Latest News
Tuesday, June 11, 2019

Sri Yana: Mudik Sebenarnya

Sri Yana
RADARINDONESIANEWS. COM. JAKARTA - Di hari libur lebaran ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mudik bersama keluarga ke kampung halaman. Walaupun ramai dimana-mana terjadi kemacetan para pemudik memiliki semangat yang luar biasa, karena keinginan bertemu sanak saudara. Dan tak hanya itu saja, biaya mudik yang melambung tinggi pun rela dikeluarkan demi kampung halaman tercinta.

Namun ada juga sebagian masyarakat yang tak mudik, dikarenakan biaya mudik yang mahal, sehingga libur lebaran dipergunakan silahturahmi di tetangga dekat rumah maupun berwisata di tempat-tempat yang tidak merogoh kocek yang terlalu mahal.

Mahalnya biaya mudik ini terjadi karena sistem kapitalisme. Karena sistem kapitalisme menyebabkan biaya hidup yang mahal, seperti tradisi mudik. Umat disibukkan dengan mencari materi demi memenuhi kebutuhan hidup maupun keinginan yang tak ada habisnya. Sehingga mudik lebaran menjadi tradisi sebagian masyarakat adalah wajib yang harus dilaksanakan. Dan waktu-waktu inilah yang ditunggu-tunggu demi melepas rindu dengan sanak saudara dengan bermaaf-maafan di hari Idul Fitri ini.

Di hari Idul Fitri inilah, mari kita sambut dengan gembira. Dimana umat Islam sedunia sedang merayakan kemenangan. Dengan sebulan penuh umat Islam berpuasa, dan menunggu 10 malam terakhir, yaitu malam lailatul qadar.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Dengan datangnya malam terakhir tersebut, berarti telah berakhirnya pula bulan Ramadan, dimana dilaksanakan oleh orang-orang yang ikhlas yang mengharap ridho Allah SWT.

Dengan Ramadan yang berakhir ini, di harapkan meningkatkan derajat taqwa seseorang. Selain telah bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, kerabat dekat,dan tetangga. Baik mudik atau tidak. Momentum ini kita jadikan muhasabah diri agar sesudah Ramadan ini ibadah supaya lebih baik, bukan semakin hari semakin merugi.

Karena hidup manusia adalah sementara. Manusia akan kembali ke hadapan Allah SWT. Maka jadikan hidup yang sementara ini hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dimana manusia akan mudik yang sebenarnya, yaitu menuju surga atau neraka. Oleh karena itu, gunakan waktu hidup kita sebaik mungkin agar kita tidak menyesal di kemudian hari, jikalau ajal sudah menjemput. Mari kita persiapkan diri untuk mudik yang sebenarnya ke kampung akhirat yang kekal, agar indah akhirnya. Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS Al-Isra’: 18-19). Wa'allahu a'lam bishshawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sri Yana: Mudik Sebenarnya Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com