Latest News
Thursday, July 4, 2019

Hawilawati, S.Pd*: Ketika Naluri Ayah Hilang

Hawilawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA - Lagi-lagi perbuatan asusila terjadi, seorang ayah mencabuli anak gadisnya hingga berbadan dua.

Sebagimana dilansir Bantenhits.com, SMN alias Maong warga Kampung Bojong Serang, desa Harjawana, Kelurahan Bojongmanik, Kabupaten Lebak dilaporkan warga ke Mapolsek setempat 30 Juni 2019 dinihari lantaran tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri hingga berbadan dua.

Fakta rusak dan memilukan tersebut seakan-akan menjadi suatu yang lumrah di negeri ini. Berita pencabulan kerap kali berseliweran tak habis  menghiasai pemberitaan media.

Kasus ini menjadi sebuah indikator bahwa lingkungan berada dalam zona tidak aman, perbuatan dosa tersebut terjadi tentu bukan tanpa sebab.

Tersebab  tatanan kehidupan saat ini  lepas dari nilai-nilai agama, maka tindakan rusak melebihi binatangpun terjadi. Gaya hidup sekuler, pemisahan agama dengan kehidupan - membuat orang menjadi  primitif, hawa nafsu dikedepankan hingga merampas kesucian  siapapun demi memenuhi hasratnya, tak terkecuali adalah orang-orang yang seharusnya dijaga keiffahan (kemuliaan) nya yaitu anak kandung sendiri.

Islam menetapkan peran ayah dengan segala tugas yang dapat menyelamatkan diri dan keluarganya, ayah berperan dalam :

1. Menjaga keluarga dari api neraka

Seorang ayah merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka
Sebagaimana Allah SWT berfirman  :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(at-Tahrîm/66:6)

2. Memberi nafkah

Kewajiban ayah adalah menafkahi keluarganya, ia tidak boleh menelantarkannya hingga tak terpenuhi kebutuhan primer istri dan anak-anaknya.

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisâ/4:34)

3. Menjadi wali bagi anak-anaknya

Seroang ayah menjadi wali utama bagi anak perempuannya, ia akan senantiasa menjaga anak-anak dari marabahaya. Iapun akan memberikan pendidikan agama yang mumpuni kepada anak-anaknya bahkan ia akan senantiasa menjadi teladan terbaik di dalam rumahnya hingga anak-anak nyaman bersamanya.

4. Menjaga keiffahan anak-anaknya

Ayah adalah wali bagi anak perempuannya, ia memiliki tanggung jawab penuh terhadap nafkah, pendidikan dan kesucian diri anak perempuannya sampai ada seorang laki-laki mampu dan siap menikahinya. Ini semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Sehingga dosa besar jika anak-anak perempuannya disakiti, dirusak dan dihancurkan masa depannya.

Kehadiran Islam akan mengembalikan peran ayah yang seharusnya, yang saat ini telah terabaikan akibat sistem sekuler nan rusak telah bercokol lama di negeri ini.

Dalam Islam seorang perempuan bagitu mulia,  hingga islampun senantiasa  menjaganya dengan seperangkat aturan dan sanksi bagi siapa saja  yang menyakitinya.

Untuk menjaga keiifahan diri seorang perempuan  maka wajib adanya peran yang saling peduli satu dengan yang lainnya. Dan peran berbagai elemen ini harus berjalan sebagaimana mestinya, seperti :

1.Ketaqwaan Individu

Islam mendorong setiap insan bertaqwa yang  akan mampu menjalankan segala aktivitasnya sesuai fitrah manusia bukan fitrah kebinatangan. Manusia bertaqwa hanya takut kepada Allah, sehingga ia tak akan berani melakukan perbuatan yang melampaui batas karena semua akan dimintai pertanggungjawaban olehNya.

2.Kepedulian lingkungan Dalam Beramar Ma'ruf Nahiy Munkar.

Masyarakat bertaqwa tak akan membiarkan kemungkaran terjadi sehingga budaya  saling mengingatkan kebaikan terus tumbuh. Tak akan membiarkan lingkungan rusak terjadi dihadapan. Karena satu perbuatan dosa maka akan imbas kepada manusia yang lain. Naudzubillah min dzaalik

3.Penguasa Beriman Siap Menjadi Junnah atau Perisai.

Penguasa memiliki peran besar dalam menjaga warganya  dalam urusan agama dan dunianya.Tidak akan membiarkan warga negaranya  tersakiti karena perbuatan kriminal dengan melegalkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh)  dan memberlakukan  sanksi tegas berdasarkan syariat Allah. Penguasa bagaikan perisai yang siap melindungi setiap warga.

"Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimanaberperang (orang-orang) akan di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Bagi pelaku maksiat tidak akan  dibiarkan berkeliaran begitu saja, harus diberikan tindakan tegas hingga jera. Rajjam bagi pelaku zina dan pemerkosaan bagi yang Muhson (sudah menikah) dan Jilid 100 kali bagi Ghoiru Muhson (yang belum menikah).

Sudah saatnya manusia kembali kepada aturan hidup berdasarkan ketetapan Allah bukan aturan hidup buatan manusia yang lemah seperti Sekuler Kapitalis yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia, bahkan Komunis tak bertuhan.  Penguasa beriman, akan kembali kepada aturan Allah hingga rasa aman warganya diperoleh . Hanya dengan syariat Islam kaaffahlah  keiffahan seorang perempuan dan keluarga muslim akan mampu terjaga dari tindakan maksiat. Wallahu'alam bishshowab.[]

*Praktisi Pendidikan, Muslimah Peduli Generasi

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Hawilawati, S.Pd*: Ketika Naluri Ayah Hilang Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com