Latest News
Saturday, July 13, 2019

Masra La Usu*: Demokrasi Bukanlah Jalan Perubahan yang Hakiki

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Belum lama ini, tepatnya pada 17 April 2019, Indonesia telah menggelar sebuah pesta rakyat yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Di dalamnya terdapat banyak janji yang diucapkan oleh rezim yang akan berkuasa. Rakyat pun menaruh harapan kepada para calon penguasa agar bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. 

Namun bisa dilihat bahwa sampai sekarang perubahan yang diinginkan oleh rakyat itu tak kunjung datang. Bahkan kondisi dalam negeri ini bertambah buruk usai pemilihan. Padahal sudah 74 tahun Indonesia merdeka dan sudah berganti-ganti rezim tetapi perubahan yang diimpikan rakyat belum juga terwujud. Mengapa demikian? Apakah sistem demokrasi yang melahirkan rezim-rezim baru itu akan membawa perubahan yang hakiki?

Sudah jelas yang menjadi penyebabnya pastilah sistem yang dianut oleh negara ini, yaitu sistem demokrasi. Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya (KBBI).

Jika dilihat dari definisinya, maka akan didapati bahwa demokrasi yang memiliki slogan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat itu merupakan sistem yang bobrok sehingga tidak bisa dijadikan jalan untuk menuju perubahan yang hakiki. Faktanya bisa dilihat dari masalah yang muncul di negeri ini, seperti kematian petugas KPPS yang sampai sekarang belum diungkap, terjadinya kecurangan pemilu, kotak suara yang rusak dan masih banyak lagi. Ini menandakan bahwa demokrasi dapat merusak politik. 

Di sisi lain, demokrasi juga dapat merusak ekonomi, moral bahkan dapat merusak agama. Hal ini disebabkan karena demokrasi merupakan sistem buatan manusia yang bersumber dari akal manusia, berlandaskan asas sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan sehingga aturan-aturan di dalamnya juga tidak mampu mengatur kehidupan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, adalah suatu hal yang mustahil jika perubahan yang hakiki dapat ditempuh dengan jalan demokrasi. Meskipun ada pemimpin yang berusaha menerapkan Islam lewat sistem demokrasi, hal itu tidak akan tercapai karena asing dan aseng tidak akan membiarkan Islam sampai pada kekuasaan melalui jalan tersebut. Seperti halnya di Mesir, melalui jalan demokrasi, Muhammad Mursi memenangkan pilpres pada tahun 2012. Namun setahun kemudian Mursi ditumbangkan oleh Junta Militer Mesir yang dipimpin oleh Letnan Jendral Abdul Fattah Al sisi.

Dengan demikian, indonesia membutuhkan solusi sistem Islam untuk memecahkan segala problematika yang ada. Karena hanya sistem Islam lah yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati. Sistem Islam dapat menghantarkan seorang penguasa yang adil, baik adil terhadap kaum muslim maupun kaum nonmuslim yang berada di dalam jangkauan negara yang menerapkan sistem Islam tersebut. Dan hal ini sudah terbukti selama 13 abad ketika Islam berjaya.

Maka dari itu dakwah tetap digencarkan agar ummat itu tesradarkan bahwa ummat butuh syariat Islam yang mana berasal dari Sang Al-Mudabbir, menerapkannya dalam bingkai khilafah agar bisa membawa ummat pada perubahan yang hakiki. Bukan butuh demokrasi yang dibuat oleh manusia, yang kerusakannya sudah jelas-jelas nyata.[]

*Mahasiswi jurusan Akuntansi,  Universitas Khairun Ternate
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Masra La Usu*: Demokrasi Bukanlah Jalan Perubahan yang Hakiki Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com