by

MedcoEnergi Group Ambil Alih Kepemilikan Saham PT Newmont

Ferdinand Hutahaean selaku Direktur Eksekutif Energi
Watch Indonesia.[Nicholas]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – MedcoEnergi Group telah mengambil
alih kepemilikan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang mencapai 82,2%. Sebelumnya dikuasai oleh Nusa Tenggara
Partnership B.V (NTP), PT Multi Daerah Bersaing (PT MDB), dan PT
Indonesia Masbaga Investama, alhasil pemilik MedcoEnergi Group,
konglomerat Arifin Panigoro berhasil mewujudkan mimpinya atas
kepemilikan Newmont dalam aksi korporasi kali ini.
Nilai
nominal pembelian 82,2% saham Newmont mencapai angka 2,6 miliar US
Dollar. Hingga kini belum diketahui secara lengkap darimana saja sumber
pendanaan yang diperoleh MedcoEnergi Group untuk bisa melakukan akuisisi
perusahaan yang digawangi oleh pengusaha Arifin Panigoro, dengan
Muhammad Luthfi (Mantan Menteri Perdagangan) sebagai Komisaris Utama
Medco saat ini. 
 
Ferdinand Hutahaean selaku Direktur Eksekutif Energi
Watch Indonesia menyampaikan kalau Arifin Panigoro melakukan akuisisi
itu, ketika pemilik saham lama menyetujui tidak ada masalah.” Namun yang
jadi masalah dan polemik bagi kita adalah ‘sumber dana’ untuk
mengakuisi pinjaman tersebut, dimana menurut sumber dana pinjaman dari
China melalui 3 Bank, yakni BNI, MANDIRI, dan BRI,” imbuhnya  di kawasan Senayan, Jakarta. Rabu (18/8).
Perlu
diketahui bahwasanya sebagian pendanaan MedcoEnergi Group, terkait
upayanya membeli saham Newmont berasal dari kredit dari tiga bank BUMN,
dimana Bank Mandiri dengan besaran sokongan pinjaman 750 juta USDollar,
BRI menyokong pinjaman 150 juta US, dan BNI kucurkan pinjaman 260
juta US.  Nah, yang menjadi pertanyaan dan tanda tanya besar
adalah mengapa sumber dana itu digunakan oleh AP untuk mengakuisisi.
Itulah yang menjadi pertanyaan.
Soalnya, menurut Direktur Eksekutif
Energi Watch Indonesia bahwa apabila sumber dana yang dipakai, BUMN kita
dipakai kenapa harus diakuisisi? Kenapa bukan seperti ANTAM, Inalum
atau tambang yang lain yang masih merupakan BUMN, itu kan perusahaan
swasta,” ungkapnya penuh tanda tanya.
 
Direktur Eksekutif
Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean merasa
ada kejanggalan terkait pemberian fasilitas kredit kepada Medco,
yang diduga akan dipakai sebagai instrumen dana untuk mengakuisisi
mayoritas saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Apalagi, di dalam
struktur pemegang saham NNT saat ini terdapat salah satu perusahaan dari
Grup Bakrie yakni PT Multi Daerah Bersaing (MDB) yang menguasai di atas
kertas saham NNT sebesar 24%.
Ada anggapan
dimana bila bank BUMN terlibat pendanaan, mestinya yang harus memperoleh
sokongan adalah BUMN pertambangan, bukan swasta.“ Ini menjadi
kontroversi, kenapa harus perusahaan swasta yang mengakuisisi ini,
kenapa pak AP yang melakukan ini. Yang menggunakan dana BUMN. Ini tidak
tepat kalau penggunaan dananya dari BUMN, “ tuturnya menjelaskan.
Memang
ada yang beranggapan bahwa mengutamakan kesinergian
dengan sesama BUMN.“ Karena akan lebih elok kalau sumber dananya dari
luar, bukan dari BUMN kita. Alasan tidak tepat kalau menggunakan dana
dari BUMN namun menjadi tepat kalau menggunakan dana dari luar. Kalau
dari dalam yah itu kan sama saja seperti penyambung saja,” pungkasnya. [Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita