by

Sejarah Islam Di Kazakhstan

Sabina Altynbekova, muslimah Kazakhtan.[pewarta]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kazakhstan adalah sebuah negara yang terletak di Asia Tengah, merupakan
negara ke-9 terbesar wilayahnya di dunia. Negara ini sarat dengan multi
budaya, yaitu perpaduan antara kekuatan Turki dan Mongol. Rentang waktu
yang panjang kedua suku bangsa tersebut menguasai Kazakhstan sejak abad
ke-6 hingga abad ke-18, mempunyai pengaruh besar terhadap suku bangsa
yang mendiami Kazakhstan saat ini. Secara genetik, mereka adalah
percampuran antara suku bangsa Turki dan Mongol. Pada abad ke-17, para
pedagang dan tentara Rusia mulai memasuki Kazakhstan, dan pada akhirnya
mereka menguasai negara ini hingga abad ke-20.



Dengan luas wilayah 2.717.300 km2, setara dengan empat kali luas wilayah
negara bagian Texas Amerika Serikat, Kazakhstan mempunyai iklim kering,
dingin di musim dingin dan panas di musim panas. Negara ini berbatasan
dengan Rusia, Cina, Kyrgyzstan, Turkmenistan dan Uzberkistan.
Berpenduduk sekitar 15.185.844 orang, terdiri dari berbagai suku, antara
lain Kazakh, Rusia, Ukraina, Uzbek, Jerman, Tatar, Uygur, mayoritas
beragama Islam (47%), Rusia Ortodox (44%) dan lainnya 9%. Angka
pertumbuhan penduduk rata-rata 0,3% per-tahun, angka kelahiran 15,78
per-1000, dan angka kematian 9,46 per-1000. Bahasa nasional mereka
adalah Kazakh, di samping bahasa Rusia yang dipergunakan untuk bisnis
dan bahasa antar etnik.



Ekonomi
Ketika Kazakhstan ditaklukkan Uni Soviet pada abad ke-18, dan menjadi
salah satu republik di lingkungan negara federal Uni Soviet tahun 1936,
Kazakhstan dikenal dengan sebutan ‘virgin lands’, artinya secara
harfiah, banyak tanah di Kazakhstan yang belum tersentuh, khususnya
pemanfaatannya dalam bidang pertanian. Baru pada era tahun 1950-1960,
Uni Soviet mengeksplorasi tanah perawan tersebut menjadi lahan
pertanian. Setelah memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun
1991, pemerintah Kazakhstan bergerak cepat untuk memanfaatkan sumberdaya
alam, seperti minyak dan gas serta sektor pertambangan lainnya untuk
dijadikan sebagai sumber devisa negara. Dan pada tahun 1995-1997
pemerintah mencanangkan program reformasi ekonomi dan privatisasi, dan
hasilnya dapat dirasakan ketika pada tahun 2001/02, pertumbuhan
ekonominya mencapai 9,5%.



Kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa, industri dan
pertanian.Tidak jauh beda dengan Azerbaijan, Kazakhstan termasuk negara
yang sukses dalam mengembangkan perekonomiannya, sehingga pada tahun
2004, pertumbuhan ekonominya mencapai 9,1%, sedangkan inflasi hanya
mencapai 6,9%. Income per-kapita cukup tinggi, yaitu sebesar US $ 7,800.
Angkatan kerja sebanyak 7,95 juta orang, 50% diserap oleh jasa, 30%
oleh industri dan 20% diserap oleh pertanian. Oleh karena itu,
Kazakhstan termasuk negara makmur di Asia Tengah.



Produk pertaniannya berkisar pada padi-padian, kapas dan hewan ternak.
Sedangkan industri dan hasil tambang sangat melimpah, meliputi minyak
dan gas, batubara, biji besi, mangaan, seng, tembaga, titanium, bauksit,
emas, perak, fosfat. belerang, besi baja, traktor dan mesin pertanian
lainnya, motor elektrik, dan material konstruksi.



Komoditi eksportnya adalah minyak dan produk minyak, kimia, mesin,
biji-bijian, wol, daging dan batubara. Negara tujuan eksport adalah
Rusia, Bermuda, Cina, Jerman, Swiss dan Perancis. Sedangkan komoditi
yang diimport adalah mesin dan peralatannya, produk metal, dan makanan
olahan. Import berasal dari Rusia, Cina, Jerman dan Perancis. Indonesia
belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Tenge (KZT),
dengan nilai tukar US $ 1,- senilai 136,04 tenge.



Sejarah Pemerintahan
Republic of Kazakhstan dengan ibukotanya ASTANA (d/h Almaty sebelum
1998), terbagi dalam 14 provinsi, memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet
pada tanggal 16 Agustus 1991.


Untuk mendapatkan predikat sebagai negara merdeka, Kazakhstan telah
menempuhnya dalam rentang waktu yang sangat panjang. Sejak abad ke-6
Masehi, Kazakhstan telah dikuasai oleh bangsa Turki, dan pada abad ke-8
bangsa Arab menguasai sekaligus memperkenalkan Islam.. Dinasti Abbasiyah
yang berkuasa di Irak pernah menguasai pula pada abad ke-12, demikian
juga dinasti Genghis Khan pada abad ke-13, hingga Kazakhstan berada di
bawah kekuasaan Imperium Mongol hingga abad ke-18. Pada akhirnya dinasti
Khan (Khanate) berkuasa di Kazakhstan.



Pada abad ke-17, para pedagang dan tentara Rusia mulai memasuki
Kazakhstan, dan pada akhirnya mereka menguasai Kazakhstan dan
negara-negara Asia Tengah lainnya hingga abad ke-20.



Perasaan nasionalisme mulai muncul, ketika pada tahun 1917 kelompok
nasionalis sekuler yang dikenal dengan Horde of Alash (nama legendaris
bagi bangsa Kazakhs) menginginkan pemerintahan nasional yang independen,
dan mereka berhasil mewujudkannya, walaupun hanya berlangsung selama
dua tahun (1918-1920). Pemerintahan ini akhirnya dilindas oleh Uni
Soviet, dan Kazakhstan akhirnya dijadikan salah satu republik otonom di
lingkungan Uni Soviet.



Ketika Mikhail S. Gorbachev berkuasa, 1985-1991, Gennady Kolbin ditunjuk
sebagai penguasa di Kazakhstan, menggantikan Dinmukhamed Kunayev yang
dianggap oleh pemerintah Moscow melakukan KKN. Namun kepemimpinan Kolbin
tak disukai oleh warga Kazakhstan. Pada akhirnya kedudukan Kolbin
digantikan oleh Nursultan Nazarbayev, seorang insinyur, pada tahun 1989.
Ketika Gorbachev mendeklarasikan perestroika, dan diikuti oleh
kemerdekaan negara-negara di bawah payung Uni Soviet, pada tahun 1990,
maka pada bulan Maret 1990, Kazakhstan mengadakan pemilu multipartai,
dan Nursultan Nazarbayev memenangkan pemilu tersebut. Akhirnya pada
tanggal 16 Agustus 1991, Kazakhstan menyatakan kemerdekaannya, dan
melepaskan diri dari cengkeraman Uni Soviet, Terpilih sebagai presiden
pertama adalah Nursultan A. Nazarbayev, beliau berkuasa hingga tahun
2006 (pemilu presiden dilakukan setiap 7 tahun sekali).



Perkembangan Islam di Kazakhstan
Menurut Talgat Ismagambetov, penulis artikel Is Islamic Fundamental a
Threat in Kazakhstan, Islamisasi di Kazakhstan terjadi dalam 3 (tiga)
gelombang besar, pertama terjadi pada abad ke-10, kedua abad ke-19 dan
terakhir pada tahun 1990. Mayoritas penganut Islam di Kazakhstan
mengikuti paham Sunni (Hambali).



Islam masuk pertamakali ke Kazakhstan pada abad ke-8, ketika bangsa Arab
menguasai Transoxania (Mavarannahr), suatu area di bagian selatan
Kazakhstan, terletak antara sungai Syr-dar’ya dan Amu-dar’ya. Sedangkan
Islamisasinya terjadi pada abad ke-9 mendedkati abad ke-10. Pada abad
ini, Zoroaster, Kristen, Budha dan pagan masih banyak dianut oleh
penduduk Kazakhstan. Islamisasi ini berakhir ketika Mongol menguasai
Kazakhstan pada tahun 1220-an.



Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada abad ke-18 dan 19, ketika Islam
mendominasi di bidang politik. Namun Islamisasi pada gelombang kedua ini
pun tidak berlangsung lama, karena faktor politik pulalah, yang membuat
Islamisasi di Kazakhstan mengalami kemandegan. Faktor politik yang
memberangus Islamisasi adalah kuatnya dominasi pemerintah komunis Rusia
pada saat itu.



Gelombang ketiga Islamisasi terjadi pada tahun 1990, di mana Islam
tumbuh dengan cepat antara tahun 1990-1995. Pembangunan masjid baru
maupun menghidupkan masjid yang terbengkelai ketika komunis Soviet
berkuasa dilakukan hampir seluruh kota di seluruh Kazakhstan. Edisi
al-Qur’an pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet
Cyrillic diterbitkan di Almaty pada tahun 1992. Perguruan tinggi Islam
banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab.
Dengan ghirah Islam seperti itu, banyak negara-negara Islam yang
bersimpati dan akhirnya memberikan bantuan dana demi tegaknya Islam di
Kazakhstan, antara lain berasal dari Turki, Mesir dan Saudi Arabia.
Mereka memberikan donasi sebesar US $ 10 juta untuk membangun Pusat
Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Center) di Almaty, dan peletakan batu
pertama dilakukan oleh Nursultan Nazarbayev, Presiden Kazakhstan pada
tahun 1993. Walaupun Islam berkembang cukup baik di Kazakhstan setelah
jatuhnya Uni Soviet, tidak secara otomatis Islam dijadikan sebagai dasar
negara. Hal ini terbukti dengan diberlakukannya Konstitusi tahun 1995
yang menyebutkan bahwa Kazakhstan adalah negara sekuler.


Menyusul ditetapkannya konstitusi bahwa Kazakhstan adalah negara
sekuler, pertumbuhan komunitas Islam mengalami penurunan. Padahal
logikanya, Islamisasi gelombang ketiga adalah teradopsinya norma-norma,
cita-cita dan ritus Islam dalam skala luas, termasuk di dalamnya
Islamisasi politik. Namun, pada umumnya masyarakat Islam Kazakhstan
mempunyai gairah rendah, dan pengetahuan mereka terhadap prinsip-prinsip
Islam, sangat sedikit, termasuk terhadap politik Islam. Akibatnya,
Islam dianggap sebagai agama formalitas, dan ini dibuktikan dari hasil
poling yang dilakukan pada mahasiswa di Shymkent, Kazakhstan Selatan
yang hasilnya adalah: hanya 4% dari mereka yang aktif di masjid, 18%
hanya datang sekali atau dua kali dalam seminggu, 32% sekali atau dua
kali dalam setahun, dan 44% tidak lebih sekali dalam setahun. Walaupun
begitu, para ahli demografi memprediksi, di tahun 2015, penduduk
Kazakhstan berjumlah 18 juta jiwa, dan 60% yang secara tradisional
adalah pemeluk Islam.[sumber]

Comment

Rekomendasi Berita