by

Imaduddin: “Perlu Perhatikan 4 Aspek Pengembangan Blok Masela”

Imaduddin Abdullah (Paling kanan) saat memberikan paparan dalam diskusi Blok Masela.[Suroto/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Imaduddin Abdullah, Peneliti Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef) mengimbau pemerintah Jokowi-JK segera
menyelesaikan polemik pengembangan Blok Masela di Maluku. Hal ini diungkapkannya dalam diskusi Mingguan bertema “Blok Masela Dan Masa Depan Ekonomi Indonesia”, Senin (29/22016), Jl. Batu Merah, Pejaten, Jakarta Selatan.

Proyek pembanguan blok Masela lanjut Imaduddin
ini digadang-gadang akan menjadi proyek gas terbesar di dunia yang
menyangkut pasokan energi nasional.

Peneliti Indef itu menekankan pentingnya pemerintah memberi perhatian kepada empat aspek dalam proyek Masela ini daripada sekedar perdebatan pembangunan proyek tersebut dengan sekema onshore atau offshore. Empat aspek dimaksud adalah nilai investasi, dampak ekonomi, dampak sosial dan kondisi geografis.

“Perdebatan antara onshore dan offshore ini tentunya akan kembali
lagi pada empat aspek tersebut. Jadi percuma kita perdebatkan kedua hal
itu kalau empat aspek terpentingnya justru tidak diperhatikan,” Ujar Imaduddin.

Imadduddin menekankan agar pemerintah mempertimbangkan skema mana yang
paling menguntungkan investasi bagi Indonesia, onshore atau
offshore. Jika dilihat dari dampak ekonomi, tambahnya, harus dilihat
apakah kecenderungan offshore dan onshore yang dapat mendongkrak
pendapatan pemerintah, lapangan kerja, dan pendapatan rumah tangga.

Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan kontribusi Blok
Masela terhadap pengembangan diversifikasi energi. Mengingat di tahun
2015 pasokan gas terhadap energi nasional mencapai 22 persen, dan akan
meningkat hingga 24 persen di tahun 2045.

“Artinya perlu ada pasokan energi yang besar untuk kebutuhan dalam negeri,” pungkas Imaduddin dalam diskusi yang disiarkan langsung oleh RRI Pro3.

Diskusi dengan tema”Blok Masela Dan Masa Depan Ekonomi Indonesia” itu menghadirkan para pakar antara lain Ir. Satya Widya Yudha, M.E, Msc, Ir. I Gde Pradnyana, M.sc, Ph.D, Ir. Marwan Batubara dan Berly Martawardaya, M.Sc.[GF].

Comment

Rekomendasi Berita