by

Amuk massa di Tanjung Balai, vihara dan kelenteng dibakar

Aksi pembakaran dimulai menjelang tengah malam, berlangsungs ecara cepat.[FACEBOOK ALAM ZHU l ANTO]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tujuh orang terduga penjarah
diperiksa terkait kerusuhan bermula dari permintaan seorang perempuan
kepada seorang imam untuk mengecilkan pengeras suara mesjid, dalang dan
pelaku masih dicari.
Pembakaran-pembakaran itu mulai meletus Jumat (29/7) menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.00.
“Ada
enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun
kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan
bangunannya sendiri tidak terbakar habis,” kata juru bicara Kepolisian
daerah Sumatera Utara, Kombes Rina Sari Ginting kepada Ging Ginanjar
dari BBC Indonesia.

Ditanya mengapa massa bisa leluasa mengamuk dan seakan polisi
membiarkan, Rina Ginting menjawab, “Kami masih sedang mendalami, namun
tidak betul polisi membiarkan.”
“Saat itu sebetulnya sedang
berlangsung dialog, namun massa di luar bergerak sendiri. Mereka
bergerak cepat, kami berusaha meminta mereka untuk membubarkan diri dan
tidak melakukan kekerasan. Dan jumlah polisi sangat terbatas.”
“Kami
terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa
dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan
pidana,” tegasnya.
Adapun tujuh orang yang sudah ‘diamankan’ dan
masih diinterogasi, terkait dugaan penjarahan saat kejadian, bukan pada
tindakan perusakan dan pembakaran.

Image copyright
ALAM ZHU FACEBOOK l ANTO

Image caption

Polisi disebutkan sempat berhasil meminta massa
bubar, namun warga kembali beberapa waktu kemudian diduga karena seruan
di media sosial.

Ditambahkannya, amukan orang-orang yang sebagian
adalah anak muda itu berlangsung beberapa jam, dan mulai membubarkan
diri sekitar pukul 04.30.
“Namun bakar-bakarannya sendiri, tak
berlangsung lama, karena yang dibakar adalah barang-barang
persembahyangan. Misalnya dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, patung
Budha, gong., dan perabotan seperti meja, kursi, lampu, lampion.
Bangunan-bangunannya sendiri, terbakar sedikit.”

Bermula dari volume pengeras suara mesjid

Disebutkannya,
ketegangan bermula menjelang shalat Isya, setelah Meliana, seorang
perempuan Tionghoa berusia 41 tahun yang meminta agar pengurus mesjid Al
Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya.
Sesudah
shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid
mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana
dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.

Namun suasana memanas, Meliana dan suaminya kemudian ‘diamankan’ ke Polsek Tanjung Balai Selatan.
“Di
kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala
Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI, dan Ketua FPI setempat,” kata
Rina Ginting. Ia mengaku belum tahu, mengapa FPI dilibatkan.
“Tapi
di luar, massa mulai banyak berkumpul, dengan banyak mahasiswa, mereka
melakukan pula orasi-orasi. Tapi kami bisa menghimbah mereka dan mereka
pun membubarkan diri.’

Namun katanya, dua jam kemudian massa berkumpul lagi, kemungkinan akibat pesan di media sosial.
Mereka
lalu mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah
oleh warga sekitar. Sesudah itu, massa yang semakin banyak dan semakin
panas bergerak menuju Vihara Juanda yg berjarak sekitar 500 meter dan
berupaya utk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung
Balau. massa yang marah lalu melempar vihara itu dengan batu.
“Lalu
massa bergerak ke tempt lain, yang ternyata melakukan pembakaran di
beberapa vihara dan kelenteng, yang jaraknya berdekatan” papar Rina
Ginting pula.
Disebutkannya tercatat pembakaran dan perusakan
terjadi pada setidaknya enam vihara dan sejumlah kelenteng dan beberapa
bangunan lain, serta sejumlah kendaraan.[BBC]

Comment

Rekomendasi Berita