by

Para Dokter dan Ilmuan Membantah Vaksinasi

ilustrasi:pojoksatu
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apakah vaksinasi itu? Vaksinasi telah menjadi tulang
punggung kesehatan masyarakat sejak dulu. Apabila penyakit berjangkit,
vaksinasi muncul dalam benak kita. Ia adalah suntikan kesehatan yang
dianggap dokter (bahkan lembaga kesehatan negara) sangat penting sebagai
pelindung dari serangan penyakit.



Tujuan Vaksinasi
adalah meniru proses penularan penyakit alami dengan kaidah tiruan.
Vaksin itu sendiri adalah suntikan yang mengandung berbagai jenis racun
yang dimasukan kedalam tubuh. Jika anda menyangka vaksin dapat membasmi
kuman atau bebas dari kuman, dugaan anda meleset.



Cara Membuat Vaksin


Vaksin
dihasilkan dari kuman (atau bagian dari tubuh kuman) yang menyebabkan
penyakit. Sebagai contoh vaksin campak dihasilkan dari virus campak,
vaksin polio dihasilkan dari virus polio, vaksin cacar dihasilkan dari
virus cacar, dll. Perbedaanya terletak pada cara pembuatan vaksin
tersebut.




Terdapat 2 jenis vaksin, hidup dan mati.
Untuk membuat vaksin hidup, virus hidup dilemahkan dengan melepaskan
virus kedalam tisu organ dan darah binatang (seperti ginjal monyet dan
anjing, embrio anak ayam, protein telur ayam dan bebek, serum janin
sapi, otak kelinci, darah babi atau kuda dan nanah cacar sapi) beberapa
kali (dengan proses bertahap) hingga kurang lebih 50 kali untuk
mengurangi potensinya. Sebagai contoh virus campak dilepaskan kedalam
embrio anak ayam, virus polio menggunakan ginjal monyet, dan virus
Rubela menggunakan sel-sel diploid manusia (bagian tubuh janin yang
digugurkan). Sedangkan vaksin yang mati dilemahkan dengan pemanasan,
radiasi atau reaksi kimia.




Kuman yang lemah ini
kemudian dikuatkan dengan Adjuvan (perangsang anti bodi) dan
stabilisator (sebagai pengawet untuk mempertahankan khasiat vaksin
selama disimpan). Hal ini dilakukan dengan menambah obat, antibiotik dan
bahan kimia beracun kedalam campuran tersebut seperti: neomycin,
streptomycin, natrium klorida, natrium hidroksida, alumunium hidroksida,
alumunium fospat, sorbitol, gelatin hasil hidrolisis, formaldehid,
formalin, monosodium glutamat, pewarna merah fenol, fenoksietanol (anti
beku), kalium difospat, hidrolysate kasein pankreas babi, sorbitol dan
thimerosal (raksa). (Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit
(CDC) AS juga menurut Psician’s Desk Reference).




Campuran
virus atau bakteri, bahan kimia beracun dan bagian tubuh binatang yang
berpenyakit inilah yang disuntikan kedalam tubuh anak atau orang dewasa
ketika mendapatkan vaksinasi. Menurut CDC AS, bahan tambahan dicampurkan
ke dalam vaksin untuk meningkatkan reaksi imun, mencegah pencemaran
mikroba dan memperkuat formula vaksin, serta untuk memastikan vaksin
tersebut stabil, bebas kuman dan aman. Namun benarkah anggapan ini?




Bagaimana Vaksin Dihasilkan?



Macam-macam vaksin:


– Vaksin DPT (Difteria, Pertusis dan Tetanus)
– Vaksin DtaP (Difteria, Tetanus, dan Acellular Pertusis)
– Vaksin MMR (Campak, Gondok dan Rubela)
– Vaksin Polio hidup oral (OPV)
– Vaksin Polio tidak aktif (IPV)
– Vaksin Hepatitis B
– Vaksin Hib
– Vaksin Varicellazostrer (Cacar Air)
– Vaksin Cacar


Dalam
buku The Consumer’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher,
pendiri dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan
untuk mencegah kerusakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui
pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :

Vaksin
Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada
kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan
bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri
dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian
anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja.
Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk.
Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada
anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization:
The Reality Beyond the Myth)




Reaksi Tubuh Terhadap Vaksin


Apabila
ramuan vaksin tersebut memasuki aliran darah anak. Tubuhnya akan segera
bertindak untuk menyingkirkan racun tersebut melalui organ ekresi atau
melalui reaksi imun seperti demam, bengkak atau ruam pada kulit. Apabila
tubuh anak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, tubuh anak mungkin akan
berhasil menyingkirkan vaksin tersebut dan mencegahnya terjangkit
kembali dimasa yang akan datang. Akan tetapi jika tubuh anak tidak kuat
untuk meningkatkan reaksi imun, vaksin beracun akan bertahan dalam tisu
tubuh.




Timbunan racun ini dapat menyebabkan penyakit
seperti diabetes pada anak-anak, asma, penyakit neurologi, leukimia,
bahkan kematian mendadak. Ratusan laporan mencatat efek samping jangka
panjang yang buruk terkait vaksin seperti penyakit radang usus, autisme,
esenfalitis kronis, skelerosis multipel, artritis reumatoid dan
kangker. Sebagian vaksin juga diketahui menyebabkan efek samping jangka
pendek yang serius. Pada tanggal 12 Juli 2002, Reuters News Service
melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah
disuntik vaksin Ensefalitis di timur laut negeri Cina. Para pelajar itu
mengalami demam, lemas, muntah dan dalam beberapa kasus terkena serangan
jantung setelah divaksinasi.



Kerusakan Tubuh Akibat Vaksin



Menurut analisa bebas dari data yang dikeluarkan Vaccine Adverse Event
Reporting System (VAERS) di AS, pada tahun 1996 terdapat 872 peristiwa
buruk yang dilaporkan kepada VAERS, melibatkan anak-anak dibawah 14
tahun yang disuntik vaksin Hepatitis B. Anak-anak tersebut dibawa ke
ruang gawat darurat rumah sakit karena mengalami masalah kesehatan yang
mengancam nyawa. Sebanyak 48 anak dilaporkan meninggal setelah
mendapatkan suntikan vaksin tersebut.

• Informasi kesehatan juga
dipenuhi contoh yang mengaitkan vaksin dengan timbulnya penyakit. Vaksin
telah dikaitkan dengan kerusakan otak, IQ rendah, gangguan konsentrasi,
kemampuan belajar kurang, autisme, neurologi.

• Vaksin gondok dan
campak yang diberikan pada anak-anak misalnya telah menyebabkan
kerusakan otak, kanker, diabetes, leukimia, hingga kematian (sindrom
kematian bayi mendadak).

• Kajian tahun 1992 yang diterbitkan
dalam The American Journal of Epidemiology menunjukan tingkat kematian
anak-anak meningkat hingga 8 kali pada jangka waktu 3 hari setelah
mendapat suntikan vaksin DPT.

• Kajian awal oleh CDC AS mendapati
anak yang menerima vaksin Hib berisiko 5 kali lebih mudah mengidap
penyakit tersebut dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin
tersebut.

 
• Pada tahun 1977, Dr Jonas Salk (Penemu vaksin Polio
salk) mengeluarkan pernyataan bersama ilmuan lain bahwa 87% dari kasus
Polio yang terjadi sejak tahun 1970 adalah akibat dari vaksin Polio.


Di AS sebelum tahun 1980 terdapat 1 dari 10.000 anak menderita autisme.
Pada tahun 2002 Institut Kesehatan Negeri AS mencatat peningkatan angka
tersebut menjadi 250 dari 10.000. Kini persatuan orang tua penderita
autisme Amerika memperkirakan peningkatan kasus autisme ± 10% per tahun.
Vaksin yang mengandung raksa diyakini sebagai penyebabnya.


Menurut Boyd Haley, pengurus program kimia Universitas Kentucky dan
pakar logam beracun ”Thimerosal mampu meresap diprotein otak, ia sangat
beracun bagi syaraf dan enzim” Haley pun terlibat dalam penelitian pada
bulan Agustus tahun 2003, mendapati banyaknya kandungan raksa pada
penderita autisme, yang dapat dianalisa melalui kadar raksa pada rambut
mereka yang berarti etil raksa dari thimerosal telah meresap kedalam
otak dan organ tubuh lainnya sangat bepotensi menyebabkan kerusakan
sistem syaraf dan mengganggu fungsi ginjal.

• Menurut San Jose
Mercury News (6 Juli 2002), seorang dari sepuluh anak-anak dan remaja AS
mengalami kelemahan fisik dan mental, menurut pengamatan tahun 2000
terdapat pertambahan mendadak angka kecacatan pada penduduk usia muda.
Sedangkan pada tahun sebelumnya data menunjukan peningkatan kecacatan
pada anak-anak.

• Sampai usia 2 tahun, anak-anak Amerika
dilaporkan telah menerima 237 mikrogram raksa melalui vaksin. Kadar ini
melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Perlindungan Alam AS
yaitu 1/10 mikrogram per hari.

• Sebuah penemuan di Amerika
menunjukan bahwa vaksin Hepatitis B mengandung 12 mcg raksa (30 kali
lipat dari ambang batas), DtaP dan Hib mengandung 50 mcg raksa (60 kali
lipat dari ambang batas) dan Polio mengandung 62,5 mcg raksa (78 kali
lipat dari ambang batas).

• Di AS hari ini kasus asma, diabetes
dan penyakit auto imun pada usia anak telah meningkat 20 kali lipat dari
tahun sebelumnya. Gangguan konsentrasi telah meningkat 3 kali lipat.


Setiap tahun 25.000 bayi Amerika mengalami kematian mendadak. Vaksinasi
adalah penyebab terbesar kematian mendadak. Jepang telah meningkatkan
usia penerima vaksin sehingga 2 tahun kemudian angka kematian mendadak
turun drastis di negara itu (Cherry, et al, 198

)
• Swedia
menghentikan vaksinasi batuk rejan pada tahun 1979 karena ternyata wabah
penyakit ini terjadi pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi.
Setelah itu penyakit ini menjadi penyakit ringan tanpa kasus kematian.
Hal ini secara nyata menunjukan bahwa vaksin sebenarnya menyebarkan
penyakit.

• Pada tahun 1975, Jerman menghentikan kewajiban vaksin
Pertussis, dan jumlah anak yang mengalami penyakit itu turun drastis.
Pada tahun 2000 jumlahnya turun sampai 10%.



Bukti
diatas menjadikan vaksinasi layak dipertanyakan. Fakta-fakta menjelaskan
bahwa vaksin tidak meningkatkan kesehatan anak-anak. Tetapi anehnya
vaksin terus-menerus dibuat dan diwajibkan kepada masyarakat.



Sarat Dengan Kimia Beracun


Dapat
dikatakan semua jenis vaksin mengandung racun. Dalam banyak keadaan
bahan tambahan vaksin (penguat, penetral, pengawet dan agen pembawa)
jauh lebih beracun daripada komponen virus atau bakteri dalam vaksin
tersebut. Misalnya agen penyebab kanker yaitu formaldehid dan thimerosal
dapat merusak otak. Tidak ada orang tua yang berpikir untuk memberi
makan anaknya dengan formaldehid (pengawet mayat), raksa atau alumunium
fospat. Akan tetapi dengan suntikan vaksin bahan-bahan ini masuk
langsung ke dalam aliran darah.




Berikut adalah
informasi mengenai resiko kesehatan yang ditimbulkan oleh sebagian bahan
beracun utama dalam vaksin, yang disusun dari berbagai sumber termasuk
dari Persatuan Pemerhati Vaksin Australia:



• Alumunium:
dapat meracuni darah, syaraf,pernapasan, mengganggu sistem imun dan
syaraf seumur hidup. Dinyatakan sebagai penyebab kerusakan otak, hilang
ingatan sementara, kejang dan koma. (Catatan: dalam jumlah sedikit tidak
beracun dan mungkin bermanfaat bagi tubuh. Namun kadarnya dalam vaksin
amat tinggi, sekitar 0,5%)

• Ammonium Sulfat: diduga dapat meracuni sistem pencernaan, hati, syaraf dan sistem pernapasan.

Ampotericin B: Sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit
jamur. Efek samping nya adalah menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel
darah merah menjadi tidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan dan demam
dan alergi pada kulit.

 
• Beta-Propiolactone: diketahui menyebabkan
kanker, meracuni sistem pencernaan, hati, sistem pernafasan, kulit dan
organ genital.

• Kasein: perekat yang kuat, sering digunakan untuk
melekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, didalam
tubuh kasein dinggap protein asing yang beracun.

• Formaldehid: penyebab kanker. Zat ini lebih berbahaya dibanding sebagian bahan kimia lain.

Formalin: Salah satu turunan dari formaldehid. Formalin adalah campuran
37%-40% formaldehid, air dan biasanya 10% metanol. Formalin menempati
peringkat ke 5 dari 12 bahan kimia yang paling berbahaya.(Enviromental
Defense Fund, AS)

• Monosodium Glutamat (MSG): bagi orang yang
alergi pada MSG mungkin akan mengalami perasaan seperti terbakar
dibelakang leher, lengan dan punggung atau mengalami sakit dada, sakit
kepala, lesu, denyut jantung cepat dan kesulitan bernafas. Menurut Badan
Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, suntikan glutamate dalam hewan
percobaan menyebabkan kerusakan sel syaraf otak.

• Neomycin: antibiotik ini mengganggu penyerapan vitamin B6. Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan epilepsi dan cacat mental.

Fenol: digunakan dalam pembuatan disinfektan, pewarna, industri
farmasi, pelastik dan bahan pengawet. Fenol dapat menyebabkan keracunan
sistemik, kelemahan, berkeringat, sakit kepala, muntah-muntah, gangguan
mental, syok, hipersensitif, kerusakan ginjal, kejang, gagal jantung
atau ginjal dan kematian.

• Fenoksi Etanol (anti beku): menimbulkan bau badan tidak sedap, kerusakan pencernaan, kebutaan, koma dan kematian.
• Polysorbate 20 dan Polysorbate 80: bahan yang meracuni kulit atau organ genital.
 
• Sorbitol: menyebabkan kerusakan system usus.

Thimerosal: merupakan unsure ke 2 yang paling beracun kepada manusia
setelah uranium. Dapat merusak otak dan sistem syaraf juga dapat
mengantarkan pada penyakit autoimun.




12 Hal Yang Harus Diperhatikan


1. Dokter tidak mampu menjamin keamanan dan efektifitas vaksin.
2. Keamanan vaksin belum diuji dengan benar.
3. Vaksinasi didasarkan pada prinsip yang tidak kokoh, sehingga dapat dipertanyakan.
4. Vaksin mungkin tercemar.
5. Efek samping jangka panjang yang serius.
6. Menimbulkan penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan.
7. Tidak dapat melindungi dari penyakit menular.
8. Vaksin berhubungan dengan wabah penyakit.
9. Vaksin tidak dapat dipercayai – vaksin tidak resisten terhadap penyakit tetapi resisten terhadap kesehatan.
10. Dokter dan profesional kesehatan jarang melaporkan efek buruk vaksin.
11. Dokter menolak vaksinasi.
12. Vaksinasi lebih mengutamakan keuntungan daripada mengobati.


Para Dokter dan Ilmuan Membantah Vaksinasi


•  Terdapat banyak bukti yang menunjukan imunisasi terhadap anak lebih
banyak merugikan dari pada manfaatnya.” (dr. J Anthony Morris, mantan
Ketua Pengawas Vaksin

•  Ancaman terbesar serangan penyakit
anak-anak datang dari usia pencegahan yang tidak efektif dan berbahaya
melalui imunisasi besar-besaran.” (dr. R. Mendelsohn, Penulis (How to
Raise A Healthy Child In Spite Of Your Doctor dan Profesor Pediatrik).

• Semua vaksinasi berfungsi mengubah tiga situasi darah kepada
ciri-ciri kanker dan leukemia…Vaksin DO dapat menyebabkan kanker dan
leukemia.” (Profesor L.C. Vincent, penggagas Bioelektronika).

• Data resmi menunjukan vaksinasi berskala besar di AS gagal memberikan
kemajuan yang signifikan dalam pencegahan penyakit yang seharusnya dapat
ia lindungi.” (dr. A. Sabin, pengembang vaksin Polio Oral, dalam
kuliahnya di hadapan dokter-dokter Italia di Piacenza, Italia, 7
Desember 1985).

 
•  Selain telah nyata banyak kasus kematian
akibat program ini, terdapat juga bahaya jangka panjang yang hampir
mustahil di ukur dengan pasti…Terdapat sejumlah bahaya dalam seluruh
prosedur vaksin yang seharusnya mencegah penggunaan yang terlalu banyak
atau tidak wajar.” (Sir Graham Wilson dalam The Hazards of
Immunization).

• Dengan mengesampingkan fakta bahwa vaksin
berpeluang besar tercemari virus binatang yang dapat menyebabkan
penyakit serius pada masa depan. Kita harus mempertimbangkan apakah ada
vaksin yang benar-benar berfungsi sebagaimana tujuan asalnya.” (dr. W.C.
Douglas dalam Cutting Edge, Mei 1990).

• Satu-satunya vaksin
yang aman adalah tidak menggunakannya sama sekali.” (dr. James A.
Shannon, Institut Kesehatan Nasional, AS)

• Vaksinasi adalah
produk kesalahan dan kebodohan yang tidak dirancang dengan baik. Ia
seharusnya tidak mendapatkan tempat dari sisi kebersihan maupun
kedokteran. Vaksinasi tidak ilmiah, keyakinan konyol yang membawa maut
dan mengakibatkan kesengsaraan yang berkepanjangan.” (Profesor Chas
Rauta, Universitas Perugia, Italia didalam New York Medical Journal,
Juli 1899).

• Imunisasi terhadap cacar lebih berbahaya dari pada penyakit itu sendiri.” (Profesor Ari Zuckerman, WHO).
• Tidak ada satupun vaksin yang telah dibuktikan keamanannya sebelum
diberikan kepada anak-anak.” (Pakar bedah umum, Leonard Scheele di
Konfrensi AMA, AS 1955).




Vaksin Bukan Penyelamat


“Ilmu
medis menerima pujian yang berlebihan bagi sebagian kemajuan dalam
bidang kesehatan. Banyak orang percaya keberhasilan dalam menangani
penyakit menular pada abad terakhir terjadi bersamaan dengan
diciptakannya imunisasi. Sebenarnya, Kusta, Tifoid, Tetanus, Difteria,
Batuk Rejan, dll telah menurun sebelum ditemukan vaksin untuknya – yaitu
merupakan hasil dari perbaikan sanitasi dan peningkatan kualitas
makanan serta air minum.”
 (Dr. Andrew Weil dalam Health and Healthy)
Sumber

Comment

Rekomendasi Berita