by

Hartamu Itu Titipan, Bersedekahlah Agar Hidupmu Penuh Berkah

Ilustrasi. | Foto: copyright cdn.muslimmatters.org
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bismillahirrahmanirrahim, Izinkan saya berbagi kisah
seorang anak bernama Khaerunissa. Penghasilan ayahnya 10 ribu rupiah
setiap harinya. Suatu hari dia sakit diare. Namun, karena ayahnya tidak
punya cukup uang, ia tidak bisa pergi berobat, setiap hari ia menemani
ayahnya memulung. Hingga akhirnya tanggal 5 Juni 2005, Khaerunissa
meninggal dunia tepat di gerobak sampah ayahnya.
Ini adalah
kisah nyata yang terus memotivasi kami mengembangkan berbagi inovasi
kesehatan sosial, salah satunya klinik asuransi sampah. Tujuannya untuk
membantu masyarakat miskin mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena kami
yakin kesehatan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang kurang
mampu.
Kawan, perasaan apa yang muncul tatkala kita melihat
pengemis di pinggir jalan? Ketika ada korban kecelakaan? Tatkala kita
melihat orang sakit yang tak mampu berobat? Ingin menolong, memberi, dan
berbagi bukan? Tapi renungkan berapa kali kita melewatkan kesempatan
berbuat kebaikan kepada saudara-saudara kita? Berapa kali mobil kita
tetap melaju ketika ada kecelakaan di dekat kita? Berapa kali kita
melewatkan pengemis yang mengetuk pintu rumah kita?
 
 
“Boleh jadi saat engkau tidur, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh doa-doa orang-orang yang pernah engkau tolong.”

(dr. Gamal Albinsaid) 

 
Terkadang
kita memang sedih, tapi pasti ada yang lebih sedih. Jika engkau
berpikir hidup ini tidak adil, maka ingatlah, pengemis, orang-orang
tanpa penglihatan, anak yatim piatu, mereka lebih berhak mengatakan
bahwa hidup ini tidak adil. Kepada merekalah kita harus memperhatikan,
jika kita ingin Allah memperhatikan kita.
Orang
tidak peduli seberapa hebat kita, seberapa kayanya kita, seberapa
pintarnya kita, yang mereka pedulikan hanyalah satu, apakah keberadaan
kita memberikan manfaat untuk mereka? Oleh karenanya, berilah manfaat,
ulurkanlah tangan, dan pancarkanlah terus kebaikan.
Boleh jadi
saat engkau tidur terlelap, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh
puluhan doa kebaikan untukmu, dari orang fakir yang telah engkau tolong,
atau dari orang kelaparan yang telah engkau beri makan, atau dari orang
yang sedih yang telah engkau bahagiakan, atau dari orang yang dihimpit
kesulitan dan telah engkau lapangkan. Maka janganlah sekali – kali
engkau meremehkan sebuah kebaikan.
Mungkin kita menerka
keberhasilan yang kita terima adalah buah dari doa dan kerja keras kita.
Tapi sadarkah kita, bahwa barangkali keberhasilan itu adalah jawaban
dari doa seseorang yang tak pernah kita sangka sebelumnya?
Selama
ini kita berpikir ketika kita berbagi kita sedang menolong orang lain
dan orang lain membutuhkan kita, kita salah besar. Sebenarnya kita lah
yang sedang menolong diri kita sendiri dan kita lah yang lebih
membutuhkan dibanding orang yang kita tolong. “Belilah” doa orang-orang
fakir dengan sedekah.
Bukankah Alquran menyebutkan bahwa
orang-orang yang sudah meninggal berharap kembali ke dunia supaya mereka
bisa bersedekah? Biarkan harta kita laksana angin yang berhembus,
datang dengan mudah tanpa kita rasakan, dan tersepoi dengan cepat untuk
kita sedekahkan.[vem]
*Artikel ini ditulis oleh dr. Gamal Albinsaid, CEO Indonesia Medika & Motivator Internasional.

Comment

Rekomendasi Berita