by

Membangun Legitimasi Etis Dalam Praktek Demokrasi

RADAR INDONESIA NEWS.COM, JAKARTA – Agar suatu bangsa
terhindar dari proses self defeating nation, diperlukan suatu creative
action
, yaitu suatu tindakan kreatif yang terbebas dari ‘dikte’ atau
tekanan lingkungan sosial budayanya. Dalam agama, tindakan kreatif tersebut
terwujud berkat adanya ‘wahyu’. Pada manusia biasa, tindakan kreatif muncul
melalui pelaksanaan suatu gagasan – gagasan 
dengan comittment yang kuat dan disertai tekad pelaksanaan yang
teguh (konasi). Tindakan kreatif tersebut bisa terlaksana sesuai dengan
tujuannya, dengan syarat, disertai dengan tindakan parallel yang berupa
penegakan dan pengembangan fondasi – fondasi 
moral dan etika.

Sebagai Negara
demokrasi yang relatif baru, Indonesia terus berupaya melakukan pembangunan
demokrasi. Indonesia sudah memiliki suatu arsitertur politik nasional yang baru
dan terkenal dengan rezim demokratis yang saat ini sedang berupaya dalam track konsolidasi. Apakah proses
demokratisasi yang telah dilaksanakan ini termasuk kategori tindakan kreatif
atau justru mempercepat self defeating nation ? Tinggal memeriksa saja,
apakah pengembangan fondasi moral-etika telah mewujud dalam proses
demokratisasinya ?
Dalam ukuran indeks demokrasi global misalnya, kualitas demokrasi di Indonesia
telah mencapai suatu tahapan yang positif terutama dalam lima indikator
utama yakni (1) pemilu dan pluralisme, (2) fungsi pemerintahan, (3) budaya politik, (4) hak
masyarakat sipil
dan (5) partisipasi politik.

Data dari Indeks Demokrasi Global yang
di keluarkan oleh Economist Intelligence
Unit
tahun 2015 bahwa Indeks Demokrasi Indonesia[1] berada
di posisi 60 (2010) dan naik ke posisi 49 dengan
perolehan angka masih dibawah 8, pada 2014 dari total 167 negara. Bila
dibandingkan dengan Korea Selatan (21),
Spanyol (18), Chile (34), Australia (9), Kolombia (57), Jerman (13)
, Philipina (53), Malaysia (65) serta Thailand
(93)
, tertinggi Norwegia (1), maka Negara Indonesia relatif memang masih rendah, walaupun masih tertinggi di ASEAN.[Bersambung]
Penulis: Prasetyo Sunaryo, ir., MT,
Paradigma Riset Institute, 2016

Comment

Rekomendasi Berita