sebagai penjaga agama dan negara.

Wallahu a'lam bishawab.
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Desi Wulan Sari, S.E, M.Si: Keluarga Berencana, Keluarga Idaman Umat Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com