Latest News
Sunday, June 30, 2019

Lulu Nugroho*: Desa Wisata Gedung Tua

  1. Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS. COM,  JAKARTA -Cirebon terus berkemas mempersiapkan berbagai obyek sejarah yang dianggap bernilai dan mampu mendatangkan wisatawan. Kali ini Jamblang, dianggap layak menjadi desa wisata. Sultan Sepuh XIV dan Plt Bupati Cirebon meresmikan Destinasi Wisata Gedoeng Toea Djamblang di Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Kamis (27/6/2019). (MetropolitanCirebonRaya, 27/6/2019).

Menurut Sultan, tidak hanya bangunan saja yang bisa dijual kepada wisatawan, tetapi dikombinasikan dengan lainnya seperti kuliner, kue-kue, hingga celengan Jamblang. Sultan menargetkan untuk bisa dimaksimalkan desa wisata gedung tua  tersebut, tahun depan sudah bisa dimulai.

Wisata telah menjadi gaya hidup. Masyarakat rela mengeluarkan uang dan mengalokasikan waktu untuk sebuah perjalanan wisata. Pergeseran nilai masyarakat modern. Kesibukan sehari-hari bergulat dengan kehidupan ala sekularisme, melelahkan. Masyarakat membutuhkan hari untuk wisata. Ini sejalan dengan pemerintah, menangkap peluang bisnis dari sektor pariwisata.

Sektor ini kemudian menjadi sumber pemasukan negara yang kian dideraskan. Pemerintah pusat dan daerah mulai menyiapkan berbagai sarana dan prasarana pendukung. Mulai dari permodalan, hingga pengadaan berbagai keperluan wisatawan agar nyaman. Baik itu penginapan, tur wisata, dan pedagang usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Pariwisata memiliki dampak secara langsung maupun tidak langsung bagi perekonomian nasional maupun lokal. Hal itu dimulai dari pembayaran jasa transportasi, menginap di hotel, mencicipi kuliner khas, berbelanja souvenir, berkunjung ke daerah wisata, semuanya memiliki dampak ekonomi. Sektor pariwisata memberikan kontribusi yang besar untuk pendapatan domestik bruto (PDB).

Sektor pariwisata juga dianggap memberi dampak yang cukup tinggi dalam penciptaan  lapangan pekerjaan. Dimulai sejak wisatawan akan berangkat, membutuhkan tenaga kerja jasa perjalanan wisata. Tiba di bandara, perlu porter, tenaga kerja pengangkutan. Dan saat melakukan aktivitas perjalanan wisata, ada pemandu wisata, serta banyak lagi yang lainnya.

Pariwisata juga salah satu penyumbang devisa negara terbesar. Bank Indonesia (BI) menyatakan pariwisata merupakan sektor yang paling efektif untuk mendongkrak devisa Indonesia. Salah satu alasannya karena sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan pariwisata terdapat di dalam negeri.

Selain sumber daya manusia (SDM), sumber daya yang dimaksud antara lain luas wilayah serta keragaman yang ada di tanah air. Sumber daya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Keindahan alam dan keunikan budaya menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun manca negara. (Kompas.com, 23/3/2019).

Inilah cara pandang sekularisme terhadap sektor pariwisata. Sekularisme tidak bisa membentuk suasana keimanan. Pondasi yang keliru yang dijadikan sebagai asas berpikir, membuat umat salah jalan. Hal yang sama terjadi dalam pengurusan umat. Jika pemerintah mengemban ideologi ini, maka akan mendatangkan banyak masalah.

Tujuan kebahagiaan dalam sekularisme adalah materi. Maka apapun yang bisa menghasilkan materi, akan diadakan. Sementara bahaya yang datang dari sektor ini pun tampak sangat besar. Dari mulai permodalan, jika datangnya dari asing, maka bukan hanya uang yang masuk tapi juga pemikiran mereka.

Belum lagi fasilitas seperti restoran, hotel, cafe, sauna, dan lainnya akan mempengaruhi kultur desa. Gaya hidup masyarakat akan berubah. Kemaksiatan pun bisa saja masuk di dalamnya. Beriringan dengan pemerintah yang memoles budaya dan adat istiadat daerah sebagai daya tarik mengundang wisatawan, justru melanggengkan kesyirikan.

Dalam Islam, aktivitas umat selalu dikaitkan dengan akidah. Begitu pula yang terjadi saat melakukan wisata, yaitu semata-mata untuk menambah keimanan. Memandang alam, ciptaan Allah atau melihat bangunan bersejarah bukti kehidupan masa lalu, adalah sebagai jalan bagi manusia mengokohkan keimanannya.

Firman Allah Subhaanahu wa ta'ala dalam Alquran surat Muhammad ayat 10, “Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi, sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu”.


Islam tidak memandang sektor wisata sebagai sumber pendapatan negara. Ada beberapa sumber pendapatan negara Islam, yaitu zakat, kharaj, ghanimah, jizyah, usyr, fay', kums, waqaf, nawaib, amwal fadhilah, shodaqoh, hima, iqtha, ihya al mawat, misahah. Dari sini negara akan menjalankan roda pemerintahannya, membiayai pembangunan, menjaga hak umat agar kesejahteraan bisa terwujud.

Menjaga keimanan umat, menjadi tugas penguasa. Menutup seluruh pintu kemaksiatan dan kemungkaran, juga bagian dari tanggung jawab penguasa. Hal ini adalah hakikat dari kepemimpinan di dalam Islam.

Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman dalam Alquran surat Al anbiya ayat 73, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi."

*Muslimah Penulis dari Cirebon
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Lulu Nugroho*: Desa Wisata Gedung Tua Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com