by

Tetap Bersyukur Dalam Keadaan Sulit Maupun Bahagia

photo ilustrasi:[pixabay]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kesulitan dan kebahagiaan merupakan dua sisi kehidupan yang selalu dihadapi manusia. Bagai roda pedati, kesuiltan dan kebahagiaan senantiasa berputar dan berjalan bergantian mengisi relung hati manusia.

Bila kebahagiaan datang, apa lagi dalam bentuk karunia rizki dan berlimpah harta seperti kebanyakan harapan manusia pada umumnya, maka ucapan syukur begitu mudah meluncur namun bila datang duka dan musibah menerpa, ucap syukurpun sirna. Pada situasi duka seperti ini yang ada hanya umpatan dan sumpah serapah yang tidak jelas arahnya.

Suka dan duka sebenarnya merupakan dua sisi mata uang yang saling terkait dan memiliki makna yang sama. Karena di balik bahagia yang kita dapatkan bisa jadi awal bagi petaka. Kita sering memilah tempat dan tambatan hati untuk mengucap syukur. Kita tempatkan rasa syukur itu hanya pada saat dan tempat yang menurut kita bahagia. Sungguh bahagia menurut pemikiran kita itu sangat berbeda dengan kebahagiaan yang dimaksudkan oleh Sang Khalik. 
Tak jarang kita temukan manusia yang justeru tercoreng nama baiknya karena perilaku dan etika yang berubah setelah menemukan “kebahagiaan” dengan jabatan dan limpahan harta. Para politikus baik dari kalangan kaum agamis di negeri ini menjadi bukti kongkrit. Mereka terjebak dengan harapan dan keinginan untuk hidup bahagia seperti yang dilantunkan dalam setiap doanya.

Dalam dimensi ini, Imam Al-Ghazali menyetir sebuah ungkapan mashur di dalam kitab yang ditulisnya, Ihya Ulumuddin, bahwa saat Allah belum memberi apa yang kita inginkan sesungguhnya DIA telah memberi apa yang kita butuhkan.
Situasi dan kondisi yang kita anggap buruk terutama dalam persoalan ekonomi, sepatutnya dilihat secara positif. Lakukan langkah koreksi secara jujur, apakah kesulitan itu merupakan kesalahan yang diakibatkan oleh kemalasan dan manajemen keuangan kita yang memang terlalu konsumtif dan pemborosan ataukah memang ada penyebab lain di luar kemampuan kita?

Kalau kesulitan itu didasari oleh kemalasan dan mismanajemen dalam hal keuangan, maka segera rubah dan perbaiki secepat mungkin. Bila kesulitan itu tetap menghampiri setelah dilakukan perubahan, maka ambillah sikap bersabar dengan tetap berpikir positif dan produktif karena pada jenis kesulitan ini pasti ada kebahagiaan sejati. Maka tetaplah bersyukur baik dalam kondisi sulit maupun bahagia. Sungguh bersama kesulitan itu ada kebahagiaan.[GF]

Comment

Rekomendasi Berita