by

Hermawan Kartajaya, Walau Master Bisa KO Di Dunia Marketing Indonesia

Hermawan Kartajaya.[Marketeers]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bagi yang marketing, pasti kenal dengan sosok Hermawan Kartajaya. Dia
sejak tahun 2002 menjabat sebagai Presiden World Marketing Association
dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di
Inggris dan dinobatkan juga sebagai 50 Gurus Who Have Shaped The Future
of Marketing.
Yang jadi perhatian saat ini, bahkan sosok professor sekelas beliau saja bisa gagal menaklukan pasar Indonesia.
MarkPlus, perusahaan jasa konsultan marketingnya, saat ini sedang disorot menyusul kasus kegagalanya dalam me-rebranding
imej baru kota jogja. Tidak hanya logo “jogja” yang jadi bulan-bulanan
warga tapi juga positioningya, sehingga memaksa Raja Jogja turun tangan
untuk membatalkan kontrak dengan MarkPlus dan me-reset proses rebranding Jogja melibatkan masyarakat.
Sebelumnya, MarkPlus juga disorot karena gagal memoncerkan penjualan Yamaha. Awal tahun 2000, Hermawan mengenalkan teori baru tentang “Marketing
in Venus” yaitu teori tentang pentingnya membidik pasar feminim untuk
memenangi persaingan.
Di Yamaha, teori ini diimplementasikan pada produk MIO dengan tagline
“karena wanita ingin dimengerti”. Walhasil yamaha pun sukses beberapa
kali menyalip Honda dan menguasai pangsa pasar motor matik.
Masalah muncul ketika tim marketing Honda bisa membuat penangkal ”
Marketing in Venus”. Honda membidik anak gadis usia Remaja untuk
matiknya. Sedangkan Yamaha tetap kekeuh untuk para wanita usia ibu muda dan ibu tua. Hasilnya? Honda berhasil menang. Beat berhasil menggulung mio yg ditujukan untuk kaum Ibu.
Teori Marketing in venus sepertinya lupa, bahwa di zaman ini, orang
tua lebih takut anak gadisnya jomblo daripada hamil di luar nikah.
Walhasil dalam membeli motor suara anak gadis lebih menentukan daripada istri. Maka yang dipilih ya jelas motor yang gaul karena enggak ingin anak gadisnya enggak laku ditembak cowok.
Tim marketing Honda juga cerdik, mereka agressif dengan menggandeng
sekolahan dalam sponsorsip pensi atau kegiatan anak SLTA tingkat
regional atau nasional seperti liga basket DBL.
Yamaha makin ketinggalan ketika iklanya malah masih dibintangi para
sosok tua seperti Didi Petet, Dedi Mizwar, Bu Hebring dan Trio Mawut
Bajaj. Kayaknya masih mabuk “marketing in venusnya ” MarkPlus.

Heran dengan komposisi bintang iklan Yamaha zaman dulu,
trio bajaj, deddy mizwar, ariel, ahmad dhani, tessa ka, bu hebring ….
Klo enggak tua, ya duda atau janda.

Saat bersamaan Honda makin lekat dengan imej anak muda
karena BA-nya memakai CherryBelli. Moncernya honda juga didukung bahwa
ternyata usia om-om atau bapak-bapak lebih suka ngintip paha mulus
Cibi-cibi daripada belahan dada janda kaunang.
Nagh setelah terpuruk karena marketing in venus, apakah Yamaha dengan
gelontoran produk baru bisa menyaingi honda lagi? Tak pernah ada kata
terlambat dalam pemasaran..[rb]

Comment

Rekomendasi Berita