Latest News
Friday, June 14, 2019

Lulu Nugroho*: Taqwa Sesudah Ramadhan

Lulu Nugroho 
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA - Ramadan baru saja berlalu. Aroma idulfitri pun masih menghiasi relung hati. Ritual bersalam-salaman belum lagi usai. Seharusnya masih ada bahagia lepas merayakan hari raya. Akan tetapi ternyata yang terjadi tidak demikian. Negeri ini sudah harus siap-siap menangis lagi. Bencana alam seolah enggan pergi. Di beberapa wilayah di tanah air, ditimpa bencana.

Konawe Utara terendam banjir. Jembatan penghubung putus, hingga tidak bisa dilalui. Begitu pun yang terjadi di Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur. Banjir mengepung wilayah mereka. Gunung Sinabung di Sumatera Utara pun mengalami erupsi sore kemarin. Terjadi luncuran awan panas ke arah tenggara dan selatan. Masyarakat diminta waspada, (liputan6.com, 11/6/2019).

Sedangkan Gunung Agung sempat erupsi seminggu yang lalu. Sedangkan Cilacap kemarin terjadi gempa. Getarannya dirasakan hingga Yogyakarta, Kebumen, Bandung. Tak berapa lama, Bali pun terjadi gempa, meski tidak berpotensi tsunami. Tanah longsor di Ambon dan Sumatera Barat, melengkapi derita umat di negeri ini.(Detiknews.com, 10/6/2019).

Mengapa terjadi hal ini? Apakah sebulan penuh Ramadan tidak cukup menghadirkan sikap takwa di negeri dengan mayoritas muslim? Bukankah seharusnya Allah turunkan keberkahan dari langit pada sebuah negeri yang sebagian besar warganya menyembah Allah Subhaanahu wa ta'ala. Jika bencana masih menghampiri, dan kesejahteraan masih sulit dicapai, berarti ada yang salah.

Sejatinya Islam sebagai dien, agama yang diturunkan Allah melalui Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam, adalah agama yang tidak hanya mengurusi akidah, tapi juga memiliki peraturan. Jika aturan dalam Islam tidak dijadikan sebagai aturan hidup, dan umat mengambil aturan lain, maka dengan sendirinya kesulitan akan terus datang tak berkesudahan.

Tidak hanya sebagai akidah dan memuat aturan (yang kita kenal sebagai syariat), Islam pun memiliki solusi bagi seluruh permasalahan umat. Maka mengambil solusi lain dan berpaling dari solusi Islam, jelas akan menggiring umat pada bencana. Sebab Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna, syamil wa kamil.

Allah memberi kesempurnaan pada segala sesuatu yang datang dari-Nya. Berbeda dengan aturan buatan manusia, berpeluang untuk salah, kurang, dan menimbulkan friksi antara manusia satu dengan yang lain. Inilah persoalan mendasar sehingga umat hanya berputar pada masalah dan sulit menemukan solusi kehidupan.

Sebab Islam hanya dijadikan sebagai agama ritual, agama yang hanya mengatur ibadah saja. Tidak diaplikasikan dalam keseharian. Padahal jika diterapkan seluruh aturannya dalam sistem ekonomi, sosial, budaya, pergaulan, hukum, berkeluarga hingga bernegara, maka rahmatan lil alamin akan dirasakan umat.

Saat Madinah berguncang karena gempa, Khalifah Umar bin Khaththab mengetukkan tongkatnya ke bumi dan mengatakan: “Wahai bumi, apakah aku berbuat tidak adil?” Lalu beliau melanjutkan dengan lantang, “Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian.”

Umar radhiyallahu 'anhu tahu betul bahwa perbuatan maksiat berbanding lurus dengan bencana. Mengacu pada metode berpikir penguasa sekelas Umar, bahwa terjadinya bencana yang beruntun, indikasi ada yang salah dengan negeri ini. Umat hingga penguasa harus melakukan introspeksi. Muhasabah diri, mengukur adakah kemungkaran melekat pada pikiran dan tingkah laku kita.

Ramadan belum jauh. Masih tercium wangi indahnya malam-malam itikaf di sepuluh hari terakhir. Masih terasa asyik masyuknya kita beribadah qiyamul lail di malam-malam yang dingin dan sepi. Predikat takwa harus diburu terus selepas Ramadan. Naikkan level kita menjadi pribadi takwa. Seru penguasa agar mengurusi umat pun berlandaskan takwa. Agar tercipta baldatun thayyibatun wa robbun ghofur.

'Para pemimpin adalah orang yg mewakili Allah terhadap para hambaNya. Para pemimpin juga wakil dari para hamba terhadap urusan diri mereka. Maksud dari kepemimpinan (al-wilâyah) adalah memperbaiki agama manusia, yg bila itu luput, mereka pun akan rugi besar. Dan apa yg mereka nikmati di dunia saat itu tidak lagi berguna bagi mereka. Juga memperbaiki perkara dunia, di mana perkara agama tidak akan tegak kecuali dengannya.'
-Ibnu Taimiyyah-


*Lulu Nugroho, Muslimah Penulis dari Cirebon
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Lulu Nugroho*: Taqwa Sesudah Ramadhan Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com