by

Kisah Cinta Paling Mulia Sepanjang Masa, Kisah Ali & Fatimah

Photo: Copyright pinterest.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berbicara mengenai kisah cinta paling romantis dalam Islam,
sebagian besar orang tentunya setuju bahwa kisah cinta paling romantis
ini adalah kisah cinta antara Ali Bin Abi Thalib yang tak lain adalah
Khulafa’ur Rashidin ke 4 dengan Fatimah Az Zahra, wanita yang sangat
cerdas, cantik lagi berhati mulia dan tak lain adalah putri kesayangan
Rasulullah SAW. 
Bagaimana tidak romantis, kisah cinta dua anak
manusia yang sama-sama mulia di hadapan Allah dan memiliki kedudukan
tinggi di mata Allah ini sungguh sangat mengesankan, menyentuh hati dan
mampu menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang. Dalam beberapa
riwayat bahkan dikatakan bahkan kisah cinta keduanya tak hanya berupa
kisah cinta paling romantis. Kisah cinta keduanya juga sangat mulia dan
terpuji.
Kisah cinta antara Ali dan Fatimah berlandaskan pada
iman dan keyakinan hanya pada Allah semata. Meski keduanya saling
mencintai satu sama lain dari jauh hari sebelum keduanya menikah,
keduanya mampu menyimpan cinta di hati masing-masing untuk satu sama
lain dengan sangat baik. Keduanya mampu menyimpan cinta di hati
masing-masing hingga akhirnya mereka bisa saling mencurahkan cinta
keduanya dalam ikatan yang halal. Yakni ikatan pernikahan.
Meski
akhirnya keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan, perjuangan dan
pengorbanan keduanya untuk sampai ke pernikahan tidaklah mudah.
Berkali-kali Ali harus merasa kecewa dan berusaha ikhlas menerima
kenyataan bahwa Fatimah telah dilamar pria lain yang jauh lebih sukses,
jauh lebih berpengaruh dan jauh lebih dekat dengan Rasulullah, ayah dari
wanita mulia bernama Fatimah.

Hancur Hati Ali Mengetahui Fatimah Dilamar Pria Lain

Hati Ali Bin Abi Thalib sekita hancur setelah mengetahui wanita
pujaannya dilamar oleh seorang pria. Terlebih lagi, pria tersebut
memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan juga di mata Rasulullah.
Pria tersebut adalah Abu Bakar As Shidiq. Ya, Abu Bakar telah
memberanikan diri menghadap Rasulullah dan mengutarakan niatnya untuk
mempersunting putri kesayangan Rasulullah, Fatimah Az Zahra.

Tapi
ternyata, Fatimah menolak lamaran Abu Bakar. Mendengar penolakan ini,
hati Ali kembali sedikit tenang. Wanita yang begitu ia cintai dan setiap
hari ia sebut namanya dalam doa untuk diberikan keridhoan Allah atas
dirinya, tidak jadi menjadi milik orang lain.

Sayang, ketenangan
dan keceriaan di hati Ali kembali sirna. Hatinya kembali hancur ketika
mendengar kabar bahwa sahabatnya, seorang yang juga memiliki kedudukan
tinggi di mata Allah dan Rasulullah serta sangat gagah perkasa dan
memiliki segalanya yakni Umar Bin Khatab menghadap Rasulullah dan
mengatakan bahwa ia ingin meminang Fatimah.

Beruntung, sekali
lagi takdir berpihak kepada Ali. Lamaran Umar ditolak oleh Fatimah juga
Rasulullah. Hati Ali pun kembali menjadi lebih tenang. Namun, di sisi
lain hatinya juga sangat gundah, sedih dan galau. Jika kedua pria yang
memiliki kedudukan tinggi di mata Allah juga Rasulullah saja ditolak
lamarannya, bagaimana dengan dirinya yang hanya seorang pemuda miskin
dan tak punya apa-apa.

Kondisi inilah yang membuat Ali menjadi
pasrah. Ia hanya meminta kepada Allah agar diberikan yang terbaik
padanya. Kalau pun memang Fatimah akan menjadi istrinya, di dunia dan
insyaallah di akhirat, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik dan
termudah baginya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, suatu hari Ali
berbincang dengan Abu Bakar dan ia mengatakan,

“Wahai
Abu Bakar, engkau telah membuat hatiku yang sebelumnya tenang menjadi
goncang. Engkau telah mengingatkanku akan sesuatu yang sudah aku
lupakan. Demi Allah, aku menghendaki Fatimah. Tapi, yang menjadi
penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa
untuk memberanikan diri datang padanya.”

Mendengar pernyataan
Ali, Abu Bakar pun tersentuh lantas mengatakan, “Wahai Ali, janganlah
engkau berkata demikian. Bagi Allah dan RasulNya, dunia dan seisinya ini
hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka.” 

Mendengar nasehat Abu Bakar dan atas dukungan beberapa sahabat yang
lain, Ali pun lantas memberanikan diri menghadap Rasulullah dan
mengutarakan isi hatinya. Apa yang disampaikan Rasulullah pun begitu
mengharukan dan menyentuh hati.

Lamaran Diterima, Fatimah Mengungkapkan Isi Hatinya

Dengan perasaan ragu-ragu namun penuh harap, Ali pun menghadap
Rasulullah. Ia mengutarakan niatnya untuk meminang Fatimah Az Zahra.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa wajah Rasulullah berseri-seri atas
kedatangan Ali. Beliau lantas mengatakan,

“Apakah engkau memiliki suatu bekal mas kawin?.” Dengan penuh ketulusan
Ali pun menjawab, “Demi Allah, engkau sendiri mengetahui bagaimana
keadaanku ya Rasulullah. Tak ada sesuatu tentang diriku yang tak engkau
ketahui. Aku tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah
pedang dan seekor unta.”

Mendengar jawaban Ali, Rasulullah pun
tersenyum lantas mengatakan, “Tentang pedangmu, engkau tetap
memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu,
engkau tetap memerlukannya untuk mengambil air bagi keluargamu juga bagi
dirimu sendiri. Engkau tentunya memerlukannya untuk melakukan
perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkanmu dengan mas
kawin baju besi milikmu. Aku bahagia menerima barang itu darimu Ali.
Engkau wajib bergembira sebab Allah lah sebenarnya yang maha tahu lebih
dulu. Allah lah yang telah menikahkanmu di langit lebih dulu sebelum aku
menikahkanmu di bumi.”(HR. Ummu Salamah r.a).


Rasa
syukur pun tak henti diucapkan oleh Ali. Ia akhirnya menikah dengan
seorang gadis yang telah lama dicintainya dengan sangat tulus.
Pernikahan antara Ali dan Fatimah pun dilangsungkan dan penuh hikmah.
Setelah menikah dengan Fatimah, sesaat hati Ali kembali dibuat sedih
setelah Fatimah mengatakan bahwa ia pernah mencintai seorang pemuda
sebelum menikah. Tapi, selama ini ia menyimpan rapat cinta tersebut dan
hanya ia juga Allah yang tahu. Bahkan, di dalam sebuah riwayat dikatakan
bahwa cinta Fatimah untuk seorang pemuda ini tidak diketahui oleh jin
ataupun setan sekalipun.

Namun, kesedihan tersebut tak
berlangsung lama dan Ali pun kembali merasa sangat bahagia luar biasa
ketika Fatimah menjelaskan lebih dalam bahwa seorang pemuda yang ia
cintai sebelum menikah adalah dirinya. Ia adalah seorang pemuda yang
mampu membuat detak jantung Fatimah berdetak semakin cepat setiap kali
ia berada di dekatnya atau bertatap muka dengannya. Ia adalah pemuda
sederhana namun sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah, Rasulullah
juga semua umat muslim.  Ia adalah seorang pemuda yang kini telah
menjadi suaminya, suami Fatimah. Ia adalah Ali Bin Abi Thalib.

Ali
dan Fatimah adalah sepasang suami istri yang begitu mencintai dengan
tulus satu sama lain. Meski kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan
mulus seperti apa yang ada di bayangan mereka, mereka tetap saling
mendukung satu sama lain. Mereka juga saling menyayangi dan mengasihi
satu sama lain dengan kasih sayang yang tulus serta mengesankan.

Ladies,
itulah kisah cinta romantis antara Ali dan Fatimah. Semoga, kisah
keduanya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan kita pun bisa
mengambil setiap pelajaran berharga darinya. Kita harus percaya bahwa
jodoh sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagi kamu yang sudah dipertemukan
dengan jodohmu, pastikan untuk selalu mencurahkan kasih sayang tulus
satu sama lain. Sementara untuk kamu yang memang belum dipertemukan
dengan jodohmu, sabar saja. Entah kapan dan dimana, kamu akan segera
dipertemukan dengan jodohmu. Tugasmu sekarang adalah memantaskan diri
karena sebenarnya jodoh adalah cerminan dari dirimu sendiri.

Semoga,
kisah ini menginspirasi. Untuk umat muslim yang hari ini sedang
menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa. [vem]

Comment

Rekomendasi Berita