by

Ingatlah Bersikap, Karena Saat Sang Ajal Datang, Kita Harus Siap

Foto: copyright pixabay.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Sekuat dan sejauh apapun kita mengejar hidup, (pada akhirnya) pemenang sejati hanyalah KEMATIAN.”

Benarkah
demikian yang namanya kematian, seperti yang tertulis pada kutipan
sebuah status Facebook di atas? Hmm … sangat mengundang perdebatan.
Namun jika diandaikan sebuah perlombaan atau pertarungan antara hidup
dan mati, beberapa waktu yang lalu, setidaknya kematian telah
‘memenangkan’ lomba ketahanan dalam menanti kepastian.

Dari
belasan orang yang dijadwalkan menerima eksekusi hukuman mati, empat
orang telah terlebih dahulu menjemput ajal di ‘tiang gantungan’.
Perjuangan memohon pengampunan, usaha untuk meminta keringanan hukuman
dan doa – doa serta harapan yang bertahun – tahun dipanjatkan, tak
membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Keinginan untuk tetap hidup
dan mengelak dari kematian. Kematian yang menjemput mereka seiring
dengan bunyi ‘menyalak’ senapan ‘para algojo’ yang melontarkan peluru
panas menembus badan. Nyawapun melayang. Konsekuensi atas kejahatan yang
dilakukan dan telah dibuktikan di depan pengadilan. Tak ada ampunan,
tak ada keringanan, mereka menjadi ‘The Unforgiven’ yang layak menerima
pembalasan.

Di beberapa sudut, baik di sekitar lokasi pelaksanaan
hukuman mati, maupun di tempat – tempat lain yang jauh, para penentang
hukuman mati berteriak lantang menyampaikan protes atas eksekusi mati.
Dalih mereka adalah rasa perikemanusiaan, perikeadilan dan hak azasi.
Hukuman mati bagi mereka adalah bukan untuk manusia, hanya untuk
binatang yang akan dikonsumsi. Hukuman mati adalah bentuk lain
kesewenang – wenangan dan kekejaman manusia di muka bumi. Sambil
berkumpul mereka membawa lilin, bunga dan menyanyikan lagu yang menyayat
hati. Walau akhirnya eksekusi tetap dilakukan dan empat jiwa menjadi
mati.

Kontroversi menyeruak antara pihak yang pro hukuman mati
dan yang menolaknya. Masing – masing memiliki argumentasi, alasan dan
dasar pemikiran yang yang berbeda – beda. Jika didiskusikan di atas satu
meja, nampaknya akan menjadi ‘debat kusir’ berkepanjangan bikin pusing
kepala, bahkan berujung konflik yang rumit.  Akan timbul konflik,
permusuhan dan tindakan saling membalas.

Berapakah harga nyawa manusia? Semahal apakah nilai sebuah jiwa? Seorang alim pernah berkata: “Pembunuhan
atas seorang manusia, seperti pembunuhan terhadap seluruh manusia di
muka bumi. Penyelamatan satu jiwa, seperti penyelamatan seluruh jiwa
manusia di dunia.”
Namun ada juga ungkapan tradisional yang telah lama ada, “Eye for an eye” dan bukan “utang gethuk, nyaur télo”
atau hutang kue, dibayar dengan ketela. Masih banyak lagi kutipan,
peribahasa dan bahkan nukilan dari kitab suci yang menerangkan tentang
nilai sejati nyawa manusia bagi manusia lainnya.

Sumber-sumber
pemikiran inilah yang akhirnya menjadi dasar penyusunan hukum manusia di
dunia. Kemudian hari, hukum ini justru mengundang menjadi pro dan
kontra pada saat pelaksanaannya. Itulah yang sedang terjadi beberapa
hari belakangan ini, setelah hukuman mati para gembong narkoba
dikabarkan secara besar – besaran oleh media.

Tak hendak ikut
berpolemik tentang hukuman mati bagi seorang manusia, apalagi sampai
harus berdebat kusir. Saya hanya ingin mengutip kalimat salah satu dari
empat penerima hukuman mati beberapa saat lalu, yakni mendiang Freddy
Budiman, dalam kutipan di salah satu media.


 
 
“Saya menerima hukuman ini, karena (sejak awal) saya sudah tahu dan memahami resiko dan konsekuensinya.” 
 

Hukum
sebab dan akibat, aksi dan reaksi dalam tindakan dan konsekuensinya
adalah satu paket tak terpisahkan sejak awal kehidupan manusia. Walaupun
pernyataan Freddy Budiman ini masih ada ‘tapi’nya dan diikuti kalimat –
kalimat berisi penjelasan, alasan, dalih dan juga kekecewaan, namun
semua hal inipun tak bisa mengelakkan dirinya dari konsekuensi yang
harus ditanggungnya. Karena dalih dan alasan suatu tindakan, setiap
orang berhak memilikinya. Namun jika sudah tiba saatnya, kematian adalah
salah satu wujud konsekuensi atas suatu tindakan. Kematian tak akan
mempedulikan dalih dan alasan apapun, karena kadang ‘dia’ datang begitu
saja.

Mari, jaga dan sayangi jiwa masing – masing dengan selalu
berhati – hati menjaga setiap tindakan kita. Sebelum kita harus
berhadapan dengan resiko dan konsekuensinya.[vem]

Comment

Rekomendasi Berita