by

Problematika Bangsa Karena Rapuhnya Kepemimpinan Jokowi

Jokowi.[suroto/radarindonesianews.com]

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Para aktivis lintas generasi menyoroti
kinerja pemerintahan Jokowi-JK selama tahun terakhir. Hasilnya banyak
hal pemicu munculnya berbagai kegaduhan yang disinyalir penyebab utama
adalah faktor komitmen koalisi tanpa syarat yang dilupakan Presiden
Jokowi.

 
Hal itu terangkum melalui diskusi yang digelar Aliansi Tarik Mandat
atau ATM bertemakan “Catatan Kritis Pemerintahan Jokowi-JK dan Ikhtiar
Rumuskan Agenda Gerakan 2016” di bilangan Jalan Veteran, Jakarta Pusat,
Rabu (30/12/2015).



Meskipun reshuffle kabinet bolak-balik dilakukan, kata Syamauddin
Anggir, Ketua Umum Ornas Gerakan Cinta Tanah Air Peraatuan Nasionalis
Indonesia (GENTAR), tetap tidak bisa memberikan jawaban sebab Jokowi
tidak pegang teguh janjinya atas komitmen koalisi tanpa syarat.



“Akibat koalisi tanpa syarat Presiden Jokowi dalam perjalananya hanya
sebatas live service, maka keputusan menyangkut bangsa dan negara
dilakukan dengan cara tidak elok sehingga timbul kegaduhan,” tuturnya.



Maka dari itu, Syamsuddin memprediksi pada tahun 2016 kegaduhan elit
yang tidak menyentuh kepentingan rakyat akan terus terjadi semenjak
Jokowi lebih dominan disetir kepentingan elit politik dibelakangnya.



“Jadi marilah kita semuanya bangun, tegak berdiri, berdikari dan
mandiri di bangsanya sendiri. Dan kami mengajak seluruh bangsa untuk
berpikir cerdas dan bekerja cerdas, bukan bekerja keras, karena kita
sudah berdaulat,” ucapnya.



Kesempatan sama, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Beni
Pramula mengingatkan Jokowi bahwa pemimpin bagaikan nahkoda menjadi
penentu kemana bahtera akan dilaluinya Sementara orang-orang dipimpin,
seperti penumpang yang selalu mengikuti kemanapun pemimpin akan membawa
mereka.



“Kita melihat bahwa problematika kebangsaan hari ini adalah masalah
kepemimpinan nasional yang rapuh dan inilah melatar belakangi kami
membuat diskusi,” katanya.



Kelompok pemuda dan mahasiswa, lanjutnya, melihat bahwa bangsa
Indonesia seolah tidak ada pemimpin. Menurutnya dalam beberapa
kesempatan kepemimpinan Jokowi-JK terlihat bagaikan kepemimpinan
multipilot.



“Sehingga tidak tahu siapa pemimpin kita sesungguhnya. Kalau kami
dari gerakan aliansi tarik mandat mendesak kepemimpinan hari ini
dievaluasi bila perlu amputansi ganti kepemimpinan nasional, karena
sumber malapetaka krisis multi dimensi bangsa adalah kepemimpinan
nasional yang rapuh,” tegasnya.



Dalam acara tersebut, menghadirkan beberapa narasumber yang
diantaranya. Munawar Khalil (Ketum PB PII, Kartika Nur Rakhman (Ketum PP
KAMMI, Lidya Natalia Sartnono (Ketum PP PMKRI, Nizar Ahmad Saputra
(Ketum PP HIMA PERSIS), MT. Budiman (Praktisi Hukum/Direktur LBH SI,
Dina Nurul Fitria (Pengmat Ekonomi, Dr. Ali Mahsun (Ketum APKLI),
Syamsuddin Anggir Monde (Ketum GETAR, M. Hatta Taliwang (Pengmat
Politik), Haris Rusli (Petisi 28, Ijal Rizal (Ketum KOBAR), Karman BM
(Ketum PP GPII, Beni Pramula (Ketum DPP IMM), Aminullah Sigian (Ketum PP
HIMMAH), Ervan Nurmansyah (Ketum AMARA). (Lws/bb)



Comment

Rekomendasi Berita