Latest News
Thursday, July 4, 2019

Novia Roziah*: Gairah Hutang Berkedok Level Aman

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Ada jargon unik yang pernah saya dengar, "jika ingin hidup bergairah,  maka berhutanglah." Sepintas mendengarnya seolah hal ini wajar  saja. Tidak ada yang salah. Malah mungkin sebagian kita merasa dengan berhutang maka kita akan lebih bersemangat untuk bekerja, berkarya. 

Ditambah lagi, pemahaman sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap sebagai suatu kewajaran jika jumlah hutang yang diambil masih berada di bawah jumlah asset yang dimiliki. Sebenarnya pemahaman seperti ini merupakan pemahaman yang keliru. Mengapa demikian? Coba saja kita  perhatikan. Jika kita memiliki asset yang cukup, bukankah seharusnya kita tidak perlu berhutang? 

Hutang yang terus bertambah.

Agaknya hal inilah yang menjadi alasan pemerintah Indonesia, untuk terus menambah hutang.  Menteri keuangan Sri Mulyani menyebut total utang Indonesia hingga akhir 2018 mencapai Rp4.418 triliun. Masih menurut Sri Mulyani, hal ini sesuai dengan UU terkait keuangan negara, batas aman utang Indonesia maksimal 60 persen PDB. Cnnindonesia.com

Namun kata aman untuk jumlah utang sebesar itu sebenarnya tak bisa hanya dibandingkan dengan jumlah PDB yang ada. Pasalnya, aman atau tidaknya jumlah utang yang telah ditarik juga harus dilihat dari kemampuan negara tersebut membayar utangnya, yakni dari sisi produktivitasnya.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny Sri Hartati menjelaskan, utang yang telah ditarik itu harus menghasilkan sesuatu yang produktif, yang bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Utang yang dianggap produktif itu tak hanya sekedar bisa memenuhi aspek likuiditas seperti kemampuan membayar bunga dan cicilan, tapi juga bisa memberikan pertumbuhan ekonomi yang produktif dan berkualitas karena ada tambahan investasi. Detik.com

Jumlah PDB Indonesia yang besar memang menjadi modal bagi pemerintah untuk bisa terus menambah utang. Namun PDB tanpa investasi yang besar juga berbahaya bagi kondisi perekonomian negara secara berkelanjutan.

Benarkah hutang Indonesia masih di level aman?

Hutang individu pada hakikatnya sama dengan hutang yang diambil oleh Negara. Jika individu berhutang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, maka hutang yang diambil oleh Negara adalah dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Tapi, apakah benar demikian yang terjadi?

Pada faktanya hutang Indonesia yang begitu besar, dipergunakan untuk membangun infrastruktur yang tidak produktif. Contohnya di Papua. Di sana hanya terdapat sedikit mobil, tapi mengapa pembangunan tol begitu gencar, dengan mengeluarkan dana yang begitu besar, padahal biaya perawatan tol itu cukup besar. Selain untuk infrastruktur yang tidak produktif, sekitar 19, 2% dipergunakan untuk membayar hutang tahun sebelumnya, gali lubang tutup lubang. Jadi wajar jika direktur INDEF tidak sepakat dengan Menkeu terkait semangat berhutangnya yang  katanya "masih di level aman", karena hutang Indonesia juga bukan dipergunakan untuk investasi produktif.

Banyak bukti yang menggambarkan betapa hutang luar negeri merupakan sebuah jebakan berbahaya bagi sebuah negara karena telah mencabut jiwa kemandiriannya. Ambil lah contoh misalnya Zimbabwe karena dinilai tidak mampu membayar hutang proyek infrastrukturnya pada 1 Januari 2016 Zimbabwe mendeklarasikan negaranya tidak mampu membayar hutang. Konsekuensinya, mereka harus mengganti mata uangnya menjadi mata uang negara pemberi hutang, dalam hal ini China. Yakni Yuan sebagai imbalan penghapusan hutang. 

Indonesia menjadi negara hebat, tanpa hutang
Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Dengan kata lain, sebenarnya Indonesia memiliki asset yang sangat memadai untuk menjadi salah satu negara super power di kancah perpolitikan dunia. Namun, sayangnya neoliberalisme melalui pemberian hutang ribawi nya telah menjajah habis negara ini. Terbukti dengan semakin meningkatnya prosentase hutang luar negeri Indonesia dari tahun ke tahun, yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak mandiri secara ekonomi.

Sepatutnya pemerintah tidak hanya bersembunyi di balik level aman batas hutang negara, kemudian leluasa untuk kembali mengambil hutang.

Fokus negara bukannya sibuk menambah hutang setiap tahun. Justru Pemerintah harus fokus dan serius mengelola asset yang dimiliki agar dapat terbebas dari hutang dan menjadi negara yang mandiri.

Impian Indonesia menjadi negara yang kuat dan mandiri agaknya jauh panggang dari pada api. Selama sistem kapitalisme dan liberalisme mencengkeram kuat sendi-sendi kehidupan bangsa ini, maka kekuatan dan kemandirian Indonesia tidak akan pernah terwujud.

Satu- satunya sistem yang dapat membangkitkan taring  macan Asia ini hanyalah Islam. Sebab  Islam memiliki sistem aturan yang lengkap dan mampu menjawab segala tantangan serta mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi ini. Tidak hanya di Indonesia  namun bagi seluruh dunia, karena Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bisshowab.[]

*Pendidik, freelance writer
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Novia Roziah*: Gairah Hutang Berkedok Level Aman Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com