by

Hilangnya Budaya Membungkuk Di Dunia Pendidikan

Taufiq Dwi Kusuma,SH
RADARINDONESIANEWS.COM, KEDIRI – Ketika saya teringat masa sekolah SD, saya dan teman-teman akan memasuki
sekolah tempat menimba ilmu. guru saya menyuruh kami berbaris dihalaman
depan kelas.
Siap grak…
Lencang depan grak..
Lepas grak…
Hormat grak….
Tegak grak …
Serentak dengan membungkuk …
Selamat Pagi Pak guru …
Selamat Bu guru…

Beliau menjawab. Selamat Pagi anak- anak. Setelah itu memasuki kelas
satu persatu dengan membungkuk bersalaman mencium tangan Bapak/Ibu
guru.
                     
Saat dijalan bila kebetulan
berpapasan dgn Bpk/ibu guru saya  bersama teman-teman berhenti/berdiri,
saat beliau melintas didepan kami, kamipun membungkuk memberi hormat,
Assalamualaikum …
Selamat pagi, siang, sore Pak/Bu.

Saat kami menemukan guru diam berdiri di suatu tempat kami tidak berani
meneruskan jalan atau kalau memang kami harus terus, saat didepan
beliau, kamipun memberi hormat dgn membungkuk.
 
Padahal saat itu rata-rata guru saya galak-galak. Bahkan saat dikelas
beliau biasa memegang penggaris kayu kecil, tdk jarang beliau memukul
kami dgn penggaris kayu saat kami melakukan kesalahan/rame di kelas,
namun kami tdk marah atau sakit hati apalagi sampai mengadu pada orang
tua, bila terpaksa kami hrs mengadu kepada orang tua justru kami yang
dimarahi, bahkan membenarkan tindakan bapak/guru.

Kini Setelah kami dewasa baru menyadari dan membenarkan tindakan keras
dan disiplin guru saat kami melakukan kesalahan.                          
Saat saya harus banyak membungkuk memberi hormat kepada beliau. Setelah
saya kini telah dewasa, baru tahu betapa pentingnya budaya membungkuk
kepada org yang saya hormati, bahkan kepada orang yang lebih senior dan
dewasa.

Tatkala saya berpapasan atau melewati pintu depan rumahnya, kami sudah
terbiasa berjalan menunduk sebagai bentuk hormat dan “ngajeni” kepada
yang lebih tua.

Kini saya tahu kalau berjalan mbungkuk bukan hanya sekedar tata cara
penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada
manusia lain yang dinilai lebih berat “isinya”. Bisa ilmunya, bisa
usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.
Sekarang saya
prihatin nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita
budaya mbungkuk, yang ada dan yang bisa dikenang.

Sekarang, pendekatan guru sebagai teman terkadang malah kebablasan. Tak
ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi ewuh pekewuh kepada sang guru.
Karena dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.
Ditempeleng, lapor komnas HAM. Kalau murid gagal, guru disalahkan.

Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan berlomba
menjemput guru kami saat memasuki pagar sekolah. Ada yg berebut
membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap
bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.

Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius.
Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yg membuat para
murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk
mewujudkan.

Namun Alhamdulillah.. Budaya itu masih berlaku hampir disemua  Pondok Pesantren.
Santri masih memiliki rasa hormat dan Ta’dzim kepada Kyai dan Guru. Yang
merasa muda hormat kepada tua, yang tua (senior) sayang kepada yg muda
(yunior) yang saya tulis ini sebagai ungkapan untuk  berbicara lebih
dari sekedar keprihatinan hilangnya tata krama, sopan santun dan
membungkuk yang katanya demi untuk menjaga budaya itu dinegeri sakura
(negeri pusat otomotif dan electronik ). Mejadikan kurikulum pada budaya
membungkuk, yang kalau saya artikan, berarti menghormat dan ikrar tanpa
kata-kata.

“Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia”.

inilah sekelumit ungkapan, jejak kami di saat kami sambang Pondok Pesantren.

Semoga kita kembali menjadi bangsa yang terkenal dgn tahu tata krama
pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah
bagian dari keprimitifan.[Taufiq]

Comment

Rekomendasi Berita