by

Rapat Gabungan DPR dan Pemerintah Bahas Soal Pemberantasan Teroris

RARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Masalah penaggulangan terorisme dibahas
dalam rapat gabungan antara DPR RI dalam hal ini Komisi I dan Komisi III
dengan pemerintah.
 
Rapat gabungan Komisi I dan Komisi III dengan pemerintah ini dipimpin
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di ruang rapat Badan Anggaran Gedung DPR
RI, Senin (15/2/106).


Unsur pemerintah yang mengikuti rapat koordanasi yaitu Menko Polhukam
Luhut Binsar Panjaitan, Menhan Ryamizard Ryacudu, Menteri PAN/RB Yuddy
Chrisnandi, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Jaksa Agung HM Prasetyo,
Kepala BNPT Saud Usman dan Kepala PPATK M. Yusuf, Kapolda Metro Jaya
Inspektur Jenderal Polisi Tito Karnavian, Wakil Kepala BIN Torry Djohar
Banguntoro dan perwakilan Kemenkumham.


Selain membicarakan masalah penanggulangan terorisme, Fadli Zon
menungkapkan kalau rapat tersebut juga membahas pemberian amnesty
terhadap bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka yang telah meletakkan
senjata, Din Minimi dan pemberian bebas Visa.


Terkait pemberantasan terorisme, Kapolri Badrodin Haiti mengatakan,
pascaserangan teror di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, pihaknya
telah menangkap 33 terduga teroris, 17 tersangka di antaranya terkait
serangan Thamrin.


“Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar. Dari hasil itu ada tiga
kelompok yang merencanakan bom Thamrin, yang pertama Hendro Fernando
yang mendapat aliran dana dari Rp 1,3 miliar dari Suriah, Yordan, Irak,
dan Turki,” ungkap Badrodin.


Aliran dana tersebut, tambah jenderal bintang empat ini, dikirimkan
ke Filipina dan Poso untuk membeli senjata api. Buktinya, para teroris
itu sudah punya sembilan pucuk senjata api dari Lapas Tangerang.


“Mereka juga punya rencana untuk menyerang Bandara Soekarno-Hatta dan Mabes Polri,” katanya.


Sedang kelompok kedua, ungkap Badrodin merupakan kelompok Helmi yang
diciduk di Sumedang, Jawa Barat. Kelompok ini sempat merencanakan
melakukan serangan bom ke depan Polda Metro Jaya.


Kelompok ketiga merupakan kelompok Indramayu yang sasarannya kepada
anggota Polri yang berada di sekitar jalan raya, denngan cara menusuk
pakai senjata api dan besi.


“Ini rencana mereka. Bom ini sangat minim, mereka kekurangan biaya,
cuma ada Rp 900 ribu,” kata Badrodin sambil menambahkan bahwa ancaman
aksi teroris masih menghantui karena mereka masih berkomunikasi dengan
Bahrun Naim.Hingga berita ini diturunkan, rapat koordinasi masih
berlangsung. (Maya/BB)

Comment

Rekomendasi Berita