Latest News
Saturday, June 1, 2019

Dinar Khairunissa*: Demokrasi Berdarah, Mungkinkah?

Dinar Khairunissa
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - 22 Mei 2019 adalah waktu dimana aksi digelar guna mengekspresikan kekecewaan masyarakat tentang kemenangan pilpres yang disinyalir sarat akan kecurangan.  Pada awalnya, aksi berjalan dengan baik, namun ternyata harus tercoreng oleh tragedi represif dan anarkis yang akhirnya membuat publik bertanya-tanya. Indonesia berdemokrasi, namun mengapa tragedi berdarah ini terjadi?

Dikutip dari viva.com, Polri telah mengungkap terkait video viral yang menggambarkan seseorang dianiaya sejumlah anggota Brimob di dekat Masjid Al-Huda, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

Dari video tersebut, didapati anggota Brimob beramai-ramai menghantam dan menganiaya seorang remaja hingga terkulai lemah tidak berdaya. Mereka menginjak-injak tubuh kurus itu dengan sepatu keamanan mereka yang sudah pasti berat dan keras. Belum lagi dihantam tameng, dan alat pemukul panjang yang dipukulkan beramai-ramai pada tubuh remaja itu. Alih-alih mengejar dan menghukum anggota Brimob yang jelas-jelas menyalahi prosedur, Polisi malah mencari siapa yang telah merekam dan menyebar video tersebut. 

Remaja yang dianiaya tersebut, adalah satu dari sekian banyak pelanggaran saat aksi 22 Mei lalu. Betapa banyak korban tembak yang meninggal akibat moncong senapan yang mengarah datar pada tubuh-tubuh demonstran yang ada di hadapan aparat keamanan saat itu. Peluru-peluru tajam itu, dengan cepat menembus tubuh para demonstran hingga mereka terluka parah. 

Tak cukup pada demonstran, aksi represif ini juga dialami tim medis yang hendak menolong korban yang terluka. Ketua Umum FOZ Bambang Suherman mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan adanya tindakan represif dari oknum kepolisian atas tim relawan medis. Dimulai dari pemeriksaan yang berlebihan, hingga tindakan penganiayaan dan pengerusakan. 


Demokrasi Hanya Topeng 

Kita semua tahu bagaimana topeng demokrasi itu bekerja. Seolah ia dapat melindungi seluruh warga negara, namun ternyata omong kosong belaka. Asas-asas demokrasi yang menjanjikan dan bernada indah sesungguhnya hanya ilusi semata. Karena sistem yang sesungguhnya bercokol saat ini adalah kapitalisme, dimana pemilik modal lah yang memiliki kuasa. 

Padahal, pengertian dan implikasi demokrasi ini telah kita pelajari sejak Sekolah Dasar, diajarkan oleh guru-guru berdedikasi tinggi, agar kita semua paham makna demokrasi dan dapat kita hayati.

Menurut Plato, pengertian demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat yang memimpin untuk kepentingan rakyat banyak. Dan menurut Abraham Lincoln, pengertian demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Namun kata-kata indah tentang demokrasi itu kini hanya menjadi kata-kata di atas buku mata pelajaran PKN saja. Aplikasinya, tidak ada dalam kehidupan nyata. Karena bukti demokrasi yang rusak ini sudah jelas tersebar dimana-mana. Hanya saja, kapan mata dan hati kita bisa terbuka. Kejadian yang menimpa Harun, Reyhan, dan korban-korban lain yang nyawanya hilang di tangan militer pelindung rezim, tentunya sudah cukup menggebrak nalar yang selama ini tertidur pulas. 

Aspirasi yang seharusnya dibebaskan, ternyata tidak. 
Beragama yang seharusnya dapat dihayati setiap insan di tanah demokrasi, ternyata hanya bualan. 

Yang ada hanyalah ketika kekuasaan sang pemilik modal terganggu, maka tangan-tangan tiran akan bekerja untuk melindungi hegemoni. Tragedi berdarah saat rakyat sedang menyampaikan aspirasi, hingga tergolong pelanggaran HAM dalam tindakan polisi saat mengamankan peserta aksi, sangat menyayat hati. 

Bagaimana bisa, aparat yang seharusnya melindungi, mengayomi, menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyat, kini menjadi tameng kuat bagi penguasa yang tidak mau menerima sisi rakyat yang kontra. 
Bahkan petugas medis yang seharusnya tak tersentuh pun ikut dilibas juga. 

Fakta ini  menjadi bukti bahwa demokrasi hanyalah ilusi. 
Tak ada kebebasan berpendapat disini. Yang bebas berpendapat hanya mereka yang sejalan dengan para kapital, penguasa, dan jajarannya yang haus kekuasaan dan harta. 

Hal itu sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

سَيَأتِي عَلَى النَّاس سَنَوَات خَدَّاعَات، يُصَدَّق فِيهَا الكَاذِب ويُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق، ويُؤْتَمَن فِيهَا الخَائِن ويُخَوَّن فِيهَا الأَمِين، ويَنْطِق فِيهَا الرُّوَيْبِضَة، قِيْلَ: ومَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: الرَّجُل التَّافِه في أمْر العَامَّة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.” (HR. Al-Hakim).


Islam Agama Sempurna Paripurna 

"Islam mengajarkan sholat, mereka diam. Islam mengajarkan puasa, mereka membiarkan. Tapi ketika islam mengajarkan politik, mereka tidak akan terima". Ucap Ustadz Abdul Somad dalam salah satu ceramahnya. 

Penggambaran islam yang sempurna, memang hanya bisa dijelaskan dengan bagaimana islam mengatur bukan hanya urusan ibadah saja, namun juga urusan bermuamalah. Bukan hanya urusan akhlak saja, namun hingga urusan bernegara. 

Dan kesempurnaan ini telah Allah nyatakan dalam firmanNya, 
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Meningkatnya kesadaran politik ummat islam ini menjadi perhatian besar tersendiri. Hal ini sudah digambarkan oleh Allah swt. dalam firmanNya, bahwa musuh-musuh islam tidak akan ridho pada kaum muslimin hingga kaum muslimin mengikuti milah-milah agama mereka. 

Padahal dalam naungan islam, rahmat bagi seluruh alam begitu terasa. Memimpin dunia dengan peradaban yang Agung, menjadikan islam sebagai sistem yang sempurna bagi seluruh ummat manusia. Menjadi bukti bahwa seharusnya ia bukan hanya agama yang tercantum di kolom KTP semata. Sejarah terukir dengan indah, dimana pluralitas tetap terjaga. Tak ada paksaan bagi mereka yang memiliki aqidah berbeda. Islam mengatur manusia dengan keadilan, memandang masyarakat dengan sisi kemanusiaan. Tak perlu teori panjang untuk membuktikan, cukup sejarah dalam siroh kepimpinan para Khalifah yang mengatakan. 

Dimana seorang yahudi dapat mengalahkan Khalifah Ali bin Abi Thalib di persidangan. 

Di mana Gubernur yang terhormat, dapat merubuhkan kembali Istana megah yang dibangunnya demi gubuk seorang yahudi yang telah dirobohkan. 

Dimana Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam mengatakan dengan tegas bahwa, apabila anak kesayangannya Fathimah r.a. mencuri, maka Rasul sendirilah yang akan memotong tangan anaknya. 

Dimana Amirul mu'minin Umar bin Khattab, mau mendengarkan dan meminta maaf pada rakyatnya, saat Umar diprotes karena telah salah mengambil keputusan tentang penentuan mahar. 

Maka, syari'at islam yang mana yang sesungguhnya mereka takutkan? []

*Komunitas menulis Muslimh Penulis Ideologis
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Dinar Khairunissa*: Demokrasi Berdarah, Mungkinkah? Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com