by

Di Balik Kesuksesan Orang Besar, Ada Amal Ibadah yang Mempesona

Ilustrasi:sona/radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Albert Enstein, siapa yang tidak mengenal sosoknya dengan rumus e = mc2.
Wajahnya menjadi lambang kejeniusan. Namanya pun digunakan menjadi nama
unsur kimia, Enstenium yang termasuk nama sebuah asteroid. Michael H.
Hart dalam penelitiannya meletakkan ia dalam jajaran orang paling
berpengaruh di nomor 10.
Kalau kita lihat, kebanyakan orang yang
berada di jajaran atas Enstein, menurut Michael H. Hart adalah
orang-orang yang meletakkan spiritualitas sebagai dasar kehidupannya,
yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa AS, Budha, Confucius. Artinya orang
yang mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai spiritual punya pengaruh
lebih besar dibandingkan orang-orang yang mendasarkan hidupnya pada
nilai-nilai intelektual.
Ketika
B.J. Habibie berpidato di Kairo, beliau berpesan “Saya diberikan
kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat
terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk
umat Islam. Kalau saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan
memilih ilmu agama.”
Warren Buffet terkenal di tahun 2010 yang
lalu karena berhasil mengalahkan Bill Gates yang sudah 10 tahun menjadi
orang terkaya di dunia. Tidak banyak orang yang tahu, 2 tahun sebelum
Warren Buffet menjadi orang terkaya, ia menyumbangkan 80 persen
kekayaannya untuk sosial, sekitar 300 triliun atau setengah APBN kita
pada saat itu. Ada sosok yang lebih hebat lagi, yaitu Abu Bakar
As-Shidiq di mana ia menyerahkan 100 persen hartanya untuk agamanya. Apa
yang bisa dipelajari dari orang-orang ini? Bahwasanya orang yang
mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan bukan hanya punya
pengaruh lebih besar, tapi juga rela berkorban lebih besar.
Pada
tahun 29 Mei 1993, Edmund Hillary berhasil menjadi orang pertama yang
menaklukkan gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, 29.000 kaki di
atas permukaan laut. Tidak banyak yang tahu dia bersama seorang pemandu
bernama Tenzing Norgay, pemandu yang namanya tidak dikenal sejarah.
Padahal pemandu selalu di depan, ketika ditanya, Anda kan seorang
pemandu, tentunya Anda berada di depan, bukankah seharusnya Anda menjadi
orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?
Apa jawabannya, “Ya benar, pada saat tinggal satu langkah mencapai
puncak, saya persilahkan Edmund Hillary untuk menjejakkan kakinya dan
menjadi orang pertama di dunia yang menaklukkan puncak gunung tertinggi
di dunia.” Lalu kembali ia ditanya, “Mengapa anda lakukan itu?” ia
menjawab, “Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya,
impian saya  hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih
impiannya.” Bagi saya, Tenzing Norgay telah mengajarkan kita hakikat
dari sebuah ketulusan, pengorbanan, dan kebaikan.
 
 
“Periksa diri jika cita belum tertuai, jangan-jangan badan kita belum pantas disinggahi kemuliaan.”

(dr. Gamal Albinsaid) 

 
Orang
yang membuat mata kita basah, “Kok ada orang sebaik ini? Kok ada orang
sehebat ini?” adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang sebenarnya
kita pun bisa melakukannya. Persoalannya ini ternyata bukan tentang
kemampuan, melainkan tentang kemauan, ini tentang kesediaan.
Selama
2 tahun terakhir, setiap saya bertemu orang-orang besar, saya selalu
minta nasihat kepada mereka, saya tarik satu benang merah dari
nasihat-nasihat mereka, “Di balik kesuksesan orang-orang besar,
senantiasa ada amal ibadah yang mempesona.”[vem]

Comment

Rekomendasi Berita