Latest News
Thursday, July 11, 2019

Lulu Nugroho*: Derita Buruh Migran

Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA - Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) kabupaten Majalengka Dr H Sadili MSi mengatakan, dari awal tahun 2019 disnaker mencatat ada 12 laporan pengaduan pekerja migran Indonesia (PMI) yang bermasalah di luar negeri.(Idntimes, 8/7/2019).

Dari 12 laporan tersebut masalahnya bermacam-macam mulai dari mulai meninggal, gaji tidak dibayar, dan kecelakaan kerja. Sebagai solusi, pihaknya melakukan sinergi dengan berbagai pihak termasuk purna palang merah Indonesia (PMI) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang selama ini dinilai sudah banyak mengenal berbagai permasalahan tenaga kerja di luar negeri.

Salah satunya adalah seorang pekerja migran Indonesia asal Blok Cambay, RT 09/03, Desa Pakubeureum, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka , Nadya Pratiwi (27) meninggal di Kairo, Mesir. Kematian ini diduga akibat korban jatuh dari lantai III apartemen majikannya. Pulang sebagai jenazah, tiba di rumah keluarga, Sabtu, 6 Juli 2019 pukul 01.00 WIB.

Selain Nadya, ada Tasini (41) yang bekerja di  Abha, Saudi Arabia selama 10 bulan, pulang ke kampung halamannya dengan kondisi mengenaskan akibat siksaan majikannya. Warga Blok Loji, Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka itu kini harus menjalani perawatan di RSUD Majalengka sejak tiba di Majalengka, sejak Jumat malam 5 Juli 2019, akibat luka yang dialaminya, sekujur tubuhnya sulit digerakkan.

Sekalipun telah banyak fakta buruk terkait buruh migran, akan tetapi minat masyarakat menjadi tenaga kerja di luar negeri masih sangat tinggi. Sementara banyak kasus yang belum bisa dituntaskan. Hingga akhirnya persoalan yang sama terjadi berulang kali. Tapi tetap saja, para perempuan tergiur melihat pengalaman lain yang kembali ke tanah air dengan membawa uang banyak.

Minimnya keahlian, pendidikan yang rendah serta tanpa pengalaman kerja, membuat perempuan rela meninggalkan tanah air mengadu nasib di negeri orang. Dengan alasan desakan ekonomi, minimnya lapangan kerja, dan tuntutan menafkahi keluarga, mendorong para perempuan meninggalkan keluarganya.

Bahkan tidak ada yang menyangka, pekerja migran asal Indonesia masih menjadi pahlawan devisa bagi bumi pertiwi. Sayangnya label sebagai pahlawan bukanlah pujian yang patut dibanggakan. Sebab tidak berbanding lurus dengan penghargaan yang layak, yang seharusnya diberikan oleh penguasa terhadap warganya.

Pengiriman uang (remitansi) dari pekerja migran berperan cukup besar dalam neraca transaksi berjalan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penerimaan remitansi dari pekerja imigran selama 2018 mencapai US$ 10,97 miliar atau setara Rp 153,58 triliun. Angka tersebut meningkat 24,66% dibandingkan periode 2017 yang tercatat US$ 8,8 miliar. (CNBCIndonesia, 23/5/2019).

Buruh migran yang sebagian besar adalah perempuan, makin hari makin banyak jumlahnya. Undang-undang tenaga kerja No.14 Tahun 1969 walaupun sudah lama disahkan namun implementasinya masih abu-abu. Banyak sekali buruh migran perempuan yang mengalami penindasan tanpa adanya pembelaan.

Sedangkan mereka sebenarnya berhak atas perlindungan keselamatan, kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia. Negaralah seharusnya yang menjamin penjagaan kehormatan warganya. Negara wajib melindungi pahlawannya di dalam maupun di luar negeri.

Sayangnya hal ini terjadi. Negara abai. Lepas tangan terhadap persoalan warganya. Inilah ciri negara pengemban sekularisme. Undang-undang yang separuh hati. Penjagaan yang tidak terpenuhi. Hingga akhirnya warga mengalami penderitaan yang terus datang bertubi-tubi tanpa bisa dihindari.

Berbeda dengan sekularisme, Islam sangat tegas melarang perempuan bekerja di luar negeri menjadi buruh migran, alasan pertama adalah karena para perempuan meninggalkan rumah tanpa disertai mahramnya. Sekalipun untuk tujuan mencari nafkah.Larangan ini didasarkan pada hadis Nabi Saw

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ
“Seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak diperbolehkan bepergian dalam jarak waktu satu hari satu malam tanpa ditemani mahramnya (HR. Bukhari)

Tak hanya itu, berbagai masalah sering menimpa buruh perempuan ini baik di dalam maupun di luar negeri, seperti pelecehan seksual, perkosaan, penganiayaan fisik kekerasan, hingga terjadinya pembunuhan, pemotongan upah, dan pungutan liar oleh pejabat dan agen terkait, dan lain-lain.

Oleh sebab itu menjadi buruh migran adalah haram berdasarkan kaidah fiqih Al-Wasilah ila al-Haram Muharramah yaitu segala perantaraan yang mengakibatkan terjadinya keharaman, hukumnya menjadi haram. (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, 12/199). Ini merupakan alasan kedua.

Maka pengiriman tenaga kerja perempuan ke luar negeri pun wajib dihentikan, sesuai kaidah fiqih Al-Dharar yuzaal yaitu segala macam bahaya wajib dihilangkan. (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa Al-Nazha`ir, hal. 83; M. Bakar Ismail, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Bayna Al-Ashalah wa Al-Taujih, hal. 99).

Dalam Islam, tugas mencari nafkah ada pada suami. Perempuan tidak dibebani hal yang demikian. Dalam kondisi ketiadaan suami, maka tanggung jawab dilimpahkan pada wali. Jika wali terhalang, maka tugas tersebut jatuh kepada negara. Negara yang berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar perempuan yang menjadi warganya.

Dalam pemerintahan yang mengemban sekularisme, meniadakan peran Allah dalam mengurusi umat. Perempuan juga tidak diurusi. Sehingga perempuan tercerabut dari tugas utamanya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Padahal sejatinya, melalui tangan perempuanlah akan muncul generasi emas peradaban.

Sekularisme yang hanya melihat materi sebagai tujuan aktivitas mereka, tidak peduli nasib perempuan. Asalkan roda perekonomian negara berputar tersebab masuknya triliunan rupiah.  Tidak melihat betapa para perempuan menggadaikan kehormatan bahkan nyawanya. Sekularisme tidak memiliki mekanisme penjagaan yang komprehensif.

Oleh sebab itu hanya Islam, sistem sahih yang datang dari Sang Pencipta. Allah yang maha menjaga makhluknya, memiliki seperangkat aturan yang menjamin keteraturan dan kebaikan dalam kehidupan. Maka sudah saatnya meninggalkan sekularisme. Terbukti sistem ini gagal melindungi perempuan. Kembali pada Islam, agar tidak ada lagi perempuan bernasib buruk seperti kasus Nadya dan Tasini. Wallahu 'alam


*Muslimah Penulis dari Cirebon
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Lulu Nugroho*: Derita Buruh Migran Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com