by

Djoko Santoso Didaulat Jadi Pemimpin Gerakan Indonesia Memilih (GIM)

Mantan Panglima TNI Djoko Santoso.[Nicholas]
RADARINDONESIANEWS.COM,
JAKARTA – Deklarasi Gerakan Indonesia memilih (GIM) digelar di Balai
Sidang Jakarta Convention Centre, Kamis (18/8), yang mana sebagai
pendiri / deklarator GIM yakni Djoko Santoso, Prijanto, Hatta Taliwang
dan Heppy Trenggono. Adapun Gerakan Indonesia Memilih merupakan gerakan
pencerahan dan penyadaran serta pencerdasan rakyat yang mempunyai hak
pilih, agar memilih pemimpin yang sesuai dengan nilai dan budaya bangsa
asli.
Latar
belakang gerakan tersebut untuk antisipasi ancaman masuknya paham
demokrasi liberal yang pernah terjadi pada masa tahun ’50an di bawah
payung konstitusi UUDS’50 yang nampak seolah terulang kembali. Salah
satu penyebab rusaknya sistem ketatanegaraan pasca amandemen UUD’45 ada
dalam tata cara memilih pemimpin bangsa/negara dengan proses musyawarah
mufakat mulai ditinggalkan. 
“Dasar
asumsinya adalah pemimpin yang lahir dianggap kurang bermutu atau
bermasalah. Mungkin ada kesalahan dalam memilih, maka itu pemilih mesti
kita buka kecerdasannya agar memilih pemimpin yang baik dan benar sesuai
menurut aturan moral dan nilai-nilai Pancasila,” Ujar Hatta Taliwang
yang hadir dalam kesempatan  deklarasi tersebut.
Taliwang
menambahkan pentingnya kembali kepada UUD45, karena dianggap ada yang
meleset dari yang dicita-citakan para pendiri bangsa dan negara.
Salah
satu tujuan Gerakan Indonesia Memilih lanjut Taliwang adalah
mencerahkan masyarakat untuk membantu membangkitkan pemikiran dasar,
dimana pemimpin yang baik paham dan mengerti Pancasila. Rakyat memiliki
takaran, filter dan standard tertentu untuk memilih pemimpin.
Djoko
Santoso, mantan Panglima TNI pada masa Pemerintahan SBY memberikan
apresiasi atas terselenggaranya Gerakan Indonesia Memilih dan besar hati
dengan kehadiran aktivis juga perwakilan ormas.
“Semua
perubahan berawal dari pemimpin, maka itulah di sini berupaya membuka
mata rakyat, mencerahkan, dan mencerdaskan rakyat yang memiliki hak
pilih. Agar jangan sampai Indonesia yang merupakan negara demokrasi
terbesar ketiga, namun terkontaminasi dan masih mengenal ‘wanipiro’,
bahkan satu desa dimana membuka dan dijuluki ‘di tempat ini menerima
serangan fajar’, ” Ungkap mantan jenderal ini.
Djoko
Santoso yang diusung sebagai pemimpin GIM itu menghimbau agar dalam hal
memilih pemimpin untuk bangsa dan negara degan syarat religius,
patriotik rela berkorban demi rakyat, adil, jujur, berbudaya, beradab,
dan manusiawi.
“Ucapan,
perilaku, harus sesuai dengan yang tertanam di dalam dirinya. Pemimpin
yang sesuai dengan nilai Pancasilais, inilah gerakan yang diharapkan
kedepan,” jelasnya.[]

Comment

Rekomendasi Berita