by

Habiburokhman: “Girik Asli Yang Merupakan Syarat Utama Sertifikasi Ada Pada Klien Kami”

Lahan Cengkareng yang menimbulkan kegaduhan. (Dok.metro).

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Habiburokhman S.H.,M.H yang merupakan kuasa hukum dari
Budiono Tan, seorang pengusaha yang terikat Perjanjian Pengikatan Jual
Beli (PPJB) dengan Tuti NZ Soekarno terkait dengan objek lahan
Cengkareng yang kini fenomena dan heboh dikarenakan lahan tersebut diduga merupakan aset
milik Pemprov DKI Jakarta. Habiburokhman  memberikan penjelasan mengenai
permasalahan lahan cengkareng itu, Jumat (1/7).

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menurut kuasa hukum Budiono Tan bahwa pada
tanggal 27 Agustus 2008 Ahli Waris Koen Soekarno Soegono yaitu Toety NZ
Soekarno, Santy Junitha Soekarno, Rizky Primajaya Soekarno, Lucky
Ramadhanty Soekarno, Danu Zaenudin Soekarno menandatangani Perjanjian
Pengikatan Jual Beli (PPJB) lahan seluas 11,8 hektar (ha) di daerah Kampung Rawa Bengkel, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng,
wilayah administratif Jakarta Barat dengan orang suruhan klien kuasa
hukumnya yang bernama Matroji.
“Ketika itu surat yang dimiliki keluarga Totey NZ Soekarno masih berupa girik asli,” ungkapnya menjelaskan.
Di dalam PPJB 27 Agustus 2008 tersebut, klien Habiburokhman
telah diberikan kuasa untuk mengurus surat-surat tersebut guna
mengukuhkan bukti-bukti kepemilikan, “Guna mengurus sertifikasi tanah
tersebut seluruh girik asli tanah tersebut diserahkan ketika itu,”
sambungnya lagi menyampaikan.
Menurut
kesepakatan yang disepakati dalam PPJB 27 Agustus 2008, menurut
keterangan dari pihak klien Habiburokhman, kalau harga tanah adalah Rp
300.000/meter dan pembayaran dilakukan secara bertahap hingga proses
sertifikasi selesai.”Jadi total nilai keseluruhan lahan dalam kondisi
apa adanya adalah sekitar  Rp 35,4 Milliar,” jelasnya.
“Hingga
3 Juni 2011 klien kami telah membayar Rp 1,7 milliar, namun karena
anggapan pembayarannya lambat. Pihak Toety NZ Soekarno nampak terkesan
secara sepihak mencoba mengakhiri PPJB 27 Agustus 2008 tersebut dan
meminta seluruh dokumen girik asli yang dikuasai klien kami secara sah,”
paparnya lagi.
Kemudian Habiburokhman berkata
lagi dengan melanjutkan penjelasannya bahwa agar pihak Toey NZ Soekarno
melunak, maka itu klien kami telah menambahkan pembayaran lagi senilai
Rp 750 juta pada tahun 2011,” terangnya.
Kemudian pada tahun 2011 itu ada pihak yang diduga terafiliasi
dengan Toety NZ Soekarno melaporkan.” Dimana isi laporannya berisi kalau
orang suruhan klien kami (Matroji) telah melakukan penggelapan dokumen
girik lahan Cengkareng tersebut,” ujarnya.
Selanjutnya,
hingga pada bulan agustus tahun 2015 dokumen girik asli masih ada pada
kliennya Habiburokhman itu lalu kemudian disita Polres Jakarta Barat
terkait laporan kepada Matroji tersebut. 
“Terlepas
dari apakah lahan tersebut memang milik Ny Toety NZ Soekarno atau
bukan, yang jelas seharusnya sampai tahun 2015 tidak mungkin bisa terbit
sertifikat atas lahan tersebut karena dokumen girik asli yang merupakan
syarat utama sertifikasi ada pada klien kami, ” jelasnya lagi.
“Kami
sangat kaget ketika mengetahui dari media massa bahwa terhadap lahan
tersebut sudah terbit sertifikat pada 8 Juli 2010 dan 8 Juli 2011 dan
bahkan sudah dijual ke Pemprov DKI dengan harga yang sangat fantastis Rp
668 Milliar sangat jauh dari harga klien kami yang hanya Rp 35,4
milliar. Kami berharap hak-hak klien kami terkait PPJB 27 Agustus 2008
tersebut dapat dipulihkan,” tutupnya menyampaikan.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita