by

Rayakan Harlah NU ke 93, PCINU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara

Foio Taufiq DK [radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Dalam rangka memperingati Harlah NU ke 93, Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Tunisia menggelar pentas seni dan budaya (tadhahurah al-tsaqafah) di kampus Fakultas Sastra, Seni, dan Humaniora (FSSH), Universitas Manouba, Tunis, Rabu (20/4) siang waktu setempat.

Ratusan pengunjung yang memadati lokasi acara ini nampak antusias menyaksikan ragam penampilan seperti Pencak Silat, Atraksi Debus, Tari Zapin, Tari Saman, Puisi dalam dua bahasa (Arab dan Indonesia), dan aneka jenis musik.

Semua atraksi kesenian ini dimainkan oleh para kader NU Tunisia. Para pengunjung yang umumnya mahasiswa itu berkali-kali tepuk tangan meriah, atau turut mendendangkan lagu-lagu serta syair shalawat yang ditampilkan. Hadirin tampak antusias dan kompak menyanyikan lagu Syubbanul Waton, ciptaan K.H. Wahab Chasbullah.

Selain pentas seni dan budaya, dipamerkan pula sejumlah kitab karya ulama nusantara, serta beberapa buku tentang Islam di Indonesia, misalnya buku-buku karya Gus Dur, Cak Nur, Martin Van Bruinessan, dll.

”Indonesia memilik banyak intelektual. Namun, karena mereka tidak menulis dengan bahasa Internasional sehingga kurang dikenal. Maka, dengan meresensi karya-karya mereka, saya harap turut memperkenalkan khazanah intelektual Indonesia ke Tunisia, khususnya. Bukan hanya seni dan budaya,” kata A. Muntaha Afandie, ketua Tanfdidziyyah PCINU Tunisia.

Selain buku-buku berbahasa Indonesia, ada dua belas kitab karya Syekh Nawawi Banten, seperti kitab Tafsir Marah Labid, Uqudulujein, Maraqi al Ubudiyah, Tanqih al Qaul, at-Tsamar al Yani’ah dan lain-lain.

Kehadiran kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama Nusantara ini, sempat menarik perhatian para dosen dan mahasiswa setempat. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa sejumlah kitab itu juga diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka Timur Tengah seperti Darul Fikr Beirut atau Mustafa Halbi Kairo. Buku lain yang menarik perhatian mereka adalah Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat dalam dua bahasa (Indonesia dan Arab) karya Martin V. Bruinessen, dan Nahdlatul Ulama Traditional Islam and Modernity in Indonesia karya Greg Fealy and Greg Barton.

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PCI NU Tunisia A. Muntaha Afandie, menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai dan tanpa pertumpahan darah. “Yang terjadi adalah akulturasi antara Islam dengan budaya lokal”, tutur Muntaha. Pada masa-masa berikutnya, lanjut mahasiswa S2, konsentrasi Linguistik di FSSH Manouba ini, perpaduan budaya lokal dengan ajaran Islam ini menjadi salah satu faktor penting dalam merekatkan ukhuwah di kalangan umat Islam di Indonesia. Toleransi di tengah keragaman sebagaimana ditunjukkan umat Islam di Indonesia saat ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi umat Islam di Dunia Arab, termasuk Tunisia.

Dalam acara itu, turut hadir Duta Besar RI untuk Tunisia Ronny Prasetyo Yuliantoro, Dekan FSSH Prof Dr Habib Kazdagli, Wakil Dekan Dr Sourour Lihyani, serta sejumlah dosen dan staf universitas. Selain itu, acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Tunisia, antara lain, Syekh Dr. Shalahedsine Mistawi, mustasyar PCINU Tunisia yang juga mantan Sekretaris Jenderal al-Majelis al-A’la lis-Syuun al-Islamiyah, yakni semacam Majelis Ulama-nya Tunisia.

Ditemui ditempat berbeda, Ketua pelaksana Harlah, Ariandy mengatakan terima kasih dan apresisi setinggi-tingginya kepada KBRI dan Dekan FSSH atas kerjasama. ”Kami sangat berterima kasih kepada Dubes RI, Bapak Ronny dan Dekan. Tentu acara ini bisa sukses dengan pihak-pihak tersebut,” pungkas Panitia Harlah yang juga ketua PPI. (Pick)-

Comment

Rekomendasi Berita