by

Gulen Bantah Dalang di Balik Kudeta Turki

Fethullah Gulen, Ulama Turki
RADARINDONESIANEWS.COM, PENSYLVANIA – Ulama Turki yang mengasingkan diri di Pennsylvania, Amerika Serikat, menjadi bidikan Presiden Turki atas upaya kudeta militer yang gagal pada negara itu di akhir pekan lalu, namun Ulama yang menyebarkan ajarannya tentang Hizmet (pelayanan terhadap umat manusia), menolak segenap tuduhan terhadap dirinya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan jika percobaan mendepaknya dari kursi kekuasaan merupakan aksi pengkhianatan terhadap negara dan mereka yang terlibat akan mendapat balasan setimpal.

Sejurus dengan itu, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan jika 2.839 personel militer telah ditahan serta adanya penangkapan terhadap 2.745 hakim dan jaksa oleh pihak berwenang Turki.

Pemerintah Turki pun sedang melancarkan tindakan keras terhadap orang-orang yang dicurigai, yakni pengikut Muhammed Fethullah Gulen, seorang ulama yang menetap di Amerika Serikat, diklaim Erdogan merupkan pihak yang berada dibalik percobaan kudeta terhadap kepemimpinannya.

Erdogan pun menuntut mengekstradisikan Gulen dari Amerika ketika berbicara di depan umum di Istanbul, Erdogan menyerukan jika Barack Obama untuk menangkap Gulen dan mendeportasi dia ke Turki. “Saya mengatakan jika kita adalah mitra strategis maka Anda harus membawa tentang permintaan kami. Gulen berupaya membangun sebuah “struktur paralel” di kalangan lembaga peradilan dan militer untuk mencoba menggulingkan pemerintahan,” ucap Erdogan.

Terkait hal itu, menurut Menteri Luar Negeri AS, John Kerry yang berbicara kepada wartawan di Luxembourg mengatakan jika tidak ada permintaan ekstradisi resmi telah dibuat oleh Turki. “Kami sepenuhnya mengantisipasi bahwa akan ada pertanyaan yang diajukan tentang Mr Gulen,” katanya.

“Jelas kami akan mengundang pemerintah Turki, seperti yang kita selalu lakukan, untuk menyajikan kita dengan bukti yang sah dibawah pengawasan dan Amerika Serikat akan menerima itu dan melihat itu serta membuat penilaian tentang hal itu dengan tepat,” tambah Kerry.

Terkait tuduhannya itu, Gulen yang tinggal di Pennsylvania, membantah keterlibatannya dan menolak semua tuduhan bahwa ia dan pengikutnya berada di balik upaya kudeta pemerintahan Erdogan, bahkan dirinya menilai bisa saja kudeta itu diselenggarakan oleh pemerintahan itu sendiri.

“Pemberontakan oleh anggota militer negara itu bisa saja “diselenggarakan” oleh pemerintah itu sendiri. Saya tidak percaya bahwa dunia mempercayai tuduhan yang dibuat oleh Presiden Erdogan,” kata Gulen dalam sebuah wawancara yang singkat dengan sekelompok kecil wartawan di kediamannya di Saylorsburg, Pennsylvania dikutip dari di theguardian.

“Ada kemungkinan jika terselenggaranya kudeta itu bisa dimaksudkan untuk tuduhan lainnya yakni melawan diriku dan para pengikutku,” tambah ulama kharismatik yang kerap disapa Hocaefendi itu.

Gulen menyatakan jika dirinya menolak semua intervensi militer dan mengatakan ia telah secara pribadi menderita setelah kudeta tahun 1990-an. “Setelah kudeta militer di Turki, saya telah ditekan dan saya telah dipenjara. Saya telah mencoba dan menghadapi berbagai bentuk pelecehan. Sekarang bahwa Turki adalah pada jalur demokrasi, itu tidak bisa kembali,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah ia akan kembali ke Turki jika kudeta itu berhasil, Gulen mengatakan: “Sesungguhnya, Aku sangat rindu dengan tanah air. Tapi ada faktor lain yang lebih penting, yaitu kebebasan. Saya di sini, jauh dari masalah politik Turki dan aku hidup dengan kebebasan saya,” tutur pira yang dinobatkan sebagai orang nomor satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia versi Foreign Policy Magazine, Amerika Serikat tahun 2008 itu.

Disisi lain, Alp Aslandogan, selaku media penasihat Gulen dan direktur eksekutif Aliansi untuk Nilai-Nilai Bersama, kelompok gerakan Hizmet di Amerika, mengatakan keamanan pada “siaga tinggi” berikut ancaman kekerasan di media sosial.

Mengenai panggilan Erdogan untuk ekstradisi Gulen, Aslandogan mengatakan, “Posisi pemerintah AS selalu menyatakan bahwa jika ada bukti Mr Gulen melanggar hukum, mereka akan melihat ke dalamnya. Sejauh ini, pemerintah Turki belum menghasilkan apa-apa. Terima kasih Tuhan, ini adalah negara hukum, dan kita bergantung pada itu,” ucap Aslandogan.

Mengelaborasi pada gagasan bahwa Erdogan mungkin telah dipentaskan upaya kudeta, Aslandogan mengatakan peristiwa Jumat tidak cocok dengan pola kudeta sebelumnya. “Kudeta tampaknya tidak terencana. Sangat buruk dieksekusi dan segala sesuatu tampaknya akan bermain ke tangan Erdogan ini. Ada banyak tanda tanya besar tentang bagaimana (kudeta ini-RED) dieksekusi,” tambahnya.

Sementara itu pendukung Gulen lainnya menyayangkan atas tuduhan terhadap pemimpinnya. “Ini adalah konspirasi biasa terhadap Gulen,” kata Harun Gultki, yang merupakan relawan di pusat dan tinggal di kota terdekat.[Hanter]

Comment

Rekomendasi Berita