by

Keluarga Korban Tragedi Semanggi Datangi DPD RI

Ketua DPD RI, Irman Gusman saat menerima kedatangan keluarga korban “Tragedi 98”.[Suroto/radarindonesianews.com]


RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hingga memasuki dua dasawarsa, kasus pelanggaran HAM dengan tewasnya Wawan, Mahasiswa Trisakti saat lengsernya rezim Soeharto 1998 lalu belum terselesaikan secara hukum.

Dengan didampingi Ketua Setara Insitute, Hendardi, keluarga korban datangi DPD RI untuk meminta bantuan penyelesaian kasus tersebut. Maria Katarina Sumarsih temui Ketua Dewan Pimpinan Daerah Republik Indonesia, Irman Gusman di ruang kerjanya, Kamis (11/2/2016).

Keluarga korban secara khusus meminta DPD mengambil peran untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang telah 18 tahun tanpa penyelesaian hukum yang pasti. Setiap periode, presiden hanya berjanji untuk menyelesaikan kasus tersebut tanpa bukti nyata hingga saat ini.

“Namun, berkas penyelidikan tersebut berkali-kali ditolak oleh Kejaksaan Agung dengan berbagai alasan. Bahkan, Kejaksaan Agung pernah menyatakan bahwa berkas tersebut hilang,” Ujar Maria.

DPD akan mencari bentuk penyelesaian secara komprehensif bagi penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang telah menewaskan Wawan, Mahasiswa Trisakti saat tragedi Semanggi 1998 itu dengan menggandeng para ahli dan hasilnya akan disampaikan kepada presiden RI.

Keluarga korban Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II menemui Ketua DPD Irman Gusman. Mereka menyampaikan curahan hati mengenai perjuangan mencari keadilan selama sekitar 18 tahun.

Pasalnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) sering menolak menindaklanjuti berkas penyelidikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut.

‎Salah satu keluarga korban tragedi Trisakti, Maria Katarina Sumarsih ‎mengatakan, pada 2002 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah selesai melakukan penyelidikan terhadap kasus penembakan para mahasiswa tersebut, dalam berkas Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II.

Dalam acara pertemuan itu, keluarga korban didampingi Ketua Setara Institute Hendardi, aktivis Imparsial Al Araf, aktivis Kontras Puri Kencana Putri dan Tioria Pretty‎, aktivis LBH Jakarta Atika Yuanita, serta FAMSI Atmajaya.[Suroto]

Comment

Rekomendasi Berita