by

Terkait Kontrak PTFI Suhu Politik Kian Panas

Freeport.[grasberg]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – MESKI santai dan bernada bergurau, ucapan Menko Maritim dan Sumber
Daya Rizal Ramli mengenai langkah Menteri ESDM Sudirman Said yang
membeberkan dugaan Ketua DPR RI Setya Novanto mencatut nama Presiden
Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla menarik dicermati. Rizal mengibaratkan
rakyat Indonesia sedang dihibur sementara antar geng yang kadang perang,
kadang berdamai.


Istiah “geng” dari Rizal itu seolah-olah membenarkan sinyalemen di
masyarakat tentang situasi politik nasional pada umumnya dan khususnya
situasi dalam pemerintah yang dipimpin Presiden Jokowi. Berbagai
peritiwa politik yang disuguhkan elit-alit politik akhir-akhir ini
memang seperti adegan dalam sinteron dilayar televisi, ada intrik sampai
persekongkolan untuk merebut jabatan atau kekuasaan.


Begitu juga situasi antara menteri-menteri di kabinet Jokowi-Jusuf
Kalla, sudah tidak rahasia lagi, diantara mereka ada ketidakkompakan
dalam memandang suatu kebijakan yang telah diputuskan pemerintah. Tidak
heran sering ada letupan dan menimbulkan kegaduhan mewarnai jalannya
pemerintahan ini.


Suka dan tidak suka, sejak Sudirman Said mengungkap perilaku tidak
terpuji seorang politisi kuat di parlemen dengan mencatut nama Presiden
Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla ketika bernegosiasi dengan bos PT
Freeport Indonesia, suhu politik cepat mendidih dan menimbulkan
kontroversi. Selain ada yang memuji langkah Sudirman Said tidak sedikit
juga yang balik menyerangnya.


Keadaan semakin memanas setelah dia membuka identitas pelaku pecatut
itu. Tak bisa dihindari persoalan ini terus bergulir dan meramaikan
kancah politik Indonesia setelah Sudirman Said melaporkan hal ini ke
Mahkamah Kehormatan Dewan(MKD) DPR beserta bukti berupa rekaman
pembicaraan antara Ketua DPR Setya Novanto dengan CEO PT Freeport
Indonesia Maroef Sjamsuddin dan pengusaha minyak Riza Chalid


Dalam pembicaraan yang termuat dalam transkrip rekaman pembicaraan
tersebut, menyebut nama Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla,
Menkopolhukam Lubut B Panjaitan dan seorang deputi di kantor Staf
Kepresidena, Darmawan Prasodjo. Dalam pertemuan untuk ketiga kalinya
itu, mereka berdiskusi membicarakan perpanjangan kontrak PT Freeport
Indonesia di Papua tetapi ada embel-embel minta jatah saham untuk
presiden dan wapres.


Salah satu catatan menarik dari persoalan ini adalah pendapat berbeda
yang disampaikan Sudirman Said dengan Luhut Panjaitan. Sudirman
menyatakan keputusannya melaporkan dugaan pencautnan ke MKD DPR sudah
diketahui atau atas ijin Presiden Jokowi, sementara menurut Luhut ,
Sudirman tidak melapor ke presiden


Masalah ini terus semakin menarik karena Wapres Jusuf Kalla membantah
ucapan Luhut dan membenarkan ucapan Sudirman Said. Mudah ditebak,
masyarakat bisa berkesimpulan Sudirman Said berada dibelakang Wapres
Jusuf Kalla. Sementara Setya Novanto balik menyerang Sudirman Said
setelah mendengar pernyataan Luhut Panjaitan yang seolah-olah diback up
Luhut.


Rizal Ramli sendiri memang tidak terlibat dalam persoalan ini. Tetapi
sebelumnya dia pernah bersitegang dengan Wapres Jusuf Kalla dan
Sudirman Said terkait rencana membangun mega proyek pembangkit tenaga
listrik 35 ribu watt. Adakah Rizal Ramli diantara “geng” ini ? ***[BB]

Comment

Rekomendasi untuk Anda