by

Alexis yang Disorot, Paragon yang Ditubruk Wagub Djarot

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -Pemerhati tempat hiburan malam Tete Martadilaga,
mempertanyakan penggerebekan yang dilakukan aparat gubungan Polda Metro
Jaya, TNI dan BNN di Grand Hotel Paragon. Menurutnya, mestinya yang
menjadi sasaran utama adalah Alexis yang sudah banyak diributkan publik
dan di sentil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai ‘sarang’
prostitusi dalam negeri dan luar negeri.
 
Tapi ternyata di luar dugaan, ujug-ujug penggerebekan yang dipimpin
langsung Wakil Gubernur DKI Jakarta ternyata Paragon. “Saya juga merasa
heran. Kok ujug-ujug yang di sikat paragon. Sasarannya pun narkoba,
bukan prostitusinya. Kalo narkoba mah tak perlu lah wakil gubernur turun
langsung. Di Alexis, 1001 dan Marioboro banyak,” kata Tete seperti
ditulis dalam rilisnya, Jumat (26/2).


“Ini benar-benar salah sasaran. Alexis yang dibicarakan, yang
digerebek malah Paragon. Apa pemilik Alexis, AT lobi-nya lebih kuat
sehingga diabaikan dan ditunggu sampai PSK-PSK-nya diungsikan dulu dan
bandar narkoba yang bercokol di situ disuruh kabur dulu,” kata Tete
lagi.


Tete pun menduga, penggerebekan itu hanya sebagai pelipur agar
masyarakat tahu kalau polisi sudah menunjukkan kinerjanya. Atau bisa
jadi operasi di Paragon hanya razia dagelan untuk menyelamatkan bos AT,
pemilik Alexis dan 1001 dan RS, pemilik Marlioboro.


Dijelaskan Tete, Bahkan tempat hiburan kelas wahid seperti Alexis,
1001 Malioboro, Kingcros, Clasic sebenarnya sudah jadi bahan
perbincamgan anggota dewan maupun pejabat pemprov DKI.


Belakangan ini tempat hiburan yang jadi sorotan tersebut tak lagi
mempertontonkan striptease yg di gelar dipanggung maupun fi toom karoke.
Mereka lebih memajukannya lagi dengan mengedepankan praktik prostitusi
dengan ada di antaranya memasukan. PSK dari luar negeri, seperti
Tiongkok, Vietnam, Filipina, Usbezkistan dan laiinya. 


Polisi, kata Tete, seharusnya bisa mengusut perdagangan wanita di
tempat tersebut. Germo yang bekerja sama dengan owner. Mereka mengambil
gadis-gadis dalam negeri dari Sukabumi dan Cianjut serta kota lainnya.
Diduga juga mereka memalsukan KTP untuk merubah tanggal lahir. 


“Karena ada dugaan kuat gadis-gadis itu masih di bawah umur. Polisi juga harus mengusut perdagangan wanita lintas negara ini.
Bahkan keberadaan PSK asing tersebut tidak lepas dari lemahnya kineja
aparat Imigrasi. Pihak Konjen Indonesia di beberapa negara yang
ditengarai pemasok wanita penghibur kurang cermat dan begitu mudahnya
meloloskan wanita wanita muda masuk Indonedia,” kata Tete. 


Memang tidak mudah menyaring mana PSK dan mana yang bukan, lanjut
Tete, tapi perdagangan wanita lintas negara jelas ada mafianya. Nah,
pertanyaannya mafia ini berkiblat kepada siapa di Indonesia ini? Karena
ini menyangkut uang yang tidak sedikit. (Kds/BB)

Comment

Rekomendasi Berita