by

Letjen (Pur) Suharto: Kembali Ke UUD’45 Untuk Selesaikan Kondisi Negara

Akbar, aksi bersama rakyat saat gelar pertemuan dengan warga Jakarta.[Foto:istimewa]

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sinyalemen carut marutnya kondisi negara menurut Letjen
TNI Marinir (purn) TNI Suharto, yang juga merupakan Ketum Front Nasional
mengatakan perlu disadari penelusurannya dari sisi ekonomi.
Pandangannya ini dikuatkan dengan kondisi hutang negara Indonesia
yang saat ini sudah mencapai sebesar 3.040 triliun rupiah
jumlahnya,”ujar mantan marinir lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL)
angkatan ke XV Tahun 1969 itu saat memberikan sepatah dua patah kata
saat sambutan di sela acara buka bersama  yang diadakan oleh
elemen aktivis AKBAR (Aksi Bersama Rakyat) di salah satu restoran
di bilangan Jalan Cikajang, Jakarta Selatan, Selasa (21/6).

Di
hadapan rekanan serta aktivis senior seperjuangan yang berupaya menyikapi situasi sosial politik yang
semakin dinamis dalam rangkaian silaturahmi dan diskusi Gerakan, Ketum
Front Nasional, Letjen (purn) Suharto menyampaikan dengan perumpamaan
perbandingannya dengan salah satu negara di Eropa, yakni Yunani yang
mengalami collaps perekonomiannya, kemudian pemerintahannya ‘ambruk’
atau digulingkan. “Sehubungan dengan jumlah hutang negaranya yang
mencapai sekitar 4.400 triliunan itulah kira-kira, hingga Yunani jatuh
tumbang pemerintahannya,”jelasnya mengingatkan. 
Menurut
pertimbangan itulah maka, Suharto berkata untuk itu diperlukan
perbaikan di sisi ‘hulu’ yakni, ‘kembali ke Pancasila dan UUD’45.
Soalnya, kondisi ‘collaps’, di mana sistem negara terasa sudah rapuh,
di mana semua masalah korupsi, dan segala macam jenisnya ini tidak akan
selesai jika tidak kembali pada hulunya,”tutur Ketum Front Nasional yang
sejauh ini telah merangkul hampir berjumlah dengan 48 ormas untuk
seluruh wilayah di Indonesia.
Bahkan
kekhawatiran mantan marinir yang dahulu di era Pergolakan ’98 Presiden
RI ke-2 Soeharto mengundurkan diri pada 21 mei 1998 dan kemudian selaku
salah seorang marinir pada saat itu berpangkat Brigjen pas menjabat
selaku Komandan Marinir yang pernah membukakan gerbang pintu Senayan
bagi para mahasiswa sebelumnya berupaya merangsek masuk ke gedung wakil
rakyat ketika itu, menyampaikan pula bahwa seluruh ormas pendukung Front
Nasional sejauh ini sudah siap, dan situasi ini tidak bisa
didiamkan.”Indikasinya, dalam tenggang waktu 10-20 thn lagi, kita
bakalan akan bisa jadi ‘suku aborigin’ ibaratnya di negeri tercinta ini,
dan atau menjadi ‘temasek’ di negara ini,”imbuhnya penuh kekhawatiran.
Pasalnya,
menurutnya sudah sekitar 90% sumberdaya alam dikuasai oleh asing hanya
1% saja yang dikuasai oleh bangsa sendiri. “Maka dari itu tidak ada kata
lain selain bersatu, lupakanlah baju kita, siapa kita…balut dengan
almamater kalian..mari balik dan bangkit bagi Republik ini,”ucapnya
menyambungi hasil pertemuan sebelumnya di rumah kediaman ‘founding
father’ bersama dengan para mahasiswa sebelum hadir di bukber itu,
selasa (21/6)
“Sama juga dengan puluhan paket
kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sejauh ini, maupun resuffle. Tetap
saja kemungkinan tidak akan berubah, maka itu marilah bersatu untuk
bangsa,tanah air, republik kita,”ujarnya seraya memberikan himbauan
pula.
Untuk kedepan, Letjen TNI Marinir (purn)
Soeharto memberikan beberapa saran dan juga beberapa langkah konkrit dan
perlu dijewantahkan untuk kedepannya, serta tidak perlu takut bila ada
revolusi.”Revolusi itu mencakup semua lini dalam bangsa, dimana kembali
pada marwahnya, yakni kembali pada Pancasila dan UUD’45,”paparnya lagi
menyerukan.
Jangan takut bila ada revolusi.
Revolusi itu mencakup semua lini dalam bangsa. “Kembali di dalam
fungsinya, dimana di dalam marwahnya sebagai Lembaga Tertinggi, dan
Presiden adalah mandataris rakyatnya.”ungkapnya menjelaskan.
Bahkan
apabila nantinya tidak disanggupi, maka yang akan diajukan adalah
Dekrit.”Kita paksakan Presiden melakukan Dekrit yang tidak pernah
dicabut. Dekrit Presiden yang pernah dituangkan pada tahun 1959 dahulu.
Kembali, jika tidak mau maka mari kembali dan rubah sistem bernegara
yang sistemnya salah. Kedepannya nanti selepas bukber ini akan diadakan
jumpa pers dalam waktu dekat, bahkan akan lakukan ‘apel
akbar’….tempatnya di senayan,”cetusnya tanpa panjang lebar lagi
menjelaskan.
Sementara itu, senada dengan
pernyataan Letjen (purn) Suharto, Perwakilan dari Gerakan HMS (Hidupkan
Masyarakat Sejahtera) Hardjuno Wiwoho yang turut hadir menyampaikan
bahwa memang persoalan bangsa saat ini bertolak pada ekonomi. Dimana
persoalan politik, hukum, sara semua bertolak ukur pada
ekonomi,”imbuhnya menimpali.
Sekjen HMS,
Hardjuno juga merasa kalau kecenderungannya mulai nampak dalam pelbagai
bentuk kegiatan, dimana para kaum elite sudah mengetahui titik celah
masuknya lewat ekonomi.
Selain itu, menurutnya
acap kali panggung demokrasi itu dianggap seperti panggung sandiwara dan
politik bagi beberapa orang.”jelas sudah dijajah dan persoalan ekonomi
timbul karena Indonesia di’serang’ dari sisi SDA, bukan dari
SDM,”imbuhnya.
“Coba lihat itu KPK, aneh..kok
bisa lupa akan skandal Bank Century, skandal BLBI. Malahan kok arahnya
KPK ke masalah Saipul Jamil ? Bahkan baru-baru ini timbul tuduhan bahwa
KPK merupakan Komisi Perlindungan Korupsi…yang berawalnya surat dari
kementerian dalam negeri,”ucapnya menyesali dan khawatir.
“Saya
sepakat kita mesti bersatu dan tidak tercerai berai. Dengan kembali ke
UUD45 semoga bisa balik pada marwahnya..Indonesia sudah terjerat dengan
‘hutang abadi’. Maka itu mesti fokus dan memberikan peyadaran baik ke
kawan-kawan yang lain,”cetusnya sembari memberi saran.
Kemudian,
lebih lanjut lagi salah seorang tokoh aktivis buruh Sunarti, SBSI 92
yang sudah lama berkecimpung di dunia pergerakan dari semenjak sebelum
massa reformasi untuk agenda persoalan perburuhan di Indonesia turut
hadir pula. Sunarti merasa ungkapan yang telah dijewantahkan oleh letjen
(purn) Suharto memang terasa dari segi perburuhan yang ada di
Indonesia.
“Persyaratan TKA untuk bekerja di
Indonesia saja sudah tidak berlaku lagi, hingga itu berpengaruh bagi
kaum buruh, maka perlu dipersatukan pandangan di mana mestinya kita harus
mendekati dan rangkul,”ucapnya.
Sunarti
berkata aksi sejauh ini sudah digelar, namun untuk kedepan mesti perlu
saling merajut.”Namun kenapa setiap buruh sering aksi, kemacetan terjadi
di Jakarta ? , ini DKI Jakarta merupakan rumah kaca bagi Indonesia,
jika ini bisa kita rebut. Maka akan bergulir ke wilayah lain. Apalagi
setelah lebaran akan ada ‘rembuk nasional’, ini cukup
menggembirakan,”celetuknya menambahi.
Memang,
cukup dipahami, menurut Sunarti kalau mereka (kaum buruh) tak pelak
sempat dituding seperti yg dialami oleh ‘kawan ahok’, mari kita rangkul
mereka.”Mungkin mereka tidak paham. Maka itu kami dari kaum buruh
mendukung, dimana mayoritas penduduk Indonesia, maka ormas, elemen
lainnya mari kita bersama-sama, mari kita menjahit dari berbagai elemen
ini untuk disatukan,”utaranya sembari memberikan masukan.
“Setelah
lebaran mahasiswa, kaum miskin kota, buruh bersatu untuk melawan. Maka
itu, jangan lagi kita mundur…kita tidak ingin menjadi ‘jongos’ di
negeri kita sendiri. Harus berkeinginan menjadi tuan rumah di negeri
sendiri. Kita akan Gulingkan Ahok-Jokowi !!!,”ujarnya lagi.
“Mari
sama-sama bentuk tim kecil, jangan mau dipecah belah apalagi dipeta
konflik-an satu sama lain. Jika ada masalah, kita musyawarahkan dan
bahas satu sama lain. Hidup Rakyat DKI!…dan jangan putus asa. Kita
harus lawan.”pungkasnya.[NICHOLAS]

Comment

Rekomendasi Berita