Latest News
Thursday, June 13, 2019

Nur Fitriyah Asri: Menolak Khilafah Adalah Kemungkaran Nyata

Nur Fitriyah Asri
RADARINDONESIANEWS. COM,  JAKARTA - Khilafah adalah ajaran Islam, sebagaimana ajaran yang lain seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Sebab dalil tentang khilafah amat banyak. Sehingga tidak ada satupun ulama mu'tabar yang berbeda tentang hal itu.

Sangat disayangkan jika ada orang-orang yang menolak khilafah dengan alasan apapun. Apa alasannya sehingga tanpa berpikir panjang dan berpikir cemerlang menolak khilafah? Apa khilafah penyebab dari semua kerusakan umat manusia? Seperti, merosotnya moral, mengguritanya korupsi, tingginya narkoba, seks bebas, hutang luar negeri yang selangit sehingga memberatkan APBN, kekayaan alam yang melimpah ruah dan berbagai aset berharga negara dikuasai asing dan aseng, serta seabrek problematika umat yang membebani rakyat. Penyebab semua itu bukan karena khilafah. Mengapa khilafah harus ditolak?

Sesungguhnya problematika umat tersebut disebabkan oleh sekularisme yaitu paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Sistem yang berasal dari Barat inilah yang menjadi biang keroknya yakni melarang agama untuk mengatur kehidupan. Agama hanya dipandang sebagai ibadah ritual untuk urusan individu terkait akidah dan ibadah saja. Seharusnya agama digunakan sebagai pedoman dan petunjuk hidup untuk mengatur semua urusan kehidupan baik individu, masyarakat maupun negara.

Siapapun yang jujur dan sportif akan menjawab dengan tegas bahwa khilafah adalah ajaran Islam, karena dalilnya jelas.Tidak ada alasan yang dapat diterima akal sehat untuk menolak khilafah. Karena khilafah adalah syariat Allah Swt, maka sebagai hamba-Nya kita tidak boleh merasa keberatan dan harusnya taat, tunduk patuh pada aturan-Nya. Bukankah Allah yang menciptakan bumi, langit seisinya dan Allah pulalah sebagai pembuat aturan untuk semua makhluk-Nya.Telah tersurat jelas dalam al-Quran:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik (QS al-An’am [6]: 57).

Hanya hukum Allah yang terbaik. Sebab, Dia adalah Hakim yang Maha Bijaksana.Tidak ada hukum yang lebih baik dan lebih adil dari hukum-Nya. Lalu, mengapa ada yang menolak-Nya? Apakah mereka merasa lebih tahu dari Allah Swt?
Sungguh perbuatan yang bodoh, lancang dan sombong berani-beraninya menolak khilafah yang merupakan syariat Allah.

Dalil Kewajiban Menegakkan Khilafah

Para ulama menerangkan bahwa dalil-dalil kewajiban khilafah ada 4 (empat), yaitu: Alquran, as-Sunah, Ijmak Sahabat dan Qaidah Syar’iyyah.

1. Dalil Alquran.

Dalil Alquran antara lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian." (TQS an-Nisa’ [4]: 59).

Perintah untuk mentaati ulil amri adalah dalil tentang kewajiban mengangkat imam (khalifah).

Dalil Alquran lainnya adalah firman Allah Swt:

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

"Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada kamu." (TQS al-Maidah [5]: 48).

Wajh al-Istidlal dari ayat ini adalah: Allah Swt telah memerintahkan Rasulullah Saw untuk memberikan keputusan hukum di antara kaum muslim dengan apa yang telah Allah turunkan (syariah Islam). Kaidah ushul fikih menetapkan bahwa perintah kepada Rasulullah Saw hakikatnya adalah perintah kepada kaum muslim selama tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah itu kepada Rasulullah Saw saja. Berarti perintah tersebut berlaku untuk kaum muslim seluruhnya hingga hari kiamat nanti. Perintah untuk menegakkan syariah Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya Imam (khalifah). Maka dari itu, ayat di atas, juga seluruh ayat yang memerintahkan berhukum dengan hukum Allah, hakikatnya adalah dalil atas kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah), yang akan menegakkan syariah Islam itu (Ad-Dumaiji, Al-Imamah al-‘Uzhma, (Kairo: t.p), 1987, hlm. 49).

Dalil Alquran lainnya adalah ayat-ayat yang memerintahkan qishash (QS al-Baqarah [2]: 178), hudud (misal: had bagi pelaku zina dalam QS an-Nur [24]: 2) atau had bagi pencuri dalam (QS al-Maidah [5]: 38), dan ayat-ayat lainnya yang pelaksanaannya bergantung pada adanya seorang imam (khalifah). Ayat-ayat semisal ini juga menjadi dalil atas kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah) karena pelaksanaan ayat-ayat tersebut memang bergantung pada keberadaan imam (khalifah) itu.

2. Dalil as-Sunah.

Di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad Saw:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فيِ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة

"Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Imam/
Khalifah), maka matinya adalah mati Jahiliyah (HR Muslim).

Dalalah (penunjukkan makna) dari hadis di atas jelas, bahwa jika seorang muslim mati jahiliyah karena tidak punya baiat, berarti baiat itu wajib hukumnya. Baiat itu tak ada kecuali baiat kepada Imam (khalifah). Maka dari itu, hadis ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) itu wajib hukumnya. (Ad Dumaiji, Al-Imamah al-‘Uzhma [Kairo: t.p], 1987, hlm. 49)

3. Dalil Ijmak Sahabat.

Telah disebutkan oleh para ulama, misalnya Ibnu Khaldun, “Mengangkat seorang imam (khalifah) wajib hukumnya, dan kewajibannya dapat diketahui dalam syariah dari Ijmak Sahabat dan tabi’in.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 191).

Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Ketahuilah pula bahwa para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting saat mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah Saw.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

4. Kaidah Syariah.

Kaidah syariah menyatakan:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهَ فَهُوَ وَاجِبٌ

"Jika suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya."

Sudah diketahui bahwa terdapat kewajiban-kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh individu, seperti kewajiban melaksanakan hudud, kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Kewajiban-kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan secara sempurna oleh individu, sebab kewajiban-kewajiban ini membutuhkan suatu kekuasaan (sulthah), yang tiada lain adalah khilafah. Maka dari itu kaidah syariah di atas juga merupakan dalil atas kewajiban adanya khilafah.

Sudah jelas dan gamblang bahwa khilafah adalah syariat Allah. Merupakan sistem pemerintahan Islam yang mempersatukan umat Islam sedunia, dipimpin oleh seorang khalifah untuk menerapkan Islam kaffah (menyeluruh) dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah janji Allah Swt dan bisyarah Rasulullah Saw. Wajib hukumnya untuk menegakkan kembali. Sebab esensi khilafah adalah menerapkan syariat secara kaffah. Ketiadaan khilafah berarti kita sebagai umat Islam tidak dapat melaksanakan sebagian aturan-aturan yang diwajibkan Allah.

Masihkah berani menolak khilafah yang sudah jelas sumber dalilnya, bahwa khilafah termasuk syariah Allah?
Menolak khilafah berarti menantang Allah Swt dan Rasulullah Saw, karena dengan nyata melakukan kemungkaran dan diakhirat termasuk orang-orang yang merugi. Wallahu 'alam bish shawab.[]


Nur Fitriyah Asri:
Penulis Buku Opini Akademi Menulis Kreatif
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Nur Fitriyah Asri: Menolak Khilafah Adalah Kemungkaran Nyata Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com