by

IPB Kembangkan Genetika Pohon di Hutan

Institut Pertanian Bogor (IPB).
RADARINDONESIANEWS.COM, BOGOR — Institut Pertanian Bogor
mengembangkan peranan genetika yang terkandung dalam pohon yang tumbuh
di hutan Indonesia, agar spesies alam ini tidak punah oleh pembalakan
hutan.

“Diperlukan pengenalan untuk menggolongkan varian genetik
maupun species dari populasi pohon,” kata Guru Besar Fakultas Kehutanan
IPB Prof Dr Iskandar Z Siregar di Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/4).

Menurut
dia, dengan adanya penggolongan species pohon, maka bisa diambil
Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) dari populasinya untuk dikembangkan dan
dipelajari.

Ia menambahkan, dalam pengambilan dari beberapa
sampel DNA pohon yang disebar di beberapa hutan yang ada di Indonesia
dengan tingkat kecenderungan antara lain iklim, konstur lahan, maka
diperoleh varian DNA baru dari satu jenis varian genetik.

“Dengan
adanya jenis-jenis pohon baru dari pengembangan genetik dalam rangka
pengolahan hutan maka akan timbul isu lingkungan global. Dampak dari isu
lingkungan global yaitu perubahan iklim, pemanfaatan biomassa, serangan
hama penyakit, dan lain-lain,” katanya.

Iskandar menjelaskan,
secara umum hasil-hasil penelitian menunjukkan tingkat varian genetik di
dalam populasi dan antar populasi yang beragam, mulai dari rendah
hingga tinggi tergantung pada spesies pohon dan sejarah domestikanya.

“Misal
Secara umum pohon hutan (long lived dan woody perennial) memiliki
keanekaragaman genetik yang lebih tinggi dibandingkan kelompok tumbuhan
lainnya,” ujarnya.

Selain itu penelitian genetika hutan dapat
dimanfaatkan untuk antisipasi dampak negatif yang menjadi akibat
intervensi pengolahan hutan, misalnya implikasi penurunan limit diameter
tebangan, penggunaan bibit yang terbatas dari klon-klon (jenis pohon)
tertentu.

“Fungsi dan tugas pokok hutan adalah sebagai
penanggulangan bencana, sebagai tempat tinggal dari beberapa species
hewan yang hampir punah (orang hutan),” katanya.

Iskandar
menjelaskan, genetika hutan juga dapat digunakan untuk pengendalian
kualitas benih atau sistim produksi lainnya seperti stek pucuk, kultur
jaringan, dan koleksi kebun pangkas.  Berbagai produk pengetahuan dari
penelitian genetika hutan membantu mengisi dan melengkapi kesenjangan
informasi genetik selama ini.

Ia menambahkan dalam peranan dan
pemanfaatan sumber daya pohon hutan perlu juga menyesuaikan dengan
“Implement Protokol Nagoyalih” tentang pembagian manfaat yang diperoleh
dari penggunaan dan pengetahuan tradisional sumberdaya alam dalam
penggunaannya.[AN]

Comment

Rekomendasi Berita