by

Mahfudz: Pembebasan WNI yang Disandera Kelompok Abu Sayyaf Kelamaan

Mahfudz Siddik, Ketua Komisi I DPR RI. [Suroto/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, AKARTA – Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Sidiq
melihat negosiasi pembebasan sandera yang dilakukan pemerintah terlampau
lama. Padahal tenggat waktu 10 hari yang disepakati perusahaan dengan
Abu Sayyaf sudah terlewat.
 
“Sebenarnya kan deadline senin lalu, ini sudah hampir 10 hari dari
tenggat waktu yang disepakati antara perusahaan dengan pihak Abu Sayyaf.
Belum ada titik temu, ini lebih karena ketidakmampuan pihak perusahaan
memenuhi tebusan yang sangat besar,” sesal Mahfud kepada wartawan di
Gedung DPR RI, Kamis (28/4/2016).


Dengan kasus dieksekusinya warga negara Canada, menurut politisi PKS
ini, pembebasan sandera WNI menjadi sangat dilematis. Karenanya, jika
pemerintah orientasinya menyelamatkan WNI dengan jalan kemanusian,
dirinya mendesak pemerintah untuk lebih pragmatis.


“Saat ini perusahaan yang mempekerjakan sandera WNI itu tidak mampu
membayar uang tebusan yang disyaratkan Abu Sayyaf. Karenanya, pemerintah
harus turun tangan,” tegasnya.


Terkait kekuatan militer, Mahfudz kurang setuju. Pasalnya, militer
Filipina saja tak mampu bebaskan para sandera. Apalagi TNI yang sama
sekali tidak paham medan persembunyian Abu Sayyaf.


“Untuk mencegah penyanderaan terhadap WNI terulang, Mahfudz
mengusulkan agar TNI bersama tentara Filiphina agar lebih mengoptimalkan
operasi bersama dalam menjaga wilayah rawan,” pungkasnya. (Denny/bb)

Comment

Rekomendasi Berita