Latest News
Monday, July 8, 2019

Al Mansur: Pendidikan Agama Adalah Amanat Founding Fathers Bangsa Indonesia

Al Mansur, Lc
RADARINDONEIANEWS.COM, JAKARTA - Menanggapai pernyataan penolakan terhadap pendidikan agama di sekolah, Al Mansur Hidayatullah, tokoh masyarakat Betawi asal Mampang yang juga Ketua DPD PKS Jakarta Selatan ini menyatakan sikapnya. 

Pendidikan tidak sekadar menciptakan manusia yang cerdas, tapi juga beriman dan bertakwa. Sehingga Al Mansur menganggap wajar jika pelajaran agama diajarkan di sekolah. Lebih jauh Al Mansur menjelaskan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pendewasaan manusia menjadi manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya meliputi keseluruhan dimensi kehidupan manusia: fisik, psikis, mental, moral, spiritual dan religius. 

"Pendidikan agama di sekolah sebagai salah satu upaya pendewasaan manusia pada dimensi spiritual-religius. Adanya pelajaran agama di sekolah adalah upaya pemenuhan hakekat manusia sebagai makhluk religius (homo religiousus). Sekaligus di lain pihak pemenuhan apa yang objektif dari para siswa akan kebutuhan pelayanan hidup keagamaan. Agama dan Keimanan menjadi suatu objektif yang terus menjadi kebutuhan setiap manusia.” Ujar Al Mansur, Senin (8/7/2019).

Al Mansur mempertanyaakan pihak – pihak yang tiba – tiba menggugat keberadaan pendidikan agama di sekolah. 

“Seperti kurang kerjaan saja, mengotak – atik dan memprovokasi keberadaan pendidikan agama di sekolah. Masih banyak hal esensial pendidikan yang perlu pembahasan, seperti pemerataan kuantitas dan kualitas sekolah, anggaran pendidikan yang sesuai Undang – Undang, dan masih banyak lagi.”  Tegasnya. 

Al Mansur juga menolak sikap-sikap yang menuduh seolah – olah pendidikan agama itu horror atau monster yang ada di sekolah atau masyarakat, seperti yang pernah diungkapkan oleh professor John M. Hull dari  universitas Brimingham dalam artikel yang berjudul "Religionism and Religios Education" yang menyatakan bahwa para pemeluk agama menggunakan identitas keagamaannya untuk membangkitkan solidaritas kekitaan yang sempit dan termanifestasikan dalam sikap penolakan terhadap ekslusivisme yang meyakini bahwa kita lebih baik dari mereka, kita lebih beriman dari pada mereka, kita lebih benar dari mereka dan lain sebagainya. 

“Agama yang diajarkan itu rahmatan lil alamin, yang diajarkan adalah rahmat kasih sayang bagi semua alam, bukan kekerasan dan bukan pula kejahatan,” tambah Al Mansur.    

Fakta historis memperlihatkan bahwa pendidikan agama di sekolah memiliki sejarah dan dinamika yang cukup panjang. Pendidikan agama di sekolah umum telah melewati beberapa fase panjang bersama perjalanan sejarah bangsa ini,  baik itu fase sebelum kemerdekaan, yakni era pejajahan Belanda dan Jepang, kemudian juga fase sesudah kemerdekaan. 

Berdasar pada fakta sejarah, kebijakan yang ditetapkan pemerintah masa kolonial Belanda membuat pendidikan agama tidak dapat masuk di sekolah umum atau hanya boleh diajarkan di luar jam sekolah. Berbeda dengan sekolah swasta yang sedikit diperbolehkan, dengan beberapa syarat. 

Oleh para tokoh bangsa Indonesia saat itu, penolakan terhadap kebijakan ini ditentang dalam sidang-sidang Volksraad, namun selalu mentah. Baru, setelah setahun Indonesia merdeka, kebijakan ini baru dapat dirubah. Tepatnya ketika diperjuangkan di masa Menteri Agama, Prof. K.H.R. Fathurrahman Kafrawi. Fathurrahman, dari perwakilan NU, kala itu tengah menjabat sebagai Menteri Agama, bersama Ki Hajar Dewantara (Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) membuat sebuah peraturan bersama. 

Keputusan bersama itu, mengharuskan pendidikan agama diberikan di sekolah umum. Pelaksanaan pendidikan agama di sekolah umum kini telah diatur dalam sejumlah regulasi atau perundangan. Dalam sejumlah regulasi tersebut, sampai perkembangan saat ini, pelaksanaan pendidikan agama telah menjadi bagian integral dari isi dan kurikulum pendidikan, dari mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. 

Al Mansur kembali menegaskan bahwa dalam perkembangan pendidikan agama di sekolah yang semakin bagus ini, pemerintah harusnya justru mendukung dan ikut berkontribusi. “Pemerintah berkewajiban memperhatikan keberadaan sekolah swasta maupun sekolah negeri termasuk dalam pelajaran agama.” Ujarnya.

Kebijakan pemerintah lanjutnya, harus sangat positif terhadap pelajara agama di sekolah, itu adalah salah satu amanat dari founding fathers negara ini. Kebijakan itu didasarkan pada dua landasan, pertama adalah landasan Filosofi Pancasila dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa menuntut setiap warga untuk beragama, tentu beragama yang baik adalah diawali dengan pendalaman materi pengetahuan agama. Yang kedua landasan Konstitusional yaitu UUD 45 dimana pada pasal 29 ditegaskan bahwa Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa da setiap rakyat Indonesia diberi kebebasan untuk beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang di anutnya.

“Melalui mata pelajaran agama, perilaku peserta didik diharapkan sesuai dengan substansi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa yakni disamping memahami ajaran agama juga untuk mampu mengamalkannya. Untuk itu, Pemerintah melalui sejumlah regulasi atau perundangan mangatur penyelenggaraan mata pelajaran agama menjadi salah satu bidang studi di ajarkan pada seluruh jenis, jalur dan jenjang pedidikan, tanpa kecuali termasuk sekolah umum.” imbuh Al Mansur.

Pendidikan agama di sekolah adalah komplementer atau pelengkap pendidikan agama dalam ranah keluarga, ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak bisa dihilangkan dan dipisahkan. 

“Sangat ironi jika kita membiarkan pendidikan kekerasan, kebrutalan dan pelecehan yang terjadi di dalam video game, game android dan aplikasi – aplikasi dan software yang lain tetapi menolak pendidikan agama di sekolah yang mengajarkan cinta kasih dan ajakan kebaikan, janganlah kita berbuat dzalim dengan menempatkan sikap tidak pada tempatnya,” tutup Al Mansur.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Al Mansur: Pendidikan Agama Adalah Amanat Founding Fathers Bangsa Indonesia Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com