by

Modul Praktik yang Baik USAID PRIORITAS Digunakan di Tokyo

Guru peserta pelatihan sedang berfoto bersama menggunakan Modul Praktik yang Baik USAID PRIORITAS
RADARINDONESIANEWS.COM, TOKYO – Modul praktik yang baik USAID PRIORITAS ternyata tidak hanya digunakan di Indonesia
saja. Tapi, telah digunakan di Negeri Sakura, Tokyo, Jepang. Adalah Rossiana Susiandari, Kepala
Sekolah Republik Indonesia Tokyo
(SRIT)
yang merupakan Fasilitator USAID PRIORITAS di Kabupaten Banjanegara
melatihkan modul-modul USAID PRIORITAS kepada guru-guru di SRIT selama 3
hari (14-16/6/2016).



Rossiana
panggilan akrabnya, mengatakan bahwa SRIT berbentuk
sekolah satu atap untuk SD, SMP, dan SMA
dengan siswa berjumlah 104 orang. Model pembelajaran di SRIT
dengan di tanah air terutama sekolah-sekolah mitra USAID PRIORITAS
di Indonesia tidak jauh berbeda.
Guru dan pembelajarannya
aktif, banyak karya siswa yang dipajangkan di kelas, ada sudut baca di
setiap kelas, dan guru menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Hanya saja para
guru kurang terupdate dengan perkembangan di tanah air.



“Rasanya gemes
ingin segera menyentuh lagi dengan berbagai ilmu yang saya dapatkan dari USAID PRIORITAS.
SDM disini
bagus dan bersemangat.  Mereka perlu di
update dengan hal-hal terkini
dan
bermakna yang sedang berkembang di
tanah air,“ kata
Rossiana yang telah enam bulan
mendapat tugas dari Kemendikbud
menjadi kepala sekolah di SRIT.



Semua guru sejumlah
15 orang dari 3 jenjang
mengikuti dengan antusias, senang, dan sangat aktif. Materi mengambil modul
praktik yang baik
dalam pembelajaran dengan materi
pembelajaran kontekstual, memahami kurikulum, melayani perbedaan individu dalam pembelajaran, pertanyaan
tingkat tinggi dan membuat
lembar kerja sehingga siswa menjadi produktif dan kreatif, penilaian autentik,
serta persiapan dan praktik mengajar. Rossiana menjadi fasilitator untuk pelatihan ini.



Hal
yang seru adalah bagaimana kerja sama para guru dari Indonesia harus
menjelaskan pada guru pengajar bahasa Inggris, Teresa Harrow dan Sensei
Yukiko guru bahasa Jepang. Kedua guru
native pun sangat anstusias dan aktif mengikuti. Bahkan ada satu guru
yang belum pulih benar dari operasi memaksa ikut pelatihan melalui video
streaming. Ternyata para guru di SRIT sangat merindukan upgrading hal-hal yang terkait dengan pembelajaran.



“Selama saya mengajar di SRIT,
baru dapatkan pelatihan seperti ini. Saya bisa contoh cara ibu Rossi dalam
memfasilitasi pelatihan.
Awalnya saya sulit mengerti, tetapi dengan melakukannya saya
memahami. Saya senang sekali,”
ungkap Sensi Yukiko Toyota, guru bahasa Jepang yang sudah mengajar 30 tahun dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.



Guru
bahasa Indonesia Rina Pujaningsih, sangat senang mengikuti pelatihan
tersebut. “Pelatihannya tidak teoritis, tapi langsung dipraktikkan.
Arigatou,“ katanya dengan sedikit campur bahasa Jepang.



“Kami
mengapresiasi upaya peningkatan kapasitas guru dengan pelatihan di
sekolah karena lebih efektif, tepat sasaran karena benar-benar
dilaksanakan berdasarkan kebutuhan guru untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran,” kata Ibu Alinda Firtriyani Atase
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
di Tokyo mengapresiasi
upaya yang dilakukan
Rossiana.[Anwar Kholil]

Comment

Rekomendasi Berita