by

Terungkap, Perbudakan Seks Gadis Perawan di Korut

ilustrasi:google
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Banyaknya warga Korea Utara yang berhasil melarikan diri dari
negaranya mengungkap banyak informasi bobroknya Korut. Salah satu yang
paling mencengangkan adalah kisah pilu gadis-gadis muda yang dipaksa
memuaskan nafsu pejabat pemerintah.

Tentara-tentara di Korea Utara bebas memilih gadis-gadis secara acak
yang biasanya adalah teman sekolah mereka sendiri. Para tentara juga
melakukan penyelidikan secara detil tentang keperawanan sang gadis.

Gadis-gadis yang dipilih nantinya akan dipekerjakan untuk melayani
lingkaran elite militer Korut. Mereka dikenal dengan sebutan pasukan
kesenangan pemimpin atau Gippeumjo.

Gippeumjo terdiri dari 2 ribu gadis yang akan dibagi tiga kelompok
khusus, yakni untuk melayani seks, untuk memberikan pijatan, dan untuk
bernyanyi atau menari secara semi telanjang.

Praktik ini sangat rahasia di kalangan warga lokal maupun warga asing.
Namun kabar ini terungkap dari seorang pembelot yang kabur ke Korea
Selatan atau China.

Keluarga sang gadis pun mengaku tidak tahu kemana perginya putri mereka,
hanya diberitahu mereka akan terlibat dalam ‘Proyek penting
pemerintah’.

Sejak saat itu, sang gadis tak diperbolehkan menghubungi keluarga
dengan cara apapun, dilansir News.com.au. Salah satu gadis yang berhasil
lari ke Korsel, Mi Hyang mengungkapkan jika pemimpin mereka, Kim
Jong-un juga ikut mencari kesenangan sekitar enam bulan setelah sang
ayah meninggal.

Hyang sudah melayani Kim Jong II yang saat itu masih berusia 15 tahun,
ketika dua pria berseragam tentara menyerobot masuk ke ruang kelasnya
tanpa pemberitahuan apapun, dan mulai mencari gadis-gadis cantik di
semua kelas.

Hyang dianggap memenuhi syarat sebagai gadis yang tingginya lebih dari
165 sentimeter, bebas dari bekas luka dan kulit berminyak, memiliki
suara lembut dan feminim, serta perawan.

“Saya merasa sangat malu untuk mendengar pertanyaan seperti itu,”
ujarnya Hyang. Usai kematian Kim Jong II tahun 2011, kelompok Gippeumjo
kabarnya diperbolehkan untuk kembali kepada keluarga mereka. Namun,
pejabat pemerintah memberi setiap gadis Rp 52 juta agar tidak
menceritakan apa yang telah mereka alami selama di dalam pemerintahan.[sumber]

Comment

Rekomendasi Berita