Latest News
Sunday, June 2, 2019

Didi Diah, S.Kom*: LOVE IS REALITY

Didi Diah, S.Kom 
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Dear Ayah...Masih ingat pertemuan kita di biskota, saat kau duduk di samping supir menemani rombongan kami untuk berangkat kajian tabligh akbar di Masjid At Tiin, Jakarta. Aaah...Ibu lupa kapan tepatnya. Itulah kali pertama kita berjumpa tanpa sengaja. 

Lelaki sederhana yang tak bertitel sarjana, sosok gagah berkulit putih tinggi semampai. Sepanjang perjalanan, tak henti kau membaca. Tak kau hiraukan puluhan wanita sholehah di belakangmu, namun ada satu yang sangat memperhatikanmu, yaaa...itulah aku. Ibu dari anak-anakmu. 

Dear Ayah... 
Hari tak menuntun asa, hilang di sepenggal jalan. Langit biru memayungi hati yang berirama.  Angin berhembus syahdu. Di kejauhan kulihat ia dengan senyum manisnya...yaa, aku melihatnya, di seberang jalan. Namun hanya dari kejauhan. Itu kali kedua kumelihatnya. 

Kututup rapat pesonanya, rasa yang membuncah hanya mampu kulontarkan pada yang Kuasa, pemilik hati si senyum manis. Duh Gusti, apa ini artinya?...apa aku jatuh hati...? Jika di hati telah bersarang kerinduan, maka nampak kekhawatiran, Apa aku layak ya Allah...? Ku diam, tak lagi mampu berucap...hanya doa yang mengalun indah di relung hati. 

Dear Ayah.....
Waktu ternyata menyisakan kebaikan buat kita, ada asa menjuntai indah, sahabat lama datang membawa berita, "ukhti....aku ingin mengenalkan dirimu dengan teman masa kecilku, dia lelaki sholeh namun sederhana....sangat sederhana, kiranya kau bersedia berjumpa. Jika hati bertaut itulah kiranya jodoh yang dikirim Allah untukmu dan dia..." ujarnya. Aaah...tertunduk malu diri ini, seraya menganggukan kepala. 

Saatnya tiba, ta'aruf dimulai..., aku duduk bersandar manja sambil menantinya. Tak lama berselang, "Assalamu'alaikum...". Sapanya. Lalu  kamipun menjawab, "Wa'alaykumussalam", sila akhi masuk, sapa si tuan rumah. Wajahku yang semula tertunduk malu, mulai mengangkat ingin tahu. "Maa Syaa Allah....kulihat lelaki itu, dia lelaki yang kutemui di biskota, juga di seberang jalan ketika aku melintas...lelaki dengan senyum manisnya, ada di hadapanku saat ini, apakah dia...?"

Ya, lelaki itu jawaban doa-doa panjangku. Lelaki yang tak pernah terlintas dalam imagiku. Ia bersedia melanjutkan ta'aruf ini...lelaki sederhana dengan senyum manisnya. Ia akan datang mengkhitbahku. Laa hawla walaa quwwata illaa billah. Semua ini berjalan atas kebaikan yang Maha Kuasa. 

Juli, 2005 saat yang begitu sakral. Gaun putih yang kukenakan menjadi impian setiap wanita, hari yang dinanti berjuta hati yang ingin merangkai hari dengan pujaan hati. Tak berselang lama,  langkah kecilku beranjak masuk pelataran masjid, di sana kulihat dirinya telah menungguku,  begitu gagah dengan jas  putihnya. Itulah kenangan yang takkan bisa terlupakan.  Saat janji diucapkan, saat tanggung jawab diemban, saat hati terikat tunduk atas nama cinta. 

Hati telah dilabuhkan, dermaga cinta menjadi saksi kesucian dua insan, ikhlas menerima kekurangan dan kebaikan diriku dan dirimu. Kita mengarungi bahtera kehidupan dengan dirimu menjadi nahkodanya, berharap angin badai tak mengoyak perahu kecil kita. 

Dear Ayah....
10 tahun berlalu, kisah cinta kita penuh makna.  Gusti Allah menghadiahi kita sepasang anak manusia, yang satu gagah menyerupai dirimu, dan sicantik bidadari ayah melengkapi hidup kita. 
Namun.....

Karang di lautan sejatinya mampu dielakkan, kegarangan jiwa dan ikhlasnya hati sedang ditantang badai. Hujan hendak melunturkan cinta, petir hendak menyambar kesetiaan, angin hendak pergi membawa kesabaran.

Aku, wanita yang hanya memiliki satu cinta yang menerima segala kekurangan diri, hanya bertopang denga satu kata, SETIA. Badai itu datang menguji kekuatan kita... 

Dear Ayah....
Ujian ini harus kuat kita hadapi bersama, aku tak akan pergi...aku akan selalu ada disisimu. Dirimu yang gagah terkulai lemah, nafas panjangmu mulai tertatih menariknya. Selang penopang nafasmu setia menemani. Tatapan lemahmu, dan air matamu menatapku dengan rasa bersalah. Hampir dua tahun dirimu berteman dengan mesin pencuci darah, jarum selang, regulator dan tabung oksigen menjadi sahabatmu. 

Aku tak lagi memikirkan rupa dan pesona diri, kuhempaskan jauh segala cita-cita diri, ku benamkan diri merawatmu. Kala malam ku usap punggungmu agar kau mampu bernafas dengan baik, ku seka badannmu dengan air dingin seperti maumu, kubalurkan tubuhmu dengan doa lirih penuh harap, hingga mengalir air mata mengharap ampunan kepada Yang Maha Pemilik raga dan jiwa. Gusti, Jika memang ia jodoh hingga akhirku...berilah ia kekuatan. 

Dear Ayah....
Rumah sakit jadi rumah kedua kita, begitu juga perawat, dokter dan keluarga pasien menjadi bahagian kisah hidup kita. Satu dengan yang lainnya saling menguatkan. Putaran mesin pencuci darah terus berjalan menemani hari, ginjalmu tak lagi mampu bekerja. Hingga kau harus bertahan dengannya. Hari demi hari satu persatu temanmu lelah, menghadap Ilahi, tak mampu melanjutkannya lagi. Aku tak tahan lagi, ku lari menyusuri lorong rumah sakit, dan kubersimpuh memanjat lirih, "Bila waktunya tiba buat suamiku Ya Allah...". Tangisku membuncah, sesak dadaku mengeluarkan segenap pilu. Aku masih ingin bersamanya gusti....aku tak mau jika ia pergi. 

Oktober 2017
Dini hari, kau begitu tersiksa dengan nafasmu...ruang UGD menyiapkan selang nafas dan penanganan untukmu. Tak hentinya kau mengatakan, "Maafkan Ayah ya bu...., Ayah sayang Ibu". Terus dan terus hingga nafasmu tertata rapih. Dan ia lirih berkata..."Terima kasih Ibu....I Love You, Ayah sayang Ibu...". 

Dan itulah kalimat terakhir darimu yah, sebelum kau menarik nafas dan pergi meninggalkanku dan buah hati kita untuk selamanya. "Ayaaaaaaah.......Ibu sayang Ayah, maafin ibu". Teriakku, namun kau sudah tak lagi mendengar, jiwamu telah kembali ke pemiliknya, karena Dia lebih mencintaimu hingga kau takkan lagi merasakan sakitmu. 

Dear Ayah...
Di pusaramu, aku dan kedua buah hati kita menatap kosong tanah merah yang basah, talqin adzan anak lelakimu membuat suasana semakin membuat perih hatiku, kau tak ada lagi bersamaku. 

Aku ikhlas melepasmu...Love Is Reality, cinta adalah kenyataan yang harus diterima, di jalani dan dilepas jika saatnya tiba. Cinta Ibu ke Ayah tersimpan rapih dilembaran hati. Love You Always Deny Permana. []

*Didi Diah, S.Kom, Praktisi pendidikan; STP-SD Khairu Ummah, Ciledug, Tangerang
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Didi Diah, S.Kom*: LOVE IS REALITY Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com