by

Pemuda Hari Ini & Pemuda 1453. Oleh: Ust. Felix Siaw

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kalau saja Mahmed II hidup kembali dan melihat kondisi pemuda saat ini, mungkin ia sudah geleng-geleng kepala tak habis pikir. Ah, betapa kualitas kita dan dirinya terbentang amat jauh.


Di saat kebanyakan pemuda berumur 21 tahun sudah angkat dagu, bangga
bisa taklukkan hati wanita, Muhammad Al-Fatih sudah mampu taklukkan
Konstantinopel.


Di saat para pemuda bersenang-senang habiskan umur 8 tahunnya dengan
menghafal lagu-lagu orang dewasa, Muhammad Al-Fatih sudah hafalkan
seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya.


Di saat para pemuda masih bingung dengan mimpinya, tidak tahu akan
jadi apa, “let it flow” katanya, Muhammad Al-Fatih sudah bertekad dengan
lantang sejak kecil, “Ayah, aku ingin menaklukkan konstantinopel!”


Di saat para pemuda begitu mudah mengeluh, merasa punya segudang
masalah dan tekanan hidup, lalu menganggap hidupnya akan berakhir sia
sia, Muhammad Al-Fatih sudah dibebankan amanah yang begitu besar bahkan
sejak ia lahir ke dunia.


Ia menjadi tumpuan harapan tiga generasi akan takluknya
konstantinopel, janji yang diucapkan Rasulullah ratusan tahun silam. Ia
menjadi harapan dari 6 abad perjuangan para pendahulu.


Bayangkan! harapan 600 tahun perjuangan para pendahulu dibebankan
pada pundaknya! Ah, tapi sedikitpun ia tak gentar, tak mundur barang
sejengkal.


Di saat para pemuda habiskan waktunya untuk bersenang-senang, maraton
film, nongkrong berjam-jam, Muhammad Al-Fatih memilih tingkatkan
kemampuan fisik dan mengisi otaknya. Ia kuasai teknik bela diri,
memanah, berkuda, berenang, strategi berperang, Ilmu fiqh, hadis,
Astronomi, dan matematika. Ia juga menguasai banyak bahasa; Arab, Turki,
Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.


Di saat para pemuda dengan mudah hancur mentalnya ketika direndahkan
atau dihina orang lain, Muhammad Al-Fatih punya hati seluas samudera,
mental sekuat baja. Tak terhitung berapa banyak orang yang
merendahkannya saat ia diangkat menjadi Raja pada umur 19 tahun, “Bocah
ingusan!” katanya. Dari musuh hingga orang kerajaan sekalipun meremehkan
kemampuannya. Tapi ia lebih memilih memberi bukti nyata.


Di saat para pemuda habiskan air matanya untuk kekasih hati yang
tidak jelas, Muhammad Al-Fatih memilih habiskan air matanya untuk
memohon ampunan dan panjatkan harapan. Sejak baligh, tak pernah satu
malam pun ia lewatkan salat Tahajud.  Ialah Pedang Malam, yang selalu
diasah dengan tulus ikhlas.


Di saat para pemuda lupa dan meninggalkan Tuhan, “nanti saja kalau
sudah tua” fikirnya, Muhammad Al-Fatih tak sekalipun pernah meninggalkan
Allah dalam tiap urusannya. Ia miliki 250ribu pasukan yang tak
sekalipun pernah meninggalkan salat wajib. Ia laksanakan salat Jumat
sebelum menyerang Konstantinopel. Salat terpanjang dalam sejarah, 4 km
membentang dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara! lalu
gema takbir bersahutan, menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur
lawan.


Di saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang untuk meraih
mimpinya,  Muhammad Al-Fatih tak kehabisan cara, bahkan yang menurut
orang lain gila.


Yang ia hadapi ialah Benteng Byzantium! Dibatasi laut dengan pagar
rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, tak mampu
ditembus selama 11 abad.


Kokohnya Benteng Byzantium tak membuat Ia kehilangan akal. Tak bisa
menyebrangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada ratusan
gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit
hanya dalam satu malam!
 


Pagi hari menjelang, musuh kaget bukan kepalang. Benteng Byzantium
yang selama 11 abad tak terhancurkan, hari itu telah mampu ditembus.


Lalu saat ini, kita sadar akan bentang yang amat jauh antara kualitas pemuda saat
ini dan  di zaman Muhammad Al-Fatih. Kita juga sadar akan ketinggalan
yang amat jauh yang harus kita kejar.


“Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya
sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia
habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang
hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa
yang telah dia lakukan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi)


Masa muda akan dimintai pertanggungjawabannya bukan?

Comment

Rekomendasi Berita