by

Penghormatan Untuk Mereka Yang Gugur Di Selat Sunda

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kapal
Angkatan Laut Australia selenggarakan upacara khidmat di
Selat Sunda, beberapa waktu lalu untuk mengenang salah satu pertempuran yang paling gagah
berani di perairan Indonesia selama Perang
Dunia Kedua.
 
Pada 1 Maret 1942, kapal penjelajah HMAS Perth I dan USS Houston menghadapi gugus tugas Angkatan Laut Jepang. Kalah dalam hal persenjataan dan jumlah
personel, kedua kapal tersebut bertempur hingga keduanya tenggelam setelah kehabisan amunisi. 
 
375
orang gugur di kapal perang Australia, sementara 328 warga Australia
diselamatkan hanya untuk menghabiskan masa perang di kamp Tawanan
Perang, di mana jumlah mereka yang gugur bertambah.
 
USS Houston kehilangan
696 pelaut dan marinir sementara 368 personel ditangkap, banyak di
antara mereka yang ditawan mengalami nasib yang sama dengan rekan
tawanan mereka
dari Australia.
 
74 tahun kemudian, Kapal Frigat Kelas Anzac Angkatan Laut Australia, HMAS Perth III, menyelenggarakan upacara peringatan di lokasi tersebut – menabur bunga untuk menghormati
dan mengenang mereka yang bertempur dan yang gugur.
 
Komandan HMAS Perth III,
Kapten Ivan Ingham berujar pengorbanan para tentara yang gugur selama
pertempuran tersebut membantu membentuk hubungan Indonesia dengan
Australia.
 
“Awak kapal HMAS Perth I dan USS Houston
merupakan bagian dari kisah perjuangan nasional Indonesia sebagaimana
juga menjadi bagian sejarah masa perang Australia sendiri,”
tutur Kapten Ingham.
 
Pihak
berwenang Indonesia dan Australia sudah membuat kemajuan dalam
memastikan bahwa bangkai kapal diamankan untuk generasi mendatang. Pusat
Penelitian Arkeologi dan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Museum Maritim Nasional Australia
mendokumentasikan bangkai kapal tersebut untuk keperluan pendidikan.
 
Juru bicara Museum Maritim Nasional Australia, Kieran Hosty, berujar langkah pertama adalah melakukan penyelaman di situs Perth I.
 
“Operasi
seperti ini pastilah sulit dan berbahaya. Waktunya tergantung pada
kekuatan arus air di bawah. Namun demikian, kami telah membicarakan hal
ini dengan rekan-rekan Indonesia kami
dan penyelaman akan dilakukan akhir tahun ini,” tutur Hosty.
 
Foto
yang diperoleh selama penyelaman ini akan membantu pihak berwenang
menentukan kondisi bangkai kapal. Bukti visual ini kemudian akan
digunakan sebagai ilustrasi kisah HMAS Perth
I dan USS Houston untuk generasi mendatang. Ada harapan besar, area tersebut pada akhirnya akan dinyatakan sebagai zona konservasi maritim.
 
“Segala
sesuatunya harus kita lakukan dengan hati-hati dan penuh hormat,
mengingat bila bangkai kedua kapal menghilang, demikian pula warisan
mereka – kecuali langkah-langkah diambil untuk
melindungi mereka sekarang,” ujar Hosty.[gf]

Comment

Rekomendasi Berita