by

Dendam kesumat OC Kaligis pada KPK

OC Kaligis dan Velove Vexia. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pengacara senior OC Kaligis begitu senang Johan Budi dan Busyro Muqoddas
tidak lagi terpilih jadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Bagi Kaligis, saat keduanya di KPK banyak kasus-kasus besar yang tidak diselesaikan.

Kaligis
juga begitu ketus mengomentari lima pimpinan baru KPK, yakni Basaria
Panjaitan, Alexander Marwarta, Agus Rahardjo, Laode M Syarif dan Saut
Situmorang. Dia tak ingin para pimpinan mengusut korupsi demi pencitraan.

“Ya pimpinan KPK yang baru jangan bekerja untuk popularitas,” tegas pengacara yang tersangkut kasus rasuah itu.

Lalu,
dia juga menuding adanya tebang pilih dalam menangani kasus di lembaga
anti-korupsi itu. Bahkan, Kaligis berani menyebut nama para mantan
pimpinan beserta kasus yang terkesan dilindungi.

“Banyak
masalah-masalah kan, misalnya Bibit-Chandra, kemudian Johan Budi
mengurus masalah E-KTP di rumahnya Nazaruddin didiamkan, kalau kita baru
begini dibesar-besarkan,” tuturnya.

Kaligis memang dikenal
keras terhadap KPK. Sejak era Antasari Ashar, dia sering melontarkan
ucapan-ucapan pedas. Sebagai contoh, OC Kaligis menilai selama ini KPK
seolah tidak ingin menerima kritik terhadap sejumlah kesalahan prosedur
yang dilakukan dalam penegakan hukum.

“Kenapa KPK tidak boleh
diawasi. Malaikat aja diawasi sama Tuhan. Apalagi KPK. Jadi kalau ada
oknum KPK yang buat salah tidak boleh dikritik. Bagaimana bisa begitu,”
kata Kaligis.

Kaligis juga mengkritik KPK saat menetapkan Komjen
Budi Gunawan sebagai tersangka. Menurut Kaligis, penetapan tersangka itu
dilakukan secara mendadak tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu
sejak kurun tahun 2004-2014.

Budi, kata dia, tidak pernah
diperiksa dalam tahap penyelidikan dan penyidikan sebelumnya. Ini kata
dia, melanggar pasal 1 ayat 2 KUHAP, di mana sebuah perkara harusnya
mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu dan pemeriksaan, kemudian
menetapkan tersangka.

Pada kesempatan lain, Kaligis juga menilai
kalau KPK selalu menggunakan sentimen publik untuk mencari perhatian.
Menurut dia, seolah-olah KPK itu selalu benar dan suci hinga tidak mau
ada yang mengkritik dan mengawasi.

“Malaikat saja diawasi Tuhan, kenapa KPK tidak mau diawasi?” tegasnya.

OC
Kaligis pun sangat menyayangkan adanya anggapan di publik bahwa
seolah-olah KPK itu tanpa cacat. Menurutnya, lembaga antirasuah itu juga
selalu menggunakan parlemen jalanan untuk menutupi kekurangannya.

Dendam
kesumat Kaligis makin menjadi ketika menjadi tersangka kasus korupsi.
Saat di persidangan dia merasa sudah dijadikan target oleh KPK.

“Saya
sudah menjadi target operasi KPK, fakta-fakta tersebut diabaikan KPK.
Bahkan KPK membangun rangkaian peristiwa satu dengan lain untuk
menempatkan saya dalam posisi sebagai apa yang petugas KPK sebut sebagai
dalang penyuapan,” jelasnya.

Kaligis juga menilai bahwa
perkaranya seharusnya masuk rekor MURI KPK. Pernyataan ini lantaran
Kaligis merasa KPK begitu cepat menjebloskannya ke penjara dibanding
para tersangka lain.

“Ada sesama tahanan Guntur, dua tahun
tersangka baru masuk ke sel isolasi. Sesama tahanan memberi julukan ‘Pak
Kaligis Manusia Super Korban KPK, dalam waktu kurang 30 hari sudah
P-21,” tandasnya.[sumber]

Comment

Rekomendasi Berita