by

Memahami Karakter Manusia oleh: Nilna Iqbal

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang suka buat rencana. Lalu besoknya bikin lagi. Besoknya bikin lagi. Tapi nggak ada satu pun yang jadi ..


Mengapa kok bisa begitu ya?

Florence
Litteur, penulis buku laris “Personality Plus” menguraikan, ada 4
sifat dasar atau karakter manusia. Kalau semua sudah dipahami, kita akan
sangat terbantu sekali berhubungan dengan berbagai macam karakter atau
tipe kepribadian orang lain.

Kita jadi mengerti mengapa seorang
suami tiba-tiba marah sekali ketika meja kerjanya yang sebelumnya
berantakan kita atur menjadi rapi.

Kita juga akan mudah memahami
mengapa seseorang begitu gampang berjanji… dan hebatnya, dengan mudah
pula ia lupa, “Oh ya, saya lupa” katanya sambil tertawa santai.

Kita
juga akan mudah mengerti mengapa seseorang nggak mau dengar sedikitpun
pendapat kita, tak mau kalah, terus saja mempertahankan diri, selalu
merasa benar dengan pendapatnya dan makin sengit bertengkar kalau mau
coba-coba mengalahkannya.


Apa saja 4 karakter kepribadian tersebut?

Yang pertama, kata Florence adalah tipe kepribadian Sanguinis, “Yang Populer”. 


Mereka
yang memiliki karakter ini cenderung ingin populer, ingin disenangi
oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang
sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan
transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat
kemudian bisa jadi tengah menangis tersedu-sedu.

Namun manusia
tipe sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung
berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur.

Jika suatu
kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya
bisa jadi ia seorang yang punya kepribadian sanguinis. Kemungkinan besar
ia memiliki sifat dasar kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering
lupa janji apalagi bikin planning/rencana.

Menariknya, kalau
diminta melakukan sesuatu, ia dengan cepat mengiyakan dan terlihat
sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan antusias ia
buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah,
beberapa hari kemudian ia tak melakukan apapun juga.

Lain lagi dengan tipe kepribadian kedua, yang sering disebut karakter melankoli, artinya “Yang Sempurna”. 


Karakter
manusia ini sangat berseberangan dengan tipe sanguinis. Sifat dasarnya
cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. 

Umumnya
manusia dengan tipe kepribadian ini suka dengan fakta-fakta, data-data,
angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. 

Dalam
sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan,
namun manusia melankoli cenderung menganalisa, memikirkan,
mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan
betul-betul hasil yang ia pikirkan sudah secara mendalam.

Orang
dengan sifat melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin
teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang “melankoli” tak
‘kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum
tertata rapi. 


Dan
jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri
melankoli anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga
warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan
dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap
jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu
tiba-tiba jadi berubah.

Tipe Ketiga, adalah manusia Koleris, artinya “Yang Kuat”. 


Mereka
dengan tipe kepribadian ini suka sekali mengatur orang, suka
tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang, bahkan orang tuanya
sekalipun. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun
bisa saja ia suruh melalukan sesuatu untuknya.

Akibat sifatnya
yang `bossy’ itu, banyak orang koleris kurang disenangi teman.
Orang-orang berusaha menghindar, menjauh agar tak jadi korban
karakternya yang suka ngatur dan tak mau kalah itu.

Akan tetapi
karakter koleris ini senang dengan tantangan dan suka petualangan.
Mereka merasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya
berantakan semua”. 


Karena
itu mereka terlihat “goal oriented”, tegas, kuat, cepat dan tangkas
mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin.

Seorang
wanita koleris, bisa jadi mau dan berani diajak naik tebing, memanjat
pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan
semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia
lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Ia tak mudah menyerah,
tak mudah mengalah.

Beda sekali dengan jenis atau tipe keempat, Phlegmatis, sang “Pecinta Damai”. 


Kelompok
ini tak suka konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan,
sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah
segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha
mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi
sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan.

Kaum
dengan karakter phlegmatis ini, biasanya kurang bersemangat, kurang
teratur dan tampak serba dingin. Cenderung diam, kalem, tapi kalau
memecahkan masalah umumnya akan sangat menyenangkan.

Dengan sabar
ia mau jadi pendengar yang baik. Tapi kalau disuruh mengambil keputusan
sendiri, ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada
sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara
terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang
phlegmatis, sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Terkadang
sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat
keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. 


Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, anda harus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya.

Mencoba Mengerti Orang Lain

Anda masuk tipe apa? Coba pelajari dan amati istri, suami atau anak-anak anda, apa karakter mereka?


Anda
akan mulai mengerti mengapa suami-istri-anak-rekan anda bertingkah laku
“seperti itu” selama ini. Dan anda pun akan tertawa sendiri
mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini.

Ya,
tapi apakah persis begitu? Tentu saja tidak. Florence Litteur,
berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata 4
sifat dasar manusia itu pada hakikatnya juga dimiliki oleh setiap
manusia. Yang berbeda hanyalah kadarnya. Oleh sebab itu muncullah
beberapa kombinasi watak karakter manusia.

Ada orang yang tergolong Koleris Sanguinis. Artinya kedua watak itu dominan dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. 


Di
sekitar kita banyak sekali orang-orang koleris sanguinis ini. Ia suka
mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara (dan mudah juga jadi
pelupa).

Ada pula golongan Koleris Melankolis.
Mungkin anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin,
kalem, kaku, suka mengatur, tak mau kalah dan kalau bicara kadang kerasa
agak menyakitkan (walau mungkin sebetulnya ia tak bermaksud begitu).

Setiap
jawaban anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga serasa
diintrogasi, sebab memang ia ingin kondisi sempurna, mengetahui secara
lengkap dan mendalam. 


Menghadapi
orang koleris melankolik, anda harus fahami saja sifatnya yang memang
begitu lalu sedikit naikkan tingkat kesabaran anda. Yang penting
sekarang anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, walau tampak di
permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Lain lagi dengan kaum Phlegmatis Melankolis.
Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang anda katakan, akan ia
pikirkan, ia analisa. Lalu saat mengambil keputusan pastilah
keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan
matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi-kombinasi yang ada
pada tiap manusia. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana
memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas hidup kita.

Jika suami
istri saling mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung
berusaha memaafkan pasangannya. Lalu berusaha untuk menyikapinya secara
bijaksana.

Begitu pula saat menerima calon pegawai. Untuk
bidang-bidang yang membutuhkan tingkat ketelitian dan keteraturan yang
tinggi, jauh lebih baik anda tempatkan orang-orang yang melankolik
sempurna.

Sedang di bagian promosi, iklan, resepsionis, MC,
humas, wiraniaga, tentu jauh lebih tepat anda tempatkan orang-orang
koleris sanguinis. Tapi jangan coba posisikan orang-orang phlegmatis di
bagian penagihan ataupun penjualan. Hasilnya mungkin akan mengecewakan.

Begitulah, manusia … memang sangat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, diantara semua watak itu, mana yang paling baik?

Jawabannya,
menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa
manusia sanguinis, dunia ini akan sepi. Tanpa orang melankoli, mungkin
tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan dan budaya. Tanpa kaum
koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang
phlegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Yang
penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah
keterampilan kita berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill).

Seorang
yang ahli dalam berurusan dengan orang lain (memiliki people skill), ia
akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. 


Ia
tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum
sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan
memintanya melakukan segera. Ia pun jago memanas-manasi (menantang)
potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau membakar sang phlegmatis
agar segera bertindak saat itu juga.

“Inilah seninya”, kata
Florence “dalam berinteraksi dengan orang lain”. Tentu saja awalnya
adalah, “Anda dulu yang harus berubah”. Belajarlah jadi pengamat tingkah
laku manusia.[#]

Comment

Rekomendasi Berita