by

Perusahaan Penyedia Keamanan Dunia G4S Hentikan Kerja Sama Dengan Israel

RADARINDONESIANEWS.COM, LONDON – Perusahaan
penyedia jasa kemananan terkemuka di dunia berbasis di Inggris Group 4
Security (G4S), telah menanggapi kampanye global Boikot, Penghentian
saham, dan Sanksi (BDS) untuk menghentikan kerjasama dengan Israel dalam
waktu dekat.
 
Sebagaimana keterangan pers dari laman resmi BDS yang dikutip radarindonesianews.com melaporkan perusahaan swasta tersebut mengumumkan akan menjual
seluruh bisnis Israel dalam kurun satu atau dua tahun mendatang.


Keputusan tersebut diambil, menanggapi kampanye BDS sejak empat tahun
silam yang memprotes perannya dalam pelanggaran Israel terhadap hak
asasi manusia di Palestina.


Langkah itu ditempuh setelah terungkap bahwa perusahaan yang
menyediakan peralatan dan jasa untuk penjara-penjara Israel dan
pusat-pusat penahanan bagi ribuan tahanan Palestina telah mengalami
kerugian 40 persen selama setahun penuh belum termasuk pajak yang
ditanggung.


“Ini berita terbaru dari G4S, tapi tidak memiliki efek langsung pada
mereka yang menghadapi pelanggaran HAM berat dalam penjara Israel saat
ini,” kata Direktur lembaga Hak Asasi Tahanan Addameer, Sahar Francis.


Sejak 2010, BDS melaporkan G4S telah kehilangan kontrak bernilai
jutaan dolar di banyak negara akibat tekanan yang dilakukan oleh gerakan
internasional yang berdiri sejak 2007 itu untuk menyeru mereka
mengakhiri keterlibatanya di penjara Israel.


Sebelumnya, Yayasan Bill Gates pada 2014 melakukan penghentian
saham senilai 170 juta Dolar AS menyusul protes di kantornya di Seattle,
London, dan Johannesburg.


Dalam beberapa pekan terakhir, UNICEF di Yordania dan beberapa
restoran utama di Kolombia ikut berpartisipasi mengakhiri kotrak mereka
dengan G4S.


“Peningkatan boikot Internasional apartheid Afrika Selatan yang
dilakukan BDS membuat perusahaan terbesar di dunia menyadari keuntungan
dari apartheid dan kolonialisme Israel adalah buruk bagi bisnis,” kata
Jubir Komite Nasional BDS Palestina, Mahmod Nawaja.


Tidak hanya itu, perusahaan multinasional Perancis Veolia, Oranye,
serta CHR yang merupakan perusahaan terbesar di Irlandia telah
mendahului langkah G4S dalam beberapa bulan terakhir yang diserukan oleh
BDS.


Pada Januari lalu, Persatuan Gereja Methodist menempatkan lima bank
Israel pada daftar hitam, karena keterlibatannya dalam pelanggaran hak
asasi manusia, termasuk pembiayaan permukiman ilegal Israel.


November 2015, Partai Buruh Inggris telah mengakhiri kontrak konferensi keamanan dengan G4S.


Sementara itu pada April 2015, lebih dari 20 pembisnis di Afrika
Selatan mengakhiri kontrak mereka dengan G4S, biaya perusahaan senilai
lebih dari 500 ribu dolar.


Jubir Komite Nasional BDS Palestina mengatakan bahwa perkembangan
kampanye yang dilakukan oleh BDS mengesankan karena dilakukan melalui
gerakan non-kekerasan.


“Kami sangat percaya, pendekatan ini akan meraih kemenangan, seperti pengumuman yang terbaru dari G4S,” terangnya.(mina)

Comment

Rekomendasi Berita