by

Guru Dorong Siswa Lebih Kreatif dan Inovatif

Aminatuz Zuhriyah antusias membimbing siswa/i.[Taufiq/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, KEDIRI – Aminatuz Zuhriyah, ST guru MTs Al-Fatich Surabaya tampak antusias menunjukkan hasil karya siswa tentang sel syaraf. Hasil karya siswa yang menggambarkan sel syaraf dan bagian-bagiannya ternyata dibuat dengan barang bekas sederhana seperti botol air mineral bekas, daun, rumput kering, sedotan bekas, dan masih banyak lagi. Aminatuz awalnya menjelaskan tentang sel syaraf dengan lisan saja dan tampaknya siswanya bosan dengan penampang sel syaraf yang ada di buku. Ia kemudian menugaskan siswa untuk membuat penampang sel syaraf dari barang-barang di sekitar sekolah.

Aminatuz tak menyangka, siswanya bisa berinovasi dengan membuat penampang sel syaraf sederhana dari barang-barang bekas. Melalui hasil karya siswa inilah, mereka dapat memahami dengan mudah penampang sel syaraf.

Kegiatan pembelajaran aktif yang dilakukan Aminatuz tak lepas dari materi pelatihan Modul I dan II yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS. “Dulu saya mengajar secara konvensional sehingga siswa sering terlihat bosan dan mengantuk di kelas. Setelah mendapatkan materi pelatihan dari USAID PRIORITAS, saya mempraktikkan pembelajaran aktif dimana salah satu kegiatannya adalah mendorong siswa berinovasi seperti membuat penampang sel syaraf dari barang bekas. Dan hasilnya ternyata luar biasa. Siswa juga dengan mudah menjelaskan dan mengingat bagian-bagian sel syaraf,” ungkapnya. Aminatuz adalah satu dari 82 pendidik yang saat ini mengikuti kegiatan Pelatihan Modul III USAID PRIORITAS.

Dyah Eko Kurniawati, SPd guru SMP Lab Surabaya juga merasakan dampak positif dari pelatihan USAID PRIORITAS. Kondisi siswa di sekolahnya dulu sangat berbeda dengan sekarang, salah satunya adalah kegiatan budaya baca. Sejak didorong untuk terus menciptakan kegiatan gemar membaca di sekolah masing-masing pada materi pelatihan USAID PRIORITAS, Dyah mulai menerapkan di sekolahnya. Di jam ke-0 atau sebelum masuk ke pelajaran pokok, siswa diminta membaca selama 15 menit. Siswa juga wajib ke perpustakaan dan membuat resume dari kegiatan membaca yang sudah dilakukan. Hasilnya, siswanya menghasilkan karya yang luar biasa yakni puisi dan cerpen. Dyah kemudian membukukan hasil karya terbaik siswa. “Buku antologi cerpen dan puisi karya siswa ini menjadi kebanggaan sekolah dan sebagai pembuktian bahwa dengan membaca, dapat meningkatkan motivasi siswa untuk menulis,” ungkapnya.

Setelah keduanya mendapatkan Pelatihan Modul I dan II, kegiatan pelatihan dilanjutkan dengan Modul III. Kegiatan pelatihan untuk Modul III ini diikuti oleh sekolah mitra Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yakni SMPN 21 Surabaya, SMPN 28 Surabaya, SMP Lab UNESA, SMP Muhammadiyah 6 Surabaya; dan mitra Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA) yakni MTs Al-Fatich Surabaya, MTs Wachid Hasyim Surabaya, MTs Hasyim Asy’ari Sidoarjo dan MTs Darul Ulum Sidoarjo.

Pelatihan Modul III yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS yang dilakukan pada tanggal 24-26 Februari 2016 ini merupakan kelanjutan kegiatan pelatihan dari USAID PRIORITAS setelah mengikuti Pelatihan Modul I dan II.

Banyak hal menarik yang dilatihkan dalam kegiatan ini. Dimana salah satunya adalah keterampilan informasi dalam praktik pembelajaran. Salah satu kecakapan manusia dalam kehidupan adalah kecakapan informasi. Secara khusus hal tersebut dapat dikatakan sebagai keterampilan informasi. Untuk mengembangkan kompetensi siswa dalam hal ini, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi. Guru juga harus membimbing siswa dalam memahami bahwa informasi itu bisa berasal dari berbagai sumber. Guru juga harus dapat mengarahkan siswa untuk memilah berbagai sumber tersebut sesuai kebutuhan. Selain hal tersebut, guru juga dituntut untuk dapat mendampingi siswa dalam mengkomunikasikan informasi yang diolah tersebut secara lisan maupun tulis. Harapannya dengan mengembangkan keterampilan informasi kepada siswa maka siswa terbiasa mencari informasi sendiri, mengidentifikasi informasi yang diperoleh, dan terampil memanfaatkan informasi yang didapat. Kegiatan keterampilan informasi bisa dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dalam semua mata pelajaran. Untuk itu keterampilan informasi menjadi salah satu materi yang dilatihkan dalam kegiatan ini.

Menurut Erman selaku Spesialis pembelajaran untuk SMP/MTs USAID PRIORITAS Jatim, pembelajaran yang melatih siswa menjadi terampil mencari informasi akan mengubah mindset guru dari “siswa sebagai objek” menjadi “siswa sebagai subjek” yang mandiri dan aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Di lain pihak, guru akan berperan sebagai fasilitator yang memotivasi dan menuntun siswa mulai dari memahami fenomena, permasalahan atau rencana kegiatan/projek, mencari sumber informasi, mengolah dan menyajikan informasi hingga melaporkan informasi sesuai dengan kekhasan setiap mata pelajaran.

Kegiatan pelatihan lainnya yang tak kalah menarik adalah membaca ekstensif dalam pelajaran Bahasa Inggris. Masyarakat sering mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris pada umumnya kurang berhasil meskipun siswa telah diajarkan selama 6 tahun (3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA). Namun jika dihitung, sebenarnya jumlah waktu yang tersedia untuk belajar Bahasa Inggris di tingkat SMP hanyalah kurang dari 16 hari (dengan satuan waktu 24 jam). Dengan jumlah waktu tersebut, maka sulit bagi guru untuk membimbing siswanya agar berhasil dan menguasai Bahasa Inggris.

Karena itu sekolah perlu memiliki strategi yang memungkinkan siswa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan input Bahasa Inggris dengan cukup sehingga akan menjadi building blocks bagi pengembangan Bahasa Inggris selanjutnya. Kegiatan pengembangan Bahasa Inggris ini bisa dilakukan diluar sekolah, yaitu membaca ekstensif (ME) atau extensive reading (ER). Untuk itu dalam pelatihan ini, peserta diajak melaksanakan kegiatan ME sehingga memudahkan siswa dalam penguasaan Bahasa Inggris. Dijelaskan oleh Nur Kholis, Spesialis Kerjasama LPTK dan Pelatihan USAID PRIORITAS Jatim, tujuan pelatihan ini adalah bersama-sama dengan sekolah mitra LPTK, dalam hal ini Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan pembelajaran aktif dan mengasah kemampuan pendidik di sekolah-sekolah yang dijadikan laboratorium bagi mahasiswa UM. Harapannya dengan berguru pada sekolah-sekolah laboratorium yang telah mengembangkan pembelajaran aktif, lulusan UM dapat lebih berkompeten dan siap menjadi guru yang produktif dan inovatif. (Pick)


Aminatuz
Zuhriyah, ST guru MTs Al-Fatich Surabaya tampak antusias menunjukkan hasil
karya siswa tentang sel syaraf. Hasil karya siswa yang menggambarkan sel syaraf
dan bagian-bagiannya ternyata dibuat dengan barang bekas sederhana seperti
botol air mineral bekas, daun, rumput kering, sedotan bekas, dan masih banyak
lagi. Aminatuz awalnya menjelaskan tentang sel syaraf dengan lisan saja dan tampaknya
siswanya bosan dengan penampang sel syaraf yang ada di buku. Ia kemudian
menugaskan siswa untuk membuat penampang sel syaraf dari barang-barang di
sekitar sekolah.
Aminatuz tak
menyangka, siswanya bisa berinovasi dengan membuat penampang sel syaraf
sederhana dari barang-barang bekas. Melalui hasil karya siswa inilah, mereka dapat
memahami dengan mudah penampang sel syaraf.
Kegiatan
pembelajaran aktif yang dilakukan Aminatuz tak lepas dari materi pelatihan
Modul I dan II yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS. “Dulu saya mengajar
secara konvensional sehingga siswa sering terlihat bosan dan mengantuk di
kelas. Setelah mendapatkan materi pelatihan dari USAID PRIORITAS, saya mempraktikkan
pembelajaran aktif dimana salah satu kegiatannya adalah mendorong siswa
berinovasi seperti membuat penampang sel syaraf dari barang bekas. Dan hasilnya
ternyata luar biasa. Siswa juga dengan mudah menjelaskan dan mengingat
bagian-bagian sel syaraf,” ungkapnya. Aminatuz adalah satu dari 82 pendidik
yang saat ini mengikuti kegiatan Pelatihan Modul III USAID PRIORITAS.
Dyah Eko
Kurniawati, SPd guru SMP Lab Surabaya juga merasakan dampak positif dari pelatihan
USAID PRIORITAS. Kondisi siswa di sekolahnya dulu sangat berbeda dengan
sekarang, salah satunya adalah kegiatan budaya baca. Sejak didorong untuk terus
menciptakan kegiatan gemar membaca di sekolah masing-masing pada materi
pelatihan USAID PRIORITAS, Dyah mulai menerapkan di sekolahnya. Di jam ke-0
atau sebelum masuk ke pelajaran pokok, siswa diminta membaca selama 15 menit.
Siswa juga wajib ke perpustakaan dan membuat resume dari kegiatan membaca yang
sudah dilakukan. Hasilnya, siswanya menghasilkan karya yang luar biasa yakni
puisi dan cerpen. Dyah kemudian membukukan hasil karya terbaik siswa. “Buku
antologi cerpen dan puisi karya siswa ini menjadi kebanggaan sekolah dan
sebagai pembuktian bahwa dengan membaca, dapat meningkatkan motivasi siswa
untuk menulis,” ungkapnya.
Setelah keduanya
mendapatkan Pelatihan Modul I dan II, kegiatan pelatihan dilanjutkan dengan
Modul III. Kegiatan pelatihan untuk Modul III ini diikuti oleh sekolah mitra
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari Universitas Negeri Surabaya
(UNESA) yakni SMPN 21 Surabaya, SMPN 28 Surabaya, SMP Lab UNESA, SMP
Muhammadiyah 6 Surabaya; dan mitra Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA)
yakni MTs Al-Fatich Surabaya, MTs Wachid Hasyim Surabaya, MTs Hasyim Asy’ari
Sidoarjo dan MTs Darul Ulum Sidoarjo.
Pelatihan Modul
III yang dikembangkan oleh USAID PRIORITAS yang dilakukan pada tanggal 24-26
Februari 2016 ini merupakan kelanjutan kegiatan pelatihan dari USAID PRIORITAS
setelah mengikuti Pelatihan Modul I dan II.
Banyak hal
menarik yang dilatihkan dalam kegiatan ini. Dimana salah satunya adalah
keterampilan informasi dalam praktik pembelajaran. Salah satu kecakapan manusia
dalam kehidupan adalah kecakapan informasi. Secara khusus hal tersebut dapat
dikatakan sebagai keterampilan informasi. Untuk mengembangkan kompetensi siswa
dalam hal ini, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi.
Guru juga harus membimbing siswa dalam memahami bahwa informasi itu bisa
berasal dari berbagai sumber. Guru juga harus dapat mengarahkan siswa untuk
memilah berbagai sumber tersebut sesuai kebutuhan. Selain hal tersebut, guru
juga dituntut untuk dapat mendampingi siswa dalam mengkomunikasikan informasi
yang diolah tersebut secara lisan maupun tulis. Harapannya dengan mengembangkan
keterampilan informasi kepada siswa maka siswa terbiasa mencari informasi
sendiri, mengidentifikasi informasi yang diperoleh, dan terampil memanfaatkan
informasi yang didapat. Kegiatan keterampilan informasi bisa dilaksanakan dalam
kegiatan pembelajaran dalam semua mata pelajaran. Untuk itu keterampilan
informasi menjadi salah satu materi yang dilatihkan dalam kegiatan ini.
Menurut Erman
selaku Spesialis pembelajaran untuk SMP/MTs USAID PRIORITAS Jatim, pembelajaran
yang melatih siswa menjadi terampil mencari informasi akan mengubah mindset
guru dari “siswa sebagai objek” menjadi “siswa sebagai subjek” yang mandiri dan
aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Di lain pihak, guru akan berperan
sebagai fasilitator yang memotivasi dan menuntun siswa mulai dari memahami fenomena,
permasalahan atau rencana kegiatan/projek, mencari sumber informasi, mengolah
dan menyajikan informasi hingga melaporkan informasi sesuai dengan kekhasan
setiap mata pelajaran.   
Kegiatan
pelatihan lainnya yang tak kalah menarik adalah membaca ekstensif dalam
pelajaran Bahasa Inggris. Masyarakat sering mengatakan bahwa pembelajaran
Bahasa Inggris pada umumnya kurang berhasil meskipun siswa telah diajarkan
selama 6 tahun (3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA). Namun jika dihitung,
sebenarnya jumlah waktu yang tersedia untuk belajar Bahasa Inggris di tingkat
SMP hanyalah kurang dari 16 hari (dengan satuan waktu 24 jam). Dengan jumlah
waktu tersebut, maka sulit bagi guru untuk membimbing siswanya agar berhasil
dan menguasai Bahasa Inggris.
Karena itu
sekolah perlu memiliki strategi yang memungkinkan siswa mendapatkan kesempatan
untuk mendapatkan input Bahasa Inggris dengan cukup sehingga akan menjadi
building blocks bagi pengembangan Bahasa Inggris selanjutnya. Kegiatan
pengembangan Bahasa Inggris ini bisa dilakukan diluar sekolah, yaitu membaca
ekstensif (ME) atau extensive reading (ER). Untuk itu dalam pelatihan ini,
peserta diajak melaksanakan kegiatan ME sehingga memudahkan siswa dalam
penguasaan Bahasa Inggris.

Dijelaskan
oleh Nur Kholis, Spesialis Kerjasama LPTK dan Pelatihan USAID PRIORITAS Jatim,
tujuan pelatihan ini adalah bersama-sama dengan sekolah mitra LPTK, dalam hal
ini Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan pembelajaran aktif dan
mengasah kemampuan pendidik di sekolah-sekolah yang dijadikan laboratorium bagi
mahasiswa UM. Harapannya dengan berguru pada sekolah-sekolah laboratorium yang
telah mengembangkan pembelajaran aktif, lulusan UM dapat lebih berkompeten dan
siap menjadi guru yang produktif dan inovatif. (Pick)

Comment

Rekomendasi Berita