Latest News
Saturday, July 13, 2019

Laila Thamrin*: Rekonstruksi Cinta Keluarga, Cinta Terencana

Laila Thamrin
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  "Cinta Keluarga, Cinta Terencana" merupakan slogan yang diusung dalam Harganas XXVI tahun 2019. Mengambil tempat peringatan di Kota Banjarbaru provinsi Kalimantan Selatan, puncak acara dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2019. Hari Keluarga Nasional (Harganas) diperingati setiap tanggal 29 Juni di Indonesia. Slogan tersebut tak lepas dari Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) untuk mewujudkan Indonesia yang berkarakter dan sejahtera. 

Berbagai acara dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan ini sejak tanggal 3 Juli 2019.  Di antaranya Festival  Penggalang Ceria, GenRe Edu Camp, One Stop Service pelayanan untuk anak anak, One Day for Children untuk anak-anak terlantar juga pelayanan KB gratis untuk pasangan usia subur. Semua bertujuan menggelorakan dan menyosialisasikan semua program pemerintah berkaitan dengan kependudukan.

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya membangun keluarga sejahtera lahir dan batin. Sekaligus agar masyarakat Kalsel paham bagaimana menjaga bumi dan menekan ledakan penduduk. Dia mengatakan di sela-sela persiapan peringatan Harganas XXVI, “Ingat bumi kita ini stagnan, dia tidak berubah, tidak akan bertambah luas. Tanah yang ada dimanfaatkan warga bumi dan semakin berkurang karena populasi manusia yang selalu bertambah. Salah satu upaya untuk meminimalkan, kita melaksanakan program Keluarga Berencana.” (mediaindonesia.com, 02/01/2019)

Dua hal yang menjadi sorotan dalam peringatan Harganas XXVI  ini, yaitu maraknya perkawinan usia anak dan efektivitas program Keluarga Berencana. Sehingga setiap program yang dicanangkan tak lepas dari upaya mengurangi laju pertambahan penduduk dengan cara mencegah  pernikahan usia anak atau membatasi jumlah kelahiran bagi pasangan usia subur. Inilah wujud "Cinta Terencana" yang dimaksudkan. Namun, benarkah dengan program tersebut kesejahteraan keluarga lahir dan batin bisa tercapai? 

Mengurai Masalah

Tingginya angka perkawinan anak di Indonesia telah mendudukkannya pada peringkat ke-7 di dunia dan ke-2 di ASEAN. Sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah perkawinan anak tertinggi di Indonesia, yaitu 39,53%. Diikuti oleh provinsi Kalimantan Tengah (39,21%), Kep. Bangka Belitung (37,19%), Sulawesi Barat (36,93%), dan Sulawesi Tenggara (36,74%). Dan masih ada 23 provinsi lagi yang angka persentase perkawinan anaknya di atas 25,71%. (cnnindonesia.com, 09/03/2019)

Karenanya untuk menurunkan angka tersebut, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah mengelola beberapa program KKBPK di Indonesia. Seperti program GenRe (Generasi Berencana) yang dilaksanakan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah-sekolah dan masyarakat. Juga didirikannya Kampung KB di berbagai daerah. Yang semua program tersebut pada intinya merupakan program pencegahan pernikahan usia anak dan pembatasan jumlah anak dengan kontrasepsi.

Zumrotin K Susilo, Dewan Pengawas International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan Pengurus Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) bahwa untuk membangun bangsa yang sejahtera, berkualitas, dan bebas diskriminasi gender sebagaimana maksud dari SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, maka pernikahan anak di Indonesia harus diakhiri. Karena penghapusan pernikahan anak merupakan salah satu indikator keberhasilan SDGs. Sehingga ini harus menjadi komitmen berbagai kementerian antara lain Kemenkes, Kemen PPPA, Kemendiknas, BKKOS Kemensos dan Kementerian Agama. Dan upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan memastikan bahwa anak-anak perempuan dapat mengejar pendidikan tinggi dan keterampilan kejuruan, dan menyiapkan peluang masa depan untuk memperoleh penghasilan.(sindonews.com, 18/09/2018) 

Dari sini kita bisa pahami bahwa program pencegahan pernikahan usia anak ini merupakan bagian dari rencana pembangunan global yang dimotori Barat. Pemberdayaan ekonomi kaum perempuan menjadi tujuan utama yang ingin dicapainya. Ide kesetaraan jender begitu kental terasa. Dimana perempuan harus berdaya secara ekonomi agar memiliki posisi tawar yang tinggi di masyarakat. Karena jika perempuan memiliki kemampuan finansial yang memadai dia dianggap telah setara dengan kaum laki-laki. Tentu saja ini pemikiran yang tak sejalan dengan Islam.

Di sisi lain, Sekulerisme telah merasuk kuat di kehidupan masyarakat. Peran Allah sebagai pengatur manusia hanya ditempatkan pada perkara privat. Sementara untuk urusan kehidupan lainnya, agama ditanggalkan. Alhasil, kebijakan pencegahan pernikahan usia anak memicu berbagai persoalan baru tersebab masyarakat terpapar pornoaksi dan pornografi dimana-mana.  Sehingga pergaulan tanpa batas, seks bebas, hubungan sejenis, aborsi, pembuangan bayi, prostitusi online, dan lain sebagainya semakin marak terjadi. 

Padahal dalam Islam ketika seorang anak telah baligh dan mampu, secara hukum fiqih dia boleh menikah. Dan jumlah anak yang dilahirkan tak pernah dibatasi, karena setiap makhluk dijamin Allah rezekinya. Bahkan Rasulullah Saw sangat membanggakan jumlah umatnya yang banyak di akhirat kelak. 

Pertambahan jumlah penduduk muslim ini juga semakin menakutkan Barat. Apalagi di tahun 2030 diprediksi Indonesia memperoleh bonus demografi kependudukan. Bukankah jika anak-anak kaum muslimin yang mayoritas di Indonesia bertambah banyak, kebangkitan Islam semakin dekat? 

Bangunan Kokoh Keluarga Muslim

Keluarga merupakan unit terkecil dalam sebuah masyarakat. Perannya sangat penting dalam menentukan warna sebuah masyarakat, karena pendidikan pertama setiap anak berawal dari keluarga. Dan anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi generasi penerus sebuah bangsa. 

Dalam Islam, pendidikan akidah harus menjadi pondasi utama dalam keluarga. Peran ibu sebagai pendidik generasi sangat urgen. Sehingga, Islam tak mewajibkan perempuan bekerja. Sementara peran ayah sebagai penanggungjawab bagi seluruh anggota keluarganya, tak hanya untuk perkara di dunia, tapi di akhirat juga. 

Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (TQS. At Tahrim : 6)

Pernikahan adalah ibadah karena merupakan bagian dari syariat Islam dengan syarat dan ketentuan yang baku. Diantaranya, baligh dan mampu. Mampu di sini tentu saja tak hanya dari sisi fisik, tapi juga finansial dan pemikiran. 

Menikah bukan sekedar mengumpulkan dua insan yang berbeda jenis dalam ikatan yang halal. Namun menikah berarti kesiapan bagi laki-laki memikul tanggungjawab membimbing, mengayomi dan menafkahi istrinya, juga anak-anaknya, untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan bagi perempuan, siap untuk menaati suaminya, melahirkan anak-anak serta mengasuh dan mendidiknya. Semua amal tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Negara punya peran penting untuk menjamin agar setiap keluarga muslim terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Untuk itu, negara harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi para ayah agar mereka bisa memperoleh harta. Dengan hartanya itulah para ayah akan mampu menafkahi keluarganya.

Sumber daya alam yang melimpah di negeri-negeri Islam seharusnya menjadi bekal untuk kesejahteraan rakyatnya. Dieksplorasi, diolah, kemudian didistribusikan kepada seluruh rakyat. Sehingga kemiskinan dapat ditekan dan setiap keluarga muslim, berapapun jumlah anaknya, akan terpenuhi kebutuhannya. Karenanya, bangunan kokoh sebuah keluarga muslim haruslah didukung oleh kekuatan negara. 

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, "Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesehatan dan pendidikan generasi pun menjadi perhatian negara dalam sistem Islam. Berbagai fasilitas kesehatan dan pendidikan, juga fasilitas umum lainnya akan dibagun oleh negara tanpa campur tangan pihak asing. Dan masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut secara cuma-cuma. Kurikulum pendidikan dibuat berbasis akidah dan syariat Islam. Agar peserta didik fokus pada pemikiran dan pemahaman Islam.

Dari sistem Islam seperti inilah akan terlahir sosok-sosok generasi muda muslim yang tangguh, yang siap berjuang untuk menjaga Dinullah. Begitulah gambaran keluarga muslim yang bahagia dan sejahtera lahir dan batin. Kebahagiaannya terasa di dunia, hingga sampai di Jannah-Nya.

Jadi, slogan "Cinta Keluarga, Cinta Terencana" harus direkonstruksi sebagai cinta keluarga karena Allah, dan merencanakan keluarga semata-mata untuk beribadah kepada Allah.

Allah swt berfirman, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (TQS. adz Dzariyat : 56). Wallahua'lam bish shawwab.[]

*Praktisi pendidikan
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Laila Thamrin*: Rekonstruksi Cinta Keluarga, Cinta Terencana Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com