Latest News
Sunday, June 2, 2019

Hawilawati, S.Pd*: Fashion Lebaran Berganti, Muslimah Tetap Syar'i

Hawilawati, S.Pd (Tengah berkerudung hitam)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Suasan indah yang selalu hadir di hari raya Idhul Fitri adalah bersilaturrahim kepada kerabat, tetangga, sahabat dan rekan kerja dengan berpakaian yang terbaik. 

Dunia fashion turut mengambil andil dengan menawarkan berbagai desain pakaian lebaran, tak terkecuali adalah desain pakaian muslimah yang dari tahun ke tahun selalu memiliki desain yang baru.

Beberapa tahun lalu pakaian syar'i yang terdiri dari gamis dan kerudung  menjadi trend fashion lebaran, sungguh pemandangan yang indah melihat kaum muslimah berhijab syar'i. Namun berganti tahun, trend itu berganti dengan desain yang lain. Lagi-lagi bagi muslimah yang tidak memiliki standar pakaian syar'i maka iapun hanya mengikuti fashion kekinian saja.

Adapun trend desain pakaian muslimah tahun 2019 ini adalah kaftan dan baju muslimah dengan corak camuflage.

Kaftan masih menjadi primadona yang banyak dicari untuk baju lebaran tahun ini. Mulai dari model printed hingga berbahan lace, 8 kaftan ini (kaftan printed, Kaftan Warna Pastel, Kaftan Warna Bumi, Kaftan Aksen Frill di Lengan, Kaftan Potongan Asimetris, kaftan etnik, 
Kaftan Berbahan Lace) akan membuat penampilanmu semakin stylish di Hari Raya.(detik.com)

Pakaian camuflage atau biasa disebut juga sebagai motif loreng yang banyak menginspirasi dunia fashion juga turut meramaikan dunia fashion 2019.Tak hanya motifnya saja , namun tone hijau yang ber-value  seringkali disematkan dengan istilah hijau army. Dituangkan dalam berbagai siluet dan cutting pakaian kekinian, dengan sebutan army look.

Dari berbagai model, motif dan kenyamanan berpakaian, seperti apa desain terbaik yang seharusnya muslimah pilih ? mari kita fahami desain terbaik yang sudah Allah SWT siapkan bagi kaum Muslimah.

Berpakaian terbaik saat Hari Raya Idhul Fitri

Memakai pakaian yang terbaik saat hari raya adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Sebagaimana dalil sahih berupa hadis Nabi dan atsar (perkataan) para ulama ahlus sunah wal jama’ah yang menunjukkan bahwa hal itu memang boleh dan ada tuntunannya. 

Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma berkata, “Umar Radhiyallahu anhu mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian (di Hari Kiamat).’” Imam Al-Bukhari Rahimahullah meletakkan hadis itu dengan judul “Bab Tentang Dua Hari Raya dan Berhias di Dalamnya”.

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa berhias pada momen-momen seperti itu sudah sangat dikenal (pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi sallam dan para sahabat–pent.)

Imam Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, “Kesimpulan, disyariatkannya berhias pada hari raya dari hadis ini didasari oleh persetujuan Nabi tentang berhias di hari raya, adapun pengingkarannya hanya terbatas pada macam atau jenis pakaiannya, karena dia terbuat dari sutera.” (simak Nailul Authar, III/284).

Begitupun bagi kaum muslimah diperbolehkan memakai pakaian yang terbaik. Pakaian ini tak harus baru namun sangat layak dan bersih saat berhari raya. 

Adapun ketentuan yang harus difahami muslimah saat mengenakan pakaian ketika hendak keluar rumah, diantaranya :

Berpakaian Menutup Aurat

Menutup aurat di luar rumah untuk silaturahim, rihlah dan aktivitas luar rumah lainnya  bagi  seorang muslimah yang sudah baligh adalah wajib hukumnya, sebagaimana hadits Rosulullah SAW : 

"Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)". (HR Abu Dawud)

Menutup Aurat dengan Berpakaian Syar'i

Adapun ketentuan  pakaian syar'i seorang muslimah ketika keluar rumah untuk melakukan segala aktivitas dalam kehidupan umumnya terdiri dari:

 1.Mihnah

Dalam kitab Nidzam al-Ijtima’ fil Islam karangan Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani menuliskan bahwa wanita ketika keluar rumah (hayatul ‘am) maka wajib untuk menutup auratnya dengan tiga pakaian, yaitu al-mihnah (pakaian dalam rumah), jilbab (gamis) dan khimar (kerudung).

Al-mihnah merupakan pakaian yang biasa dipakai wanita dalam rumahnya, seperti baju lengan pendek, daster, celana atau rok. Al-mihnah ini merupakan pakaian yang harus dipakai di dalam lapisan dari jilbab muslimah ketika keluar rumah.

2.Jilbab (gamis)

Jilbab adalah busana terusan untuk menutupi seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan, seperti lorong tidak terputus (tidak berpotongan) Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59)

3.Khimar (kerudung)

Khimar adalah kerudung yang menutupi kepala hingga leher dan dada. 

Allah Ta’ala menyebutkan istilah khimar dalam firman-Nya:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ


Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya… (QS. An Nur: 31)

Tidak Tasyabuh

Dalam prinsip agama Islam, kaum muslimin dilarang keras bersikap tasyabuh dengan orang kafir dalam hal ibadah, hari raya maupun  pakaian.

Tidak berpakaian yang tasyabuh (menyerupai) pakaian agama tertentu, misal : Berpakaian ala biarawati yang merupakan pakaian khas pemuka agama Nasrani atau pakaian ahli kitab Yahudi.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud 

//Syarat Pakaian Syar'i//

Selain jilbab dan khimar, juga tidak membentuk lekuk tubuh, transparan, sederhana tidak berlebihan dan tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu: Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini." (HR. Muslim)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, "Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)

Demikianlah pakaian terbaik yang harus digunakan bagi muslimah saat keluar rumah.  Sekalipun trend baju lebaran dari tahun ke tahun berganti, penting bagi muslimah memiliki standar desain terbaik sesuai dengan tuntunan syariat, bukan hanya sekedar tuntunan fashion atau hanya sekedar indah dipandang dan dipakai, tapi pakaian muslimah pun harus bernilai ketaatan kepada Allah SWT.
In syaa Allah keberkahan hari raya Idhul Fitri pun senantiasa meliputi kaum muslimah, dengan tetap  memperhatikan segala amalan  yang wajib dan sunnah. Selamat berpakaian syar'i di hari Raya Idhul Fitri wahai Muslimah. Wallahu'alam Bishowwab.[]

*Praktisi pendidikan, STP-SD Khairu Ummah, Ciledug Tangerang
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Hawilawati, S.Pd*: Fashion Lebaran Berganti, Muslimah Tetap Syar'i Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com