Latest News
Saturday, July 13, 2019

Fitria Miftasani, M.Si*: Beratnya Pajak Di Pundak Rakyat

Fitria Miftasani, M.Si
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA - Harapan berkurangnya beban perekonomian rakyat pasca pilpres sepertinya hanya akan menjadi angan semata. Di tengah meroketnya harga bahan makanan pokok, rakyat kembali dibebankan pajak bahkan pada hal yang terkecil sekalipun. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah mengusulkan kepada DPR RI terkait rencana pengenaan cukai plastik yang diharapkan bisa diimplementasikan di tahun ini. Payung hukum penerapan cukai plastik ini akan dirilis dalam bentuk Peraturan Pemerintah, sedangkan tata cara pemungutannya dirilis dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Pemerintah mengusulkan tarif cukai plastik sebesar Rp. 30.000 per kilogram atau Rp.200 per lembar. Setelah dikenakan cukai maka nantinya harga jual kantong plastik menjadi Rp. 450 – Rp. 500 per lembar.

Negeri ini seperti yang kalang kabut menambal keuangan negara yang defisit. Segala hal akhirnya disasar untuk mencari celah ditariknya pajak untuk pemasukan negara. Dari mulai tarif bea materai yang naik 66,66%, pajak nasi bungkus, bahkan pajak untuk pempek pun sudah siap diberlakukan. Pada akhirnya rakyat harus membayar pajak dalam setiap pengeluaran hingga pada hal terkecil seperti kantung plastik.

Sudah kena pajak dalam setiap lini pembayaran bukan berarti rakyat ini sejahtera. Pendidikan, kesehatan, yang menjadi kebutuhan dasar pun masih sulit diakses. Membuat kita bertanya-tanya, kemanakah perginya kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Pemerintah yang diharapkan dapat mengurusi urusan rakyat, fokus kepada kepentingan rakyat, teryata hanya memberikan janji manis yang tak kunjung terealisasi. Faktanya rakyat hanya menjadi objek kepentingan yang terus menerus dibebankan hutang dan beban APBN. Sumber daya alam dan BUMN diobral kesana kemari tanpa peduli ada banyak rakyat yang menderita karenanya.

Jauh rasanya jika kita bercermin kepada Umar bin Khattab yang memanggul gandum yang kemudian dimasaknya dengan tangannya sendiri untuk diberikan kepada ibu dan anak yang kelaparan hingga sang ibu berpura-pura memasak batu. Hal ini memperlihatkan bahwa seorang kepala negara bertanggung jawab pada setiap perut rakyatnya, menjamin tidak ada rakyat yang tidur dengan perut lapar karena sulitnya membeli bahan makanan pokok. Rindu rasanya kami kepada sosok pemimpin yang benar-benar mengurusi kami, bukan menjadi boneka asing yang justru memeras rakyatnya.

Patutlah kita ingat kepada sabda Rasul, “Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah akan mengharamkan baginya Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim).

*Penulis adalah seorang dosen Fisika Dasar di Telkom University Bandung

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Fitria Miftasani, M.Si*: Beratnya Pajak Di Pundak Rakyat Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com