by

Sungguh Sadis Terjadi Lagi Dan Lagi “Pemerkosaan Berujung Pembunuhan”

RADARINDONESIANEWS.COM, TANGSEL – KH (16) alias Kus ditangkap polisi karena memerkosa, merampok, dan
melakukan pembunuhan secara terencana terhadap SW (14), siswi lulusan
SMP. Semua itu diawali dari cinta segitiga yang ia jalani bersama SW dan
Fit.

Minggu , KH memberikan pengakuan tentang kejahatan yang ia
lakukan terhadap SW. Pengakuan ini tentu saja sepihak dan kebenarannya
tak dijamin. Berikut pengakuannya:

Saya anak kedua dari tiga
bersaudara. Tahun lalu saya baru menamatkan SMP saya. Saya tidak bisa
melanjutkan sekolah saya karena tidak ada biaya. Ayah saya sudah tidak
bekerja lagi setelah kena stroke, sedangkan ibu saya hanya berdagang
sayur di Pasar Bukit, Pamulang (Tangerang Selatan).

Saya juga berjualan di pasar, jual ikan. Pemilik ikan bukan saya. Saya hanya membantu menjual dengan upah sehari Rp 35.000.

Saya
anak kedua dari tiga bersaudara. Saya membunuh SW karena saya ingin
mengambil hartanya. SW adalah pacar gelap saya, sedangkan pacar tetap
saya Fit.

Fit mengatakan, dia butuh uang muka Rp 700.000 untuk
membeli kredit sepeda motor. Saya menyanggupi membantu menyiapkan uang
muka kepadanya, meski saya tidak punya uang. Sebab, saya tidak mau
kehilangan dia. Saya sayang sama dia.

Fit masih sekolah di satu
SMK di kawasan Bumi Serpong Damai, sedangkan SW tidak lulus SMP. Saya
sudah dua tahun pacaran sama Fit. Tetapi sejak setahun lalu, saya mulai
berpacaran dengan SW.

Hubungan saya dengan SW akhirnya diketahui Fit. Hubungan saya dengan SW pun memburuk sebab dia tahu saya sudah punya pacar, Fit.

Hari
Sabtu , lewat telepon genggam, saya SMS-an sama korban, ngajak jalan.
Tapi dia menolak dan mengejek, “Elu kan udah punya cewek lain. Elu ajak
dia aja jalan”.

Hari Minggu , saya SMS dia (SW) lagi, ngajak
jalan. Tapi dia bilang, dia enggak bisa karena mau ke tempat saudaranya.
Kalau hari Senin  mungkin dia bisa.

Hari Senin, saya kembali
menghubungi dia. Dia menjemput saya dengan sepeda motor Mio-nya, di
depan Vila Dago. Setelah bertemu, saya yang mengemudi sepeda motor,
sedangkan dia membonceng. Saya ajak dia keliling-keliling. Di jalan, dia
ngajak saya berhubungan intim. Saya menolak karena saya puasa. Dia
bilang, saya masih kaku aja sih.

Meski saya tolak, dia masih
terus memaksa untuk berhubungan intim dengan saya. Oleh karena itu,
akhirnya saya bawa dia ke kebun kosong di Serua Permai. Saya lalu
berhenti, menyandarkan sepeda motor dan mendaki ke kebun kosong untuk
memeriksa.

Di atas, saya ketemu Adih. Adih bertanya, “Mau
ngapain?” Saya jawab, “Mau ambil daun singkong buat ibu”. Adih pun
pulang. Saya lalu kirim SMS ke HW untuk menyusul ke kebun. Saya bilang,
HP-mu simpan saja di bagasi sepeda motor. Kunci motornya tetap di sepeda
motor saja. Enggak bakal ada yang ambil.

Saat dia tiba, dia
melihat saya sedang memetik daun singkong. Dia tanya, “Buat apa?” Saya
jawab, “Buat dijual ibu”. Dia bertanya lagi, “Emang ibumu jualan sayur?”
Saya jawab, “Iya”. SW lalu saya ajak ke gubuk di kebun kosong ini.

Di
situ kami berhubungan intim. Saya lalu mencekik leher dia memakai
tangan kiri. Jari kanan saya, saya masukkan ke mulut agar dia tidak bisa
berteriak. Jari saya digigit, tapi dia jatuh. Saat itulah saya pukul
dia dengan batu bongkahan puing, mungkin sampai tujuh kali. Saya enggak
ingat lagi.

Setelah saya duga dia meninggal, dia saya seret ke
tempat tersembunyi. Jasadnya saya tutup dengan daun bambu dan daun
pisang. Setelah itu saya pulang. Waktu mau mengambil sepeda motor SW,
sepeda motor sudah tidak ada. Saya tidak tahu siapa yang mengambil, tapi
waktu saya mendaki kebun kosong, saya sempat melihat seseorang sedang
mencat rumah dekat pos. Waktu dia saya tanya apakah dia melihat sepeda
motor, dia bilang, “Tidak tahu”.

Keesokan harinya, saya datang
lagi ke situ, siapa tahu ada orang yang mengemudi sepeda motor SW, tapi
sepi. Tukang cat rumah pun tidak ada. Setelah kejadian ini, jantung saya
suka berdebar. Setiap hari saya was-was berpikir, satu hari polisi
bakal menangkap saya.

Setelah saya membunuh SW, saya bertemu Fit
keesokan harinya. Dia bertanya soal uang muka kredit sepeda motor yang
saya janjikan. Saya bilang, tidak punya. Fit kecewa, tapi dia bilang,
“Ya sudah, mungkin belum rezeki”.

Saya ditangkap, Jumat  pukul
07.15, di rumah di Pamulang II. Saya ditangkap sehabis mandi. Waktu itu,
kakak saya, Rio, bilang, ada orang nyariin saya. Saya sempat berpikir,
ini pasti polisi. Saya ke luar rumah dan bertemu Pak Jarono, polisi.
Tapi saat itu saya belum tahu kalau Pak Jarono polisi. Dia bilang, “Ayo,
Kus, ikut bapak. Kamu dicariin teman trek-trekanmu, si Ari”.

Saya
sama kakak saya waktu itu ketawa. Tak berapa lama saya baru sadar, saya
tidak punya teman trek-trekan bernama Ari. Saat saya sadar, kakak saya
bilang, “Udah kamu ikut aja. Pak Jarno polisi. Kamu enggak usah kabur,
ya”. Saya pun mengikuti apa kata kakak saya.[sumber]

Comment

Rekomendasi Berita